Pengumpan RSS

Trem Uap di Jakarta

Posted on

 

 

 

 

Transportasi masal kota Batavia tahun 1920 masih dilakukan menggunakan trem uap (4) dengan rute : Pasar Ikan > Glodok > Jl. Gajahmada > Sawah Besar > Senen > Salemba > Jatinegara (Meester Cornelis). Karena penduduk masih relatif sedikit, maka trem tersebut hanya terdiri dari 3 gerbong yang masing-masing “diperuntukkan” bagi bangsa Eropah (kelas 1), bangsa Timur Asing, yakni : Arab & Cina (kelas 2) dan gerbong yang paling belakang (kelas 3) untuk Inlander (pribumi). Karena lazimnya pribumi membawa serta ternak dagangannya seperti : ayam, kambing, dll. di gerbong paling murah tsb. maka dari situ munculah istilah “kelas kambing”. Adalah sangat terlarang bagi pribumi yang mampu sekalipun untuk membeli karcis kelas 2, apalagi kelas 1. Clockener Brousson dalam catatannya menulis : “Dari kejauhan terdengar bunyi lonceng trem dan desis uap, persis seperti di Belanda. Di atas lokomotif berdiri masinis pribumi dengan petugas yang menyalakan api. Dua kondekturnya adalah orang Betawi muda berseragam tapi tanpa alas kaki. Sementara kepala kondektur seorang Eropa pensiunan tentara”
(dari berbagai sumber bacaan)

Komentar Gambar :

Entah sejak kapan, jembatan kereta api yang melintasi Jl. Matraman mengalami beberapa perubahan seperti : dibobolnya sisi kiri (1) dan kanan (3) guna melancarkan arus lalulintas. Terlihat trem uap (2) sedang menuju ke salah satu halte pemberhentian. Di halte ini terdapat tangga (4) menuju keatas untuk menyambung perjalanan dengan kereta api menuju Buitenzorg (Bogor). Nampaknya halte tersebut sudah di-bumi rata-kan karena mungkin tidak berfungsi lagi. Saat itu, pedagang pikulan masih dapat berjalan santai ditengah-tengah jalan, bertelanjang dada dan tanpa alas kaki ; hal yang mustahil terjadi lagi sekarang ………………..

by : Andy Alexander Abidin

Foto dan komentar di atas adalah koleksi pak Andy Alexander yang kupinjam dari beliau, dan atas ijinnya dimuat di sini untuk berbagi kepada teman-teman semua. Beliau sering menjadi narasumber di acara  keliling lokasi bersejarah yang diselenggarakan kelompok pecinta sejarah Sahabat Museum pimpinan Ade Purnama.

Terima kasih banyak pak Andy.

»

  1. Trem Uap di Jakarta, keren2 fotonya..

    Balas
  2. Di Surabaya pun dulu ada trem juga… sekarang udah hilang ditelan aspal.. :mrgreen: *jalurnya*

    Balas
  3. terimakasih utk Mbak Monda dan Pak Andi, krn telah mau berbagi :)
    salam

    Balas
  4. Terima kasih Kak atas informasinya
    dan terima kasih pula pada Pak Andy Alexander

    salam saya

    Balas
  5. Saya sempat mengalami naik trem ini saat masih kecil, tapi di Surabaya.
    Seperti halnya di Jakarta, trem di Surabaya ini akhirnya juga dihentikan…..

    Balas
  6. Hwaa … saya juga baru saja posting tentang lokomotif uap djaman doeloe :D
    Sayangnya saya nggak tinggal di Jakarta, jadi nggak tahu lokasi-lokasi yang diceritakan Bu Monda …

    Balas
  7. Trima kasih sudah berbagi foto dan cerita, mbak…saya agak susah ngebayangin betapa dulu Jakarta setenang itu, sesederhana itu… :)
    Sekarang?
    Aduuuuh! :(

    Balas
  8. Mestinya pernah liat rel ini, tapi di sebelah mana Matraman ya? Hmm.. (berpikir)

    Balas
  9. aihh.. seneng deh baca tentang bagaimana indonesia tempo doeloe…

    dan begitu liat gambar atas..kayaknya kok adem banget.. yg pasti jadi bayangin ..kapan jakarta ngga macet..? :)

    makasi udah berbagi Ka…

    Balas
  10. Sering banget lewat Jatinegara itu mbak, tapi selalu mikir, ini dulunya apa ya???
    baru tau dari mbak monda kalo ternyata jalur trem uap.. :)
    jadi pengen nyoba naek deh,, *kelas kambing pastilah* hehe

    Balas
  11. banyak bgt perubahannya
    lebih adem liat yg lama
    berasa tenang gitu liatnya..gak was2

    Balas
  12. ..
    wah Bu Monda seneng banget sejarah ya..
    pas sekolah nilai pelajaran sejarahnya pasti selalu bagus..
    he..he..
    ..

    Balas
  13. Jadi pinginbisa leap through the time biar bisa ngrasain naik tream uap, heeeee

    Balas
  14. Banyak peninggalan sejarah yang kurang mendapat perhatian di negeri ini.

    Balas
    • tapi jembatan ini tetap dipertahankan dan berfungsi baik lho, ini jalur kereta ke dan dari stasiun Jatinegara,
      sewaktu membuat jalur busway, jalan di bawahnya dibongkar dan diperdalam agar busway yang cukup tinggi itu bisa lewat

      Balas
  15. wah, saya belum pernah naik tuh trem uap

    Balas
  16. ikutan sahabat museum juga ya? Aku cuma bisa ngiler aja setiap baca milis Batmus, krn ngga pernah bisa ikut.

    EM

    Balas
  17. Mau ikutan naik trem uapnya Mbak

    Balas
    • Yang sering terjadi pada bangsa kita adalah bisa beli tapi nggak bisa merawat…
      Apalagi sekarang2 ini, segala sarana habis dalam satu periode.
      Ketika ganti penguasa, ganti lagi sarana yg ada…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s