Pengumpan RSS

So Lama Tara Bakudapa

Posted on

Sekali lagi karena keajaiban teknologi dan situs jejaring sosial akhirnya dapat bertemu dengan teman-teman  dari Sorong,Papua. Setelah pindah dari kota ini  lebih dari 30 tahun yang lalu,  tidak ada kontak sama sekali dengan teman-teman.   Di Sorong  keluarga kami menetap selama lebih kurang 3 tahun karena mengikuti perpindahan tugas almarhum ayahku dari Sumatra Utara. Aku menamatkan sekolah dasar di sini sampai dengan kelas 1 SMP.

Rasanya seperti mimpi saja ya,  akibat teknologi satu persatu nama teman-teman bermunculan dan akhirnya bertemulah kami beberapa orang yang pernah mempunyai pengalaman yang sama mengikuti tugas orang tua di tanah Papua atau dulu bernama Irian Jaya. Yang paling berkesan dari pertemuan ini adalah kami berbicara dengan dialek Sorong dicampur logat Betawi, karena sudah mulai banyak kosa kata yang terlupa.

Perbedaan bahasa, itulah yang mula-mula paling dirasakan ketika berpindah ke daerah lain. Di awal kedatangan pastilah ada rasa terasing, tetapi kesulitan ini menghilang dengan berjalannya waktu  karena usia kanak-kanak  adalah usia yang mudah belajar bahasa dan beradaptasi, akhirnya aku bisa berbicara sesuai dialek setempat.

So lama tara bakudapa  berarti sudah lama tidak bertemu. Khasnya dialek Sorong adalah memotong suku kata dan ada percampuran antara dialek Maluku dan Minahasa sehari-hari.  Contohnya “sa mo pi sekolah dulu” berarti  saya mau pergi ke sekolah dulu.

Berikutnya belajar bahasa lain lagi ketika ayah dipindahtugaskan ke daerah lain. Kota berikutnya di Kalimantan Timur, tetapi bahasa sehari-hari di sini tidak jauh berbeda dari bahasa nasional hanya ada kata-kata imbuhan tertentu yang membedakan dan beberapa kata yang berasal dari bahasa Banjar.

Yang paling teringat sampai sekarang adalah  ketika pindah ke Sumatra Selatan. Hari pertama di sekolah adalah pelajaran agama. Guru agama berbicara dengan logat Palembang totok. Beliau terus berbicara dengan logat yang terdengar aneh di telingaku. Aku bingung, 2 jam pelajaran agama tidak ada yang aku mengerti. Aku pesimis, badan rasanya langsung lemas, apakah nanti aku bisa mengikuti pelajaran. Ada  satu kalimat yang berkesan  dari beliau “aman aku dak galak nian aku diperintah oleh betino” yang berarti “saya tidak mau diperintah perempuan”.

Seperti pengalaman sebelumnya akhirnya aku bisa juga berdialog dengan logat Palembang, bahkan sampai sekarangpun di rumah dengan adik-adik kadang-kadang kami masih memakainya.

Kemudian dialek Bengkulu, mirip percampuran antara dialek Minang dan Palembang, ada sebagian kata yang mirip dialek Minang dan ada pula yang mirip Palembang. Kata-kata Indonesia baku banyak yang dipakai sehari-hari :  “letak di situ ajo (taruh di sana saja)”

Ada kejadian lucu ketika aku bertanya ke seorang pasien:

“Ibu pening tidak?”

Si pasien diam saja dan hanya melihatku.

Setelah si pasien pulang perawat berkata  “Bu, sebaiknya ibu menanyakan sakit kepala atau pusing saja”

“Memangnya kenapa ?” Aku heran apa yang salah dengan kalimatku.

“Di sini pening berarti gila bu”.

Ha….ha…ha..lain padang lain belalang. Itulah indahnya Indonesia dialek dan intonasi bahasa satu daerah dengan daerah lainnya sangat bervariasi.

»

  1. Ping-balik: Lagi, Cerita Anak SMP « Kisahku

  2. Hahaha… lucu yg kejadian “pening” itu… untung pasiennya nggak marah Mba…

    aku klik judul posting ini… “bakudapa”
    aku kirain Mba Monda ngomongin Sulawesi Utara, padahal kan di cerita utk Vania kmrn katanya blm pernah ke Sulawesi…

    So lama ndak bakudapa.. biasanya kalimat org Sulawesi Utara… wah ternyata sama Irian mirip yah Mba!

    Balas
  3. Kayak di kosan. Ragam daerah. Ragam bahasa..

