Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Datang Ke kota Jogja tanpa menginjakkan kaki di Malioboro bagaikan lauk tanpa garam, tidak ada gregetnya. Jogja adalah Malioboro, Malioboro adalah Jogja, sudah seperti persamaan matematis. Bahkan, KLa Project menggambarkannya dalam lirik lagunya yang terkenal itu dan mereka beroleh penghargaan dari pemda Jogja.
Jalan sepanjang lebih kurang 2 km ini adalah jalan yang hidup 24 jam. Di emperan toko-toko besar para pedagang kaki lima bebas meletakkan dagangannya, kemudian pada malan sampai dini hari akan digantikan oleh pedagang makanan lesehan dan seniman jalanan, bahkan kabarnya seniman Jogja lainnyapun sering berkumpul dan berdiskusi seni di sini.
Ke Malioboro kami lebih banyak mengukur jalan dan cuci mata saja menikmati suasana Jogja, karena aku bukanlah heavy shopper dan tidak terlalu suka berbelanja di tempat-tempat wisata. Apalagi sudah terkenal pedagang di sini suka mematok harga tinggi, kita musti pintar nawar, nah itu dia kelemahanku. Bagiku wisata ya wisata tidak dicampurkan dengan belanja. Untunglah anak-anak juga tidak terlalu suka segala pernak-pernik, akhirnya si adek saja yang membeli gelang dari manik kayu.
Suasana Malioboro ini diangkat di kartun Benny dan Mice dan mereka coba mengumpamakan bagaimana jika diterapkan di Jakarta berdagang di emperan toko. Tidak seperti di Yogya ( atau Jogja) yang pemilik toko rela di emperan tokonya dipenuhi pedagang kaki lima 24 jam, di Jakarta ini tanggapannya menurut kedua kartunis itu : (komik ini pernah dimuat di harian Kompas bulan April 2010 dan di NG Traveller Indonesia Juli 2010)
“Woooi…kalo jualan kira-kira dong. Toko gua masih buka nih”
Tetapi mencari tempat makan ternyata agak sulit di jam tanggung seperti itu, kami ke sana selepas magrib, para pedagang kerajinan baru berkemas dan pedagang lesehan belum ada yang datang, padahal anak-anak sudah ngantuk dan lapar. Dua buah becak mengantarkan kami ke sebuah rumah makan, tetapi melihat di menunya ada kodok goreng aku jadi geli dan mengundurkan diri.
Akhirnya kami naik sebuah becak lain berempat mencari tempat makan lain. Berikut percakapan antara orang rumah dengan pembecak (?) :
“Ndak berat mas bawa kami berempat?”
“Sudah biasa kok mas, ndak berat kok”
“Sudah biasa bawa bule ya, kalau bule muat nggak satu becak berdua?”
“Kalau bule berat, satu bule itu sama dengan tiga orang kita mas, dan di becak cuma muat satu saja”
Mas becak mengusulkan mencari mi godog lesehan saja, dan dia membawa kami ke seberang RS PKU Muhammadyah di daerah Kauman. Kami menanyakan transportasi pulang ke hotel di Colombo, dia menyarankan andong atau taksi, kalau becak sulit karena jalan ke arah sana menanjak.
Sesudah makan kami mencari taksi dan andong. 2 andong yang ditawar tidak bersedia karena terlalu jauh, tetapi taksi tidak muncul juga.
Tiba-tiba seorang pengemudi becak datang menawarkan diri, setengah membujuk setengah memaksa. Dia bilang ongkos cukup 20.000 saja sampai hotel, dan perlu 2 becak. Cukup alot tawarannya, tapi akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi saja, karena waktu berangkat ke Malioboro naik taksi cukup 20.000 saja, dan jalannya cukup jauh berputar-putar. Tidak tega rasanya membayangkan mbecak sejauh itu dengan ongkos cuma segitu.
Foto dari sini.

aihh… jadi kangen jogjaaa >.<
soal penjual emperan di Malioboro..
ya, mungkin karena para pemilik toko juga sedikit banyak juga diuntungkan dengan adanya penjual emperan itu kok…
liat barang2 asisoris di emperan.. melirik2 ke dalam toko.. eh ada yang menaarik.. mampir deh.. hehe… mungkin begitu mbak Monda..
lagian para penjual emperan itu juga gak gratis kok jualan di situ. ada semacam retribusinya..
waduh jadi inget kampung halaman bu…
ternyata banyak juga ya blogger asal jogja yg udah hadi temanku,
mudah2an rindu kampung bisa sedikit berkurang kang
Malioboro tempat ayah pernah di tangkap polisi heehe…
Yang paling males di Jogja ya transportasi umum agak sulit di temui. Alhamdulillah ada kenalan di sono….
bner emang Bu…
ke jokja tanpa ke malioboro tuh sama artinya kek belom ke jokja
setuju mbak ismi
wah, asik banget jalan2 bersama keluarga, bisa jadi kenangan tersendiri nantinya bagi anak2 ya Mbak.
selamat menikmati liburannya
salam
assalamu alaikum
pa kabar bunda? lama ga main ke sini jadi kangen
malioboro tempat favoritku, kapan ya bisa ke sana lagi?
kok fotonya dari Wikipedia Tante?
ga pake foto dari hasiL jepretan sendiri?
kan bisa ikutan nampang…
*masih saja berharap bisa menghabisakan masa tua di kota Jogja…
lupa moto di malioboro (wartawan amatiran )
kok udah mikir masa tua Hari?
