Dahulu sekali keluarga kami tinggal di sebuah kompleks perumahan dinas dengan lingkungan yang dipertahankan tetap berbukit-bukit di suatu kota kecil di Sumatera Utara. Rumah kami terletak di pojok di bagian yang agak menurun, dan dikelilingi oleh jurang kecil. Lahan perumahan ini adalah bekas perkebunan karet, masih ada sisa-sisa beberapa tanaman karet yang masih bergetah, getah karet ini kami buat jadi bola untuk main kasti. Caranya yaitu getah karet dioleskan di lengan, tunggu sampai kering dan digulung menjadi bola.
Di lingkungan yang masih mencirikan alam bebas ini permainan anak-anak di sana adalah permainan di luar rumah. Ada bermain perosotan kardus dan mencari buah jambu monyet di jurang, main tarzan di akar pohon, dan bersepeda berkeliling kompleks yang luas.
Ada pengalaman buruk yang sangat kuingat sekali yang berhubungan dengan sepeda. Saat itu aku berumur kira-kira 5 tahun. Aku dibonceng oleh mendiang kakak sepupuku , kak Atik, ke rumah sakit untuk cabut gigi. Aku didudukkan di boncengan sepeda ontel dengan kaki diikat sapu tangan supaya kaki tidak masuk ke jari-jari sepeda. Perjalanan menuju rumah sakit yang terletak di bukit yang lebih tinggi dari rumahku aman saja. Perjalanan pulanglah yang membawa masalah. Di tengan jalan menurun tiba-tiba rem sepeda putus, kakak tidak bisa menghentikan laju sepeda yang semakin kencang, aku ketakutan sambil memeluk pinggang kakak kuat sekali. Di tengah kepanikan kak Atik masih bisa membelokkan sepeda ke arah rumah, sepeda terus berputar tanpa kendali, rasanya lama sekali sampai akhirnya …..gubrak….sepeda menabrak pohon bunga salju dan kami berdua tergeletak di tanah, aku masih dalam keadaan terikat dan tertindih sepeda. Badan kami berdua penuh dengan baret.
Lama setelah kejadian itu aku masih belum berani belajar naik si kereta angin meskipun teman-teman seumurku sudah seliweran ring- ring gowes -gowes dan ayahku telah membelikan sepeda mini roda dua. Beraninya cuma mainin lonceng sepeda ontel kepunyaan orang Menggali (ucapan anak-anak untuk Bengali) pengantar susu.
Akhirnya di kelas 3 ayahku membawa sepeda miniku ke bengkel untuk memasangkan roda kecil tambahan supaya aku mau belajar. Mungkin jaman itu belum ada sepeda roda empat ya. Barulah setelahnya aku berani belajar. Sesudah bisa naik sepeda, aku seperti orang ketagihan, tiada hari tanpa sepeda, pulang sekolah langsung ambil sepeda dan berkeliling, dan selalu ngebut. Tidak terhitung berapa kali sudah aku jatuh dari sepeda, lututku sampai jarang lepas dari perban.
Artikel ini dibuat untuk meramaikan lomba Pengalaman mengesankan dalam bersepeda.

Hiks … sirik abis sama yang pada bisa nggowes sepeda,
diriku belajar siy udah tak terhitung berapa kalinya. Mulai dari kecil sampai udah gede, tetep disuruh belajar dan tetep engga bisa. Katanya siy krisis PEDE makanya engga bisa2, aneh juga kok ga bisa2 njaga keseimbangan sehingga jatuh terus. Dan akhirnya ya harus bisa menerima kenyataan klo ga akan bisa nggowes sepeda selamanya huaaaa
Ping-balik: Bunga Salju « Kisahku
Butuh sewa sepeda dalam jumlah banyak…
kami mempunyai banyak stcok sepeda untuk acara fun bike,car free day…
sepeda MTB,sepeda Lipat,sepeda Mini/santai
kunjungi
http://www.sewasepedadijakarta.com
thanks sebelumnya…
Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu
snangnyaa bersepedaaa… walo banyak yang bisa terjadi hihihi…
wah, pengalaman kita hampir sama ya Mbak, jatuh dr sepeda.

