Eyang Harini Bambang yg sudah berusia 79 thn dan Bapak Irwansyah ketua RW 08 Petojo Utara, Jakarta Pusat, hari Minggu lalu datang ke RW sebelah untuk membagi pengalaman mereka di bidang lingkungan. Pak RW dikenal dengan program .MCK ++ .
Akhirnya bisa bertemu langsung dengan eyang Harini, wanita yang sangat inspiratif (terus terang aku tercekat terharu melihat beliau di usia lanjut masih aktif dan mampu menularkan pengetahuan dan pengalamnnya, mudah2an bisa meniru beliau, amin). Eyang Harini sukses menghijaukan kampung Banjarsari,Cilandak.
Beliau menerangkan cara pembuatan kompos dari sisa dapur.
Ada 3 cara, dengan cara alami, mikroorganisme cair, dan cacing lumbruicus.
Cara alami perlu waktu 2 bulan untuk merubah sampah organik menjadi kompos. Wadah bisa berupa pot dialasi dengan lapisan pasir/sekam/serbuk kayu, lapisan kedua sampah organik lembab, lalu tanah. Sampah di hari berikutnya bisa langsung diletakkan di atas tanah dan ditutup dengan tanah kembali. Demikian seterusnya.
Cara kedua hampir mirip hanya saja dipakai mikroorganisme untuk melembabkan sampah. Hasilnya kompos jadi dalam 2minggu dan tidak menimbulkan bau.
Di MCK++ atau dikenal juga dengan MCK komunal akhirnya banyak terkumpul biogas. Biogas ini kemudian dialirkan ke kompor, sehingga jadilah dapur komunal di mana warga bisa memasak kapan saja dengan iuran bulanan yang lebih murah dari harga tabung gas 3 kg.
Selain membagi pengalaman itu beliau juga mengajak ibu2 kader yang menunjukkan cara membuat berbagai barang seperti tas dari sisa bungkus kopi dan mi instan.
Yang menarik cara pembuatannya hanya dengan melipat kemudian dijalin dengan benang yang cukup tebal, tidak perlu mesin jahit sehingga siapapun dan kapanpun bisa membuatnya.
Sangat menarik pengalaman ini dan lega karena kepedulian terhadap lingkungan makin meluas dan program inipun atas inisiatif warga sendiri.
Go green…hijau indonesiaku, salut bisa memanfaatkan sampah menjadi bernilai…di bagi dong ilmunya…
aku juga udah mulai ngumpulin kemasan, ntar kl udah ketemu yg ngajarin, insya Allah disebarkan.udah liat demonya, tp blm dipraktekin krn kemasan masih sedikit
Salut buat ibu Harini Bambang.Saya sempat tertarik dengan pembuatan tas dari kemasan. Pertama kali lihat di festival go green di senayan tahun yang lalu, trus ngumpulin plastik2 sisa pemakaian. Tapi belum sempat ktemu pengajarnya…. malah sudah dibuang sama asisten di rumah… ada yang bisa ngajarin gak ya…