Pertama kali kukenal perpustakaan kelas 1 SD diajak Mama yang ketika itu jadi pengurus perpustakaan di lingkungan kompleks tempat kami tinggal. Anak-anak selalu antusias rebut-rebutan ketika pintu perpus dibuka dan kalau ada buku baru yang dipajang. Rasanya top bangetlah kalau jadi pembaca pertama.
Ketika pindah dari kota ke kota, tetap ada fasilitas perpustakaan, biasanya perpus dibuka 2 kali seminggu. Kadang-kadang di sana ada acara pembacaan cerita oleh ibu-ibu yang pintar bahasa asing, bahasa Belanda atau Inggris. Kita jadi anggota perpus gratis lho, dan ibu-ibu pengurus tidak digaji.
Buku-buku yang tersedia di perpustakaan kompleks itu bervariasi, dari buku komik seri Tintin, buku-buku terbitan Pustaka Jaya, dan karya-karya pengarang dunia. Buku yang kusukai antara lain karya Ayip Rosidi berupa dongeng dari tanah Sunda seperti Mundinglaya di Kusuma, dan Lutung Kasarung. Sedangkan buku yang paling kuingat dan berkesan yaitu Siti Nurbaya, karya pujangga angkatan Balai Pustaka, Marah Rusli. Buku ini kupinjam di kelas 5 SD. Sebelum menamatkan buku itu aku tak mau berenti, begadang sampai tamat. Pagi-pagi mata sudah bengkak karena ikut menangis menyesalkan nasib tragis percintaan Siti Nurbaya dan Syamsul Bachri, he..he… mata sudah bengkak ditambah omelan Mama pula karena jadi ketahuan begadang. dari sini dapat hikmah, anak kecil belum pantas baca roman
Kami jadi pengunjung setia perpustakaan selama tinggal di kompleks, sampai tamat SMA. Setelah itu jadi anggota perpustakaan di lembaga kebudayaan tempat kursus bahasa.
Dari kunjungan rutin ke perpus itulah tumbuh rasa cinta tehadap buku. Kecintaan akan buku itu terus ada sampai sekarang. Dulu, Papa punya usaha kecil-kecilan, anak-anak kalau ikut membantu akan dapat sangu. Uang sangu itu tidak kami belikan barang lain selain buku. Kami titip Papa membelikan buku bila sedang berdinas ke Jakarta. Jadi selain pinjam buku di perpus kamipun ingin memiliki koleksi sendiri.
Sebagian besar buku milik kami bersaudara itu masih ada, ditinggal di rumah Mama. Seorang adikku rajin menata dan mengaturnya mengikuti sistim perpustakaan secara sederhana. Alhamdulillah, anak-anak dan keponakan sudah terjangkiti cinta buku, dan koleksi itu sekarang bisa mereka baca . Sebagian dari koleksi itu juga sudah disalurkan ke teman-teman yang mengelola perpustakaan anak.
Tak semua buku mau dibaca anak-anak, karena ternyata memang bahasa Indonesia terus berkembang dan banyak kata lama yang sudah tidak pernah dipakai. Mula-mula anak masih mau bertanya artinya, tapi karena terlalu banyak akhirnya bosan juga dan tidak mau melanjutkan. Seperti cerita si Dul Anak Jakarta itu, sudah susah dimengerti anak sekarang.
bunda, saya dulu suka baca, sekarang butuh baca ^^
Mbak Monda, apa kabar?
Saya langsung ingat buku Intan Batu Bulan dan Kongo yang ada di foto ini. Saya juga punya mbak, ditinggal di Surabaya tapinya…
Agatha Christie?
Yang Hercule Poirot lengkap, tapi kalo lakonnya Miss Marple saya nggak suka…hehe
Cinta buku memang harus dibiasakan dari kecil, sehingga anak terbiasa buat selalu ingin tahu tentang banyak hal. Ehm, boleh pinjem bukunya nggak, mbak?
Ping-balik: Award Dariku Untuku Untukmu | vulkanisir.com
Ping-balik: Award Lagi « Kisahku
kayaknya mirip neh slogan ku “kita sering sering jumpa sm ce cantik,lama lama jd jatuh cinta,
krn ito siregar sering berkunjung keperpustakaan,lama lama jatuh cinta sm buka”
Selamat malam,
Woww,, Waktu dulu saya sangat senang dengan yang namanya perpustakaan, meski di SD keadaan perpustakaannya ya seperti itu, namun melihat berbagai macam buku yang beraneka ragam, sungguh sangat menyenangkan sekali,,
Sampai saat ini pun, saya masih sangat gemar membaca buku,,
Salam semangat selalu dari Bandung
Saya malah jarang ke perpus… –’
Bukan malas membaca, saya hanya malas minjem… :p
Saya lebih suka membeli buku dibandingkan meminjamnya…
Kata-kata lama itu nanti bisa jadi tergolong sastra lho mbak
aku juga cintaaa bgt sama buku
dl bpk suka ngumpulin buku yg bhubungan ma kerjaan ma agama tp hanya ditaruh di lemari buffet. trs adikku yg nyantri trnyata jg punya hobi yg sama, saat tamat bukunya dibawa plg jg dijejel2in di lemari itu. smntara bukuku yg kubawa plg sdh bikin sesak rak buku di kamar hgg sisanya msh tersimpan di kardus2 yg jg mnuh2in kamar. jujur mimpiku nanti kl dah punya rmh sdiri walo g’punya perpust khusus plg g’punya tempat khusus utk buku agar bs lbh terawat, tertata & lbh mudah ditemukan saat dibutuhkan. amin
Perpustakaan mini belum punya tapi kalau buku koleksi punya banyak…. banget, saya taruh di kardus2, tumpukan kardusnya sampai tinggi; macemnya banyak dr buku bacaan “berat” sampai buku bacaan “ringan”.
Bunda Monda saya mau ngasi award dan PR buat Bunda, diambil di sini ya…
http://lovetiffa.wordpress.com/2011/02/05/award-pertama-tiffa/
Dulu waktu saya masih SD – SMP ada kios penyewaan komik dan buku2 lainnya di dekat rumah saya. Yang paling suka saya baca kalo yg komik, kisah asterik obelik sama serial donald bebek. kalo novel, suka sama ceritanya lima sekawan. Wah ternyata buku2nya Tante banyak ya..
Bunda, saya juga ingin punya perpustakaan mini di rumah
Ping-balik: BayuPutra
Huaaaaa inilah keinginan saya, kalo nanti punya rumah sendiri, pengen bikin satu ruangan sendiri untuk naruh komik2 dan buku2 yang saya punya….
wah, perpustakaan masa kecilnya mbak Monda kereeen. ada yg bacain dlm bahasa belanda juga. ah, pasti menyenangkan ya! kalau di jkt, perpus yg agak sering saya datangi adalah perpus diknas. buat ngadem dan refreshing di belantara ibu kota