tetapi kayaknya memang gitu deh seninya bersepeda, pasti pakai jatuh ha ha
semoga beruntung ya Mbak Monda di acaranya Mas Isro.
salam.
salam kenal… sesama kontestan festival sepeda harus saling kenal, hehehe,.. salam sukses…
sedj
Ping-balik: Ini dia 59 Kontestan Sepeda dalam Pesta Kemeriahan Bersepeda di Humberqu « Rachmadwidodo's Weblog
Ping-balik: Kaget Ditunjuk Menjadi Juri « Leysbook's Blog
Atas permintaan Mas Isro, saya ijin menjemput artikelnya. Trims.
Salam hangat selalu
dipersilahkan, dengan senang hati
Ping-balik: Para Jawara Sepeda yang Hadir dalam Hamberqu « CITRO MADURA
Saya pernah jatuh dan nyaris ditabrak mobil….hehehe…dan nyaris oleh ayah dipindahkan SMP nya agar sekolah di SMP yang dekat rumah, agar kalau naik sepeda tak perlu melalui jalan besar.
Membaca kisah-nya mbak, nyaris meluruhkan butiran bening di kelopak mata yg perlahan memanas.
Mendiang – duduk diboncengan – ayahku …
ke 3 kata sederhana ini yg secara tak terduga memunculkan memory lama tentang ayah tercinta.
Herannya kenangan ini tidak muncul saat menulis artikel tentang sepeda, pada beberapa hari lalu.
Makasih ya mbak, setidaknya kisah mbak mampu menggali memory yg sempat terhilang. Salam kenal.
Terimakasih juga kunjungannya.
dinda, makasih, udah langsung datang ke rumahku, kutau dinda sibuk banget, senang berkenalan dgn teman baru, kreatif lagi, udah kuliat karya2nya
trims dinda komennya ttg postingku, sama..aku jg sangat dekat dgn alm ayah,
Ping-balik: 59 Peserta Bersepeda Masuk Bui « Batavusqu
seru..seru..:D, kalo mbak monda naek sepeda nanti ajak2 ya..
sayangnya sekarang udah nggak pernah naik sepeda lagi, nggak bisa ngajak2 deh
huaah,, ketemu saingan berat niy… hehehhh
bukan saingan ah, baru nyoba2 ikutan aja kok,
makasih ya udah mampir
@akhta & halaman putih : salam juga dan terima kasih sudi mampir
@ tuti nonka : ayo ibu ikut juga, atau mau jadi juri aja? kalau dinilai tulisanku dapat berapa bu?
@ yani : aku juga masih penasaran belum ketemu foto bunga salju, tekstur bunga dan daun mirip2 nusa indah tapi jauh lebih kecil dan berbulu, mungkin yani kenal dgn nama lain
@ sunflo : lagunya lucu sih jadi keinget aja
@ tary : wah, aku kebayang tary imut banget pake topi lebar plus bunga kuning, pake rok kembang2 dan kalung manik putih (ngayal deh..)
ada yang bilang katanya kalo mau belajar sepeda/motor kalo ngak jatuh ngak bakalan bisa.btw sepedanya masih ada ngak Mbak…
sepedanya udah jadi besi tua ngkali mbak
kring…kring….bunyi sepeda, sepedaku roda dua, ku dapat dari ayah karena rajin bekerja, heheheheh jadi inget waktu kecil aku punya sepeda mini yg ada keranjang bagian depannya, kalo naik sepeda pake topi ala film missy trus di taro bunga2 di keranjang depannya….heheheheh
doohh judulnya ngingetin aq ma lagu anak2 jadul.. ring2 gowes2 putar2 jakarta ancol monas, keliling kota… naik sepeda, aduh asyiknya bersepeda……
wah, 5 tahun dah ikut jatuh dr sepeda? ckck..
anak2 memang kreatif. btw pohon bunga salju..mm, yg mana ya? *lagi mikir*
btw, unik bikin bola kastinya mba monda
Habis dari blog Bundadon’tworry baca posting tentang naik sepeda, eh … di sini baca pengalaman naik sepeda lagi. Rupanya ada lomba menulis pengalaman naik sepeda to?
Selamat Kak Monda, sekarang masih suka naik sepeda?
Namanya belajar tentu mengalami jatuh bangun dan babak belur. Tapi dari situ kita justru terpacu untuk terus belajar sampai bisa. Saya pun pernah berkali2 terjatuh ketika belajar naik sepeda.
Semua orang pasti pernah jatuh dari sepeda. Ada nggak sih orang yang belum pernah jatuh dari sepeda?
Salam kenal, salam hangat selalu.