“Jangan pilih kasih seperti pada pengamen sebelumnya”
Ini ucapan seorang pengamen remaja kemarin di bis patas AC. Dia adalah pengamen kedua yang bernyanyi di bis itu, suaranya pas-pasan dan alat musiknya gitar kecil, sedangkan pengamen sebelumnya main gitar dan suaranya lebih merdu. Tidak heran pengamen pertama mendapat saweran banyak.
Ucapan para pengamen ini kadang-kadang tidak disangka.
“Saya doakan ibu cepat kaya” ini dari pengamen lain lagi ketika saya menolak memberikan recehan.
“Ibu nggak usah pura-pura tidur” sambil mencolek penumpang yang tidur.
“Tanggal 5 terus …sekarang udah tanggal 7″ ini diucapkan ketika penumpang menolak dengan mengibaskan tangan dan kelima jari terangkat.
“Ibu lewat mana nanti kami cegat, tunggu aja, uangnya 20ribuĀ kok nggak mau ngasih” , ini nada ancaman dari sekelompok pengamen yang bertahan menungguku. Kudiamkan saja, sambil terus berdoa supaya mereka cepat pergi karena pada waktu itu tidak ada uang kecil sama sekali dan aku sudah memegang uang itu untuk ongkos. Akhirnya mereka turun juga.
Pengamen di bis kota bukan hanya menyanyi, ada yang berorasi (istilah mereka) padahal hanya sekedar kata-kata yang ujung-ujungnya minta duit juga, berpuisi (mbak aliaz mesti menilai yang mereka bacakan masuk kategori puisi atau tidak nih..), mengaku punya keluarga yang dirawat di rumah sakit, mengedarkan amplop disertai keterangan bahwa mereka yatim piatu ( ada yang memakai alasan ini meski usia sudah20an), dll.Inilah suka duka naik bis di ibukota.
Gambar dari sini
iya memang kalau pengamen jadi jadian suka meresahkan. Apalagi yang jenis kelaminnya tidak jelas. Tapi banyak juga kok pengamen yang serius, sehingga kita rela mengapresiasi mereka dengan uang yang cukup besar.
Wah, di jakarta ya? ….:(
Wah, pemaksaan itu !Mestinya para pengamen itu sadar, memberi lebih baik daripada meminta….
Memang repot ya..padahal penumpang bis juga tak semuanya punya uang…apalagi yang ngamen banyak sekali…
Ini yang membuat Jakarta makin macet, karena orang akhirnya menghindari naik bis….pilih naik sepeda motor (walau risiko kecelakaan tinggi) dan berusaha mencicil kendaraan roda empat.
Beda sekali dengan Jakarta saat saya baru kerja dan masuk ke kota Jakarta, 30 tahun lalu…anak Menteri dan Jendralpun tak segan naik bis…bahkan di bis kota kalau dapat tempat duduk bisa sambil baca..kalau berdesakan pun masih tak masalah..hanya bis tertentu yang diwaspadai karena banyak copet.
Kalau di Samarinda kebanyakan pengamen yang saya temukan di warung2 makan, boleh dibilang bisa bernyanyi dan bermain alat musik (gitar), walopun ada yang fales juga
Masih belum aneh-aneh tingkahnya
kalau udah kayak gini.
Jangan salahkan bunda mengandung.