Hahaha…1 bule=3 orang
Saya ingat saat perjalanan ke LN, bawa koper berat, apalagi pulangnya karena ditambah materi seminar. Dan susahnya, karena cari penginapan murah (walau tak murah juga karena 1 hari=90 pondsterling..) maka tak ada lift. Hari pertama masuk, dapat di lantai tiga…bawa kopernya diangkat rame2 gantian perlu waktu 30 menit. Saat mau pulang, karena udah kenal, kami minta tolong untuk diangkatkan koper..ternyata dia langsung mengangkat 2 koper gede plus tambahan 1 travelbag…hehehe…bayangkan padahal temanku cowok, mengangkat 1 koper itu dua orang….
Mbak Monda, betul kok jika belum jalan menyusuri Malioboro rasanya belum sampai ke Yogya.
postur nggak bisa boong ya bu
hahaha 1 bule = 3 orang kita ya…
emang kasian ya ngeliat tukang becak. apalagi sekarang udah ada taxi gitu. kalo kita beramai2 pasti jatohnya malah murahan naik taxi ya…
kalau jarak dekat oklah naik becak, mereka juga kan perlu nafkah, tp kalo kejauhan kitanya kasian,
dan ngeri digetok,
atau kalau dia tiba2 minta berenti di tengah jalan kan repot nyari2 lagi
Ada Tiga Hal Kak …
1. Lagu Yogyakarta itu memang indah sekali …
saya saja yang tidak pernah tinggal di Yogya … merasa rindu Yogya setiap kali mendengar lagu itu
2. Lesehan
Ini saya pernah melakukannya …
Dan memang ini nikmat sangat …
Makanannya mungkin tidak seberapa … tetapi suasana lah yang membuat menjadi enak
3. Last but not least …
Selamat Berlibur …
Nikmati waktu-waktu indah bersama keluarga ya Kak
Salam saya
trims oom, emang semuanya pada nmenikmati banget kok
Wah, liburan dengan keluarga ya, mbak?
Saya jarang banget ke Yogya, paling sering sih pulang ke Surabaya…
Di Garut juga banyak andong mbak, sayang sekali saya nggak berani naiknya, bukan apa-apa, kalo pas kudanya lari nggak terarah…pasti bikin panik!
anak2 nggak mau naik andong, katanya kudanya bau
oh ya, satu yg mengganggu di malioboro itu ya bau pesing kuda
Malioborooo
Pengen kesana agy ah . . .
deket ga ya sama AMIKOM ntar . . .
Luvena, mau kuliah di Jogja?
urlnya nggak keluar nih, nggak bisa dibalas kunjungannya
Tukang becak di daerah malioboro sesungguhnya adalah freelance marketing dari toko-toko souvenir, bakpia dan batik di seputaran kraton. Mereka akan dapat bonus yang fantastis dari toko jika tamu yang diantarnya belanja di situ. Makanya, para tukang becak itu rela saja mematok harga 5000-10.000 untuk keliling malioboro-kraton-pathuk.
oh, faktanya gitu toh…, tp emang nggak niat belanja banget kok,
bakpia kepengennya yg di kaliurang, tp krn mahal dibandingin patuk, jauh dan nggak mau nganter akhirnya nggak jadi beli
Apa yang dikatakan Uda Vizon ini benar banget …
saya waktu ke Jogya juga ditawari muter-muter …
tapi saya tetep keukeuh …
Saya ndak mau kemana-mana … saya cuma mau ke Mirota …
(Tetapi Mas Becak tidak mau menyerah begitu saja … disepanjang jalan … selalu bilang … mau liat lukisan mas … Dagadu … Bakpia pathok … Batik …
dan jawaban saya cuma satu … dan itu saya ucapkan berkali-kali … Pak saya cuma mau ke … Mi …Ro … Ta …
Hehehe
waa… yogya kota favoritku kak… sudah cukup sering ke sana tapi tetep..bikin kangen.. !
pernah rame2 sama temen ke sana, makan di lesehan malioboro dan ditemani pengamen yang suaranya merdu..kami sampai request lagu ke dia.. heheheh…
aku sendiri udah ke 4 kali ke sana, tapi belum ngerasain lesehan tengah malam seperti ceuceu
wuah, tampilin foto-foto yang lain mba monda. kangen jogja..
kapan yah main ke jogja lagi?
nggak pede tampilin foto sih fety,
motonya pake kamera saku dan hape, belum punya yg DLSR,
mana nggak ngerti komposisi,
lagu katon keren juga ya…serasa di yogja..kalo kita nyanyikan lagunya…
menggambarkan jogja banget memang
hehhe, emang kitanya yg kasian ya Mbak.
disini juga klo naik delman aku suka kasian sama kudanya krn jalanan di bukittinggi kan naik turun. Mending naek angkot ajah.
rasanya nggak manusiawi ya nyuruh nggoes jauh2, tp dipikir2 mereka juga butuh,
tp sebaiknya memang yg jarak dekat aja ya bun
duuh..enaknya jalan2..:D
enaklah nina, apalagi bareng sekeluarga
heheu,,,jadi pengen ke jogya lagi….
jogja itu ngangenin ya?
perrtamanyaaaaa
eehhmm,
lagu itu juga berkesan buad saya mbak Mon
kesannya apa ya bintang….. sok ngorek aja…