    Balas
  4. hahaha bunda nih ada2 aja. blg pening untung pasiennya g’ngajak silat ya bun hihihi.

    kl bahasa bengkulu yg plg parah nyampurnya tuh gini bun:
    “ambo ndak pai bekela ke tempek kau”.

    yg kl dipilah2 : ambo (padang=aku), ndak(padang=mau, jawa=nggak), pai(padang=pergi), bekela (palembang=jalan2), tempek(padang=tempat, jawa=maaf”kata saru”). kl org jawa denger pasti marah besar ni bun hihihi

    Balas
  5. hhehee… udah baca nih yuk…
    semoga kito biso akrab yo di dunioo blog ni

    Balas
  6. Ping-balik: Yang Pertama « Kisahku

  7. Pagiii mbak, saya baca lagi posting mbak Monda ini…ternyata diatas udah ada komen saya ya!
    Tapi bener, rasa terasing itu selalu dirasakan kalau kita masuk ke daerah baru dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa kita sehari-hari :)
    Hebat nih mbak Monda bisa bermacam-macam dialek…saya nggak berhasil belajar bahasa Batak, biarpun sempat bertahun-tahun tinggal disana… :P

    Balas
  8. pening kalo bahasa daerah saya sama aja dengan pusing mbak

    Balas
  9. huahaha…
    *ikut ketawa dulu deh*

    waduh mba Monda udah jalan jalan kemana aja siiiih???
    seru deh kayaknya :)

    Balas
  10. Ping-balik: Estafet Award dan Selintas Kabar « C.E.R.I.T.A

  11. Hehehe… Saya tidak pening :)
    Seru banget ya Mbak, pengalaman berbahasa :)

    Balas
  12. Hebat banar pian ni ka ai. Sudah keliling Indonesia. Handakai bisa kaya itu. Tapi kaya apa pang? Ulun harus banyak manabung dulu. :P

    Balas
    • kangen ai denger bahasa banjar lagi,

      jd inget dulu nonton lawakan di tvri lokal, belajar baca ceritanya,
      “keh a ka, keh i ki, lanjutkan kata guru sambil menunjuk gambar kaki
      murid jawabnya ” batis” he..he…

      Balas
  13. kirain judulnya apa? kayak bahasa pilipina…

    Balas
  14. hihiiiiii :lol:
    untung gak di plototin ama si ibu itu mbak…
    seru ya.. banyak bahasa, coba ada kamusnya ya..

    Balas
  15. hahay, pening itu…. :mrgreen:
    wah, bagaimanapun kita harus tetap bijak
    menggunakan bahasa kan bu?? :)

    Balas
  16. mau ketawa dulu ttg si pening itu :D :D :D
    beragam memang bahasa di negeri kita ya Mbak Monda, malah jadi keuinikan utk tiap daerah.
    senangnya Mbak Monda punya kesempatan utk berkeliling indonesia dan mengenal berbagai budaya dan bahasa daerah masing2.
    salam

    Balas
  17. Enak ya mbak, bisa mengenal beragam bahasa yang ada di Indonesia…hehehe…pusing-pusing itu kalo di Medan artinya jalan-jalan kan, bukan pening-pening… :P

    Balas
  18. wah, mbak monda sudah keliling indonesia nih..
    iya mbak, kadang geger bahasa mmg membuat sesuatu sulit di awal, tapi InsyaAllah menjadi mudah setelah betah di sebuah daerah..

    Balas
  19. hehehe… pening a.k.a gila?? sama kek bahasa sunda dengan bahasa jawa… pertama kali di daerah baru, kosakata yg perlu kita pelajari adalah kosakata utk istilah yang gawat2 ya mbak.. agar tak salah paham …^^

    Balas
  20. ooh… keragaman budaya bangsa kita ya mbak… kosakata yang beranekarupa.. ^^

    Balas
  21. yalah jangan ikut2an pening

    Balas
  22. hahaha… untung saya tidak pening, bu. :)

    ending yang benar2 menghibur.

    Balas
  23. waaahh..bunda udah keliling indonesia yah..pasti berkesan sekali..
    hahaha..bahasa daerah memang unik dan menarik..
    pasti pasiennya langsung ngedumel tu bund keluar dari ruangan, hehehe

    Balas
  24. Wah wah,,,, saya ngakak sendiri waktu baca yang terakhir…. :lol: :lol:
    Masih banyak ya kosalata bahasa daerah yang sama di beberapa daerah tapi berbeda arti dan makna. :D

    Balas
  25. whakakak aku baru tau klo pening itu artinya gila
    **pasiein itu pasti gondok banget sama mba monda :P

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s