Rinduku Pada Sumba

Posted on Februari 11, 2011

39


Gara-gara mbak EM posting tentang puisi  yang dibuat anaknya Riku, aku jadi teringat ada puisi yang kusuka. Terus terang aku tak terlalu bisa menikmati puisi.

Tetapi lain halnya dengan puisi karya pak Taufiq Ismail ini.  Aku langsung jatuh cinta ketika mendengar  pertama kali ketika  dibacakan  oleh seorang gadis manis di sebuah acara   bertahun lalu.  Aku masih SMP waktu itu.

Aku tersentak mendengar puisi ini dibacakan dengan bergelora. Masih ingat bagaimana aku terpaku, sampai merinding bulu kuduk. Aku jadi membayangkan savana di tanah Sumba dengan kuda-kuda Sumba yang terkenal itu, terbayang  suasana perayaan Pasola ketika para pengendara kuda   membawa senjata tradisional  dan berpakaian adat Sumba dengan ujung kain yang melayang tertiup angin. Rasanya jadi sangat  jatuh cinta  pada tanah air sendiri. Andaikan bisa kutengok tanah Sumba.

Hanya dua baris yang sempat kutangkap.  “Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh”. Dulu, karena sangat terpesona aku  bertekad mencari  puisi ini.  Setiap ke toko buku aku selalu menanyakan  buku kumpulan puisi beliau, tapi tak pernah jumpa, maklum dulu masih tinggal di  kota kecil. Beruntung ada  internet ya, bisa bertemu dengan situs sang penyair sendiri, dan senangnya beliau memuat puisi yang kucari, ternyata judulunya Beri Daku Sumba. Terima kasih ya Bapak.

Ini puisinya yang kupinjam dari  situsnya pak Taufiq Ismail sendiri.

Beri Daku Sumba

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada UmbuRinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung hargaTanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

1970

About these ads
Posted in: Budaya