Pengumpan RSS

Sekeluarga di lampu merah

Posted on
Masih di perempatan lampu merah biasa di hari lain lagi sewaktu nunggu bis lagi…

Kali ini yang kuperhatikan sepasang anak SD pulang sekolah sore, dengan seragam putih yang masih baru. Mereka berdua menghampiri pojok perempatan, di sana telah menunggu seorang ibu dan balita. Anak-anak ini kemudian menukar baju dan sepatu sekolahnya dengan baju lainnya yang telah disiapkan ibu. Ibu memeriksa buku mereka, menanyakan peer, kemudian membungkus lagi tas, baju dan sepatu, lalu digantung di pohon.

Tak lama ayah datang, kakinya dibalut dan memakai tongkat.
Bergantian dengan ayah, kemudian kedua anak yang baru pulang sekolah itu menuju mobil-mobil yang berhenti di lampu merah dan mulai mengamen.
Ibu dan adik kecil hanya menunggu di bawah pohon dan ngobrol dengan ibu-ibu lainnya lagi.

Kisah ini pernah kutuliskan di tempat lain, kali ini sengaja kuulang lagi karena mendapat fakta baru.

Ternyata keluarga ini bukan hanya terdiri dari ayah ibu dan anak-anak. Ibu dan ayah ternyata adalah nenek dan kakek, sedangkan ibunya adalah seorang wanita muda dengan seorang batita di gendongannya. Beberapa hari lalu terlihat si ibu muda ini sudah hamil lagi, untuk ke empat kalinya dan keluarga ini masih tetap berada di lampu merah dari pagi sampai sore. Info ini kuketahui dari seorang rekan yang mencoba mengajak ibu muda tadi untuk berKB, suaminya selalu datang dan pergi sesukanya tanpa menghidupi keluarganya.

Foto lampu merah dari sini

»

  1. trims mbak jenie udah mampir
    mrk punya hp dan balitanya udah pake pampers…

    Balas
  2. buat mereka2 ini mengemis ya pekerjaan… :(
    tapi saya udah nggak bisa lagi berempati sama mereka, semenjak melihat banyak diantara mereka yang merokok laksana loko dan beberapa sibuk mainan HP waktu ngaso … duh!!

    Balas
  3. wew… serem nya.. realita kehidupan itu bu.. sedih dengan kurangnya kesadaran.. harus bagaimana ya kita?

    Balas
  4. suaminya selalu datang dan pergi sesukanya tanpa menghidupi keluarganya.

    Campur aduk kak Monda …
    antara kasihan dengan anak-anak itu
    dan geram akan kelakuan suami tak bertanggung jawab itu

    Salam saya Kak Monda …

    Balas
  5. Monda…betul Monda bilang sama Bibi Titi Teliti, karena melihat tiap hari empati saya juga suka hilang…
    Atau di mata saya kesannya mereka tidak mau berusaha?
    Atau karena pekerjaan itu begitu sulit didapatkan?
    Bingung… :(

    Balas
  6. Sedih sekali…..
    Apalagi buat anaknya, yang nantinya berpikir bahwa mengemis adalah suatu pekerjaan.

    Balas
  7. suami yang tidak bertanggung jawab.. X(

    Balas
  8. Mungkihkan ada benarnya fatwa mengemis haram… Kondisional aja kali ya, jika memang sudah benar-benar tidak mampu…

    Balas
  9. miris membacanya mbak :(

    Balas
  10. Ya Allah, kasihan anak2nya..
    Tapi alhamdulilah masih sekolah..
    Mudah2an bisa dapet kerjaan yang lebih baik >_<

    -ngintip balik blog mbak Monda ^^-

    Balas
  11. ckckckck….
    kadang kadang jadi suka bingung aku mba….
    harus kasihan atau kesel ya????

    Balas
  12. Wah, kasihan banget. Mungkin mereka menganggap mencari nafkah di lampu merah lebih mudah dan menguntungkan dan nggak perlu repot2 nyari si ini kemana si itu lagi ngapain… Wallahua’lam…
    Tapi tetap nggak melupakan sekolah ya…

    Balas
  13. ooohhh… hiks… the beggars kah mereka??? terkadang zaman sekarang ini mereka lebih kaya dibandingkan yg memberi, mbak.. entahlah, bener ga pandanganku ini… :-(

    Balas
  14. mengamankan pertamax, solar dan minyak tanah… :mrgreen:

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s