Lebaran 2010

Suasana lebaran masih terasa di mana-mana rupanya, penduduk Jakarta belum seluruhnya pulang dari kampung halaman.

Hari kedua masuk kerja setelah cuti bersama jalan raya masih terasa lengang.

Jalan raya yang biasanya pamer, padat merayap kini berubah menjadi ramlan alias ramai lancar. Hanya setengah jam saja perjalanan dari rumah ke kantor, lewat tol ke tol, biasanya kan 1 1/2 sampai 2 jam. Nikmatnya berkendara di suasana seperti ini, biarpun rumah jauh kalau lancar begini tidak terasa capai.

Tapi yang bermasalah adalah hari pertama kerja, karena masih capai sepulang mudik malam sebelumnya,  aku memilih naik kendaraan umum saja. Ternyata  susah banget  cari kendaraan, omprenganpun belum ada. Rupanya tidak hanya penduduk yang mudik, bis kota dan mobil omprengan juga ikutan mudik sebagai kendaraan bantuan lebaran. Berangkat bermasalah pulangpun bermasalah, hanya 1 bis yang melayani rute ke rumahku, dan sudah berangkat pula,  jadilah ngeteng, istilah untuk naik turun bis sambung menyambung, cape deh….

Tukang makananpun belum banyak yang dagang, yang ada baru mi ayam doang, nggak nendang bok..masih nyari2  nasi juga, he..he..he.., menyesal nggak bawa nasi dari rumah. Akhirnya sambil menunggu suasana normal lagi, mungkin tanggal 20 pas waktunya anak-anak masuk sekolah lagi, ya bawa bekal  dari rumah.

Di atas ini foto jalan Jendral Sudirman yang lengang pada H min 1. Selama libur lebaran tanggal 9-14 September peraturan  3 in 1 ditiadakan. Jadi bisa lewat jalan protokol di pagi hari,  menikmati jalan utama kota Jakarta ini.   Ini keadaan sekitar jam 08.30 menuju puskesmas, kami tetap kerja lho, harus piket. Sampai puskes yang nampak malahan pedagang sarang ketupat yang berjualan di depan puskes, he..he..bikin sirik…seharusnya kan bisa repot-repot juga di dapur, persiapan lebaran.

Lebaran  seperti biasa mudik ke orang tua.  Malam takbiran berangkat ke rumah mama di Tangerang dan bermalam di sana. Dahulu sewaktu masih ada almarhum papa setelah pulang sholat Ied dibiasakan untuk makkobar, tiap orang bergantian ngomong untuk meminta maaf . Sekarang adik-adik sudah nggak mau, berat banget rasanya mau pidato he..he…Hidangan lebaran di rumah mama standar saja sih ketupat sayur lodeh dan opor ayam, ditambah taoco udang yang jadi kekhasan lontong sayur Medan dan ada juga ketupat ketan yang dimakan bareng tapai pulut atau ketan dan bisa juga dengan rendang.

Lebaran kedua berangkat jam 8 pagi  ke Lampung untuk silaturahmi dengan keluarga suami. Penyeberangan dari Merak sudah relatif sepi, begitu tiba di Merak beli tiket seharga Rp 198,000,-  per  mobil langsung masuk ke perut kapal ferry.

Perjalanan mudik pergi pulang lancar, hanya ada hambatan kemacetan di titik-titik menuju pintu masuk wisata pantai yang bersinggungan dengan jalan Lintas Sumatera di kabupaten Lampung Selatan  seperti di Pasir Putih dan Merak Blantung, dll karena banyaknya truk yang membawa warga dari luar kota. Tiba di Bandar Lampung jam 13.30 langsung menuju rumah kakak  dan berkumpul di sana sekeluarga  besar untuk nyeruit yang sudah jadi kebiasaan di keluarga kami setelah bosan dengan hidangan lebaran yang cukup berlemak, biasanya Mak menyiapkan ketupat sambal godog dan sup iga sapi yang mak nyus banget.

Nyeruit itu istilah untuk makan ikan-ikan air tawar  yang digoreng, dipepes, dibakar atau pindang  dengan lalapan atau sayur asem dengan sambal mentah (cabai ulek dan perasan jeruk nipis), irisan  mangga muda atau tempoyak. Terserah selera masing-masing semua jenis sambal itu boleh saja dicampur jadi satu. Nikmat……Setelah itu ditutup dengan makan pempek deh. Malamnya nggak kuat makan lagi, perutku sudah full-booked.

Setelah silaturahmi jalan-jalan cuci mata dan cari oleh-oleh makanan  (biasanya pempek, kemplang atau keripik pisang, atau pete melotot) dan kerajinan tangan khas Lampung, ada tapis, batik motif Lampung (motifnya gajah dan kapal yang berasal dari motif kuno), sulam usus yang dibuat kebaya atau sarung bantal.

Senin siang atau H plus 3 kamipun berangkat kembali karena keesokan harinya harus masuk kerja,  dan tiba di rumah sudah malam.

About these ads

37 thoughts on “Lebaran 2010

  1. Mbaaak, lengkap banget cerita lebarannya…jadi pengen ikutan nyeruit… :P
    Jakarta ternyata sepi kalo lagi pada mudik ya, apakah penduduk Jakarta mayoritas pendatang? Kayaknya iya ya, kalo penduduk asli pasti sudah pada heboh terima keluarga yang berlebaran di Jakarta ;)

  2. Kirain mudiknya ke Padangsidempuan Bun ;-) .Belum pernah euy mudik ke Sumatera bawa mobil. Kalau anak2 sudah agak besar, cita2 sih mudik ke PSP naik mobil. Insya Allah. Oh ya mohon maaf lahir batin ya Bun :-)

    maaf lahir batin juga bundit, Dita senangkah di rumah eyang?
    di huta/kampung di sipirok udah nggak ada opung,
    udah 15 tahun nggak mudik ke sana, kangen juga sebenarnya

    • Oh…kampung Bunda di Sipirok? Saya sok tahu ya Bun :D .Kalau mudik ke Sumatera gak bisa tiap tahun nih…paling 3-4 th sekali. Selain harus gantian dengan mudik ke Jogja, berat di ongkos juga hehehe. Wah..Dita happy banget mudik ke Jogja kemarin. Ceritanya sampai akan jadi beberapa part di blog nih :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s