Pengumpan RSS

Museum Wayang

Posted on

Museum Wayang berada di sebelah kiri Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di wilayah Kota Tua Jakarta. Bangunan ini awalnya adalah gereja Belanda  yang pertama dibangun pada 164o, pada 1733 diperbaiki dan disebut de Nieuwe Hollandsche Kerk.

Kemudian akibat gempa bangunan gereja rusak dan  dibangun seperti tampak bangunan sekarang ini. Tahun 1912 bagian depan gedung dibangun dengan gaya Neo Renaissance.

Di halaman bangunan ada  9 buah prasasti pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tsb. Salah satunya Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal yang membangun Batavia di atas reruntuhan Jayakarta. Makamnya sekarang berada di Museum Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang 1. (sumber : Museum Wayang)

Harga tiket masuk Rp 2000,-  dan harap diingat semua museum ditutup pada hari Senin . Koleksi  tertata apik dalam kotak dan lemari kaca. Rapi dan tak ada kesan tua atau kumuh, malah tampak modern.

Koleksi Museum berupa berbagai macam wayang dari berbagai daerah, topeng dan perlengkapan wayang. Ada wayang kulit, wayang golek, wayang klitik dan wayang beber. Ada juga wayang dan boneka dari  Cina, Kamboja, India. Melihat koleksi wayang ini seperti kembali ke masa-masa kecil dahulu sewaktu sering meminjam komik wayang dari perpustakaan, dan tontonan siaran wayang di TVRI .

Foto ini adalah koleksi wayang sadat yang merupakan suatu bentuk kesenian rakyat berupa wayang kulit, tetapi tokoh dan ceritanya   adalah sejarah Islam yang diambil dari akhir kerajaan Majapahit sampai permulaan kerajaan Mataram. Wayang ini dimainkan siang dan malam hari oleh seorang dalang dengan iringan gamelan.

Koleksi wayang lainnya juga sangat menarik. Sayangnya  pemotret  amatiran ini tidak mampu menangkap obyek di balik etalase dan hasil fotonya menjadi sangat buruk.  Foto ini yang rada mendingan. :P Yang jago foto kasih dong tipsnya.

Koleksi masterpiece adalah wayang revolusi yang dibuat oleh RM Sayid pada  1930an dengan tokoh2 sejarah terkenal seperti Bung Karno, bung Hatta dll.  Pada tahun 1960 koleksi ini dibeli oleh Wereldmuseum di Amsterdam. Pada 2005  sebagian koleksi dipinjamkan untuk jangka panjang oleh museum dari Belanda tersebut kepada Museum Wayang.   Koleksi masterpiece lainnya adalah wayang Kyai Intan dibuat oleh seorang Tionghoa dari Muntilan Jawa Tengah.

Di lantai museum ada  gambar beberapa bentuk badan dan hidung wayang. Coba lihat ada hidung yang bangir, cocokkah dengan hidung anda? :D

Di museum ini ada ruangan khusus untuk pertunjukan wayang di hari Minggu, seminggu atau sebulan sekali tergantung jadwal. Pada kunjunganku saat itu, bulan Februari lalu sedang ditampilkan wayang kulit Betawi. Seru lho dan meriah, bahasa pengantarnya bahasa Betawi sehari-hari, jadi seperti nonton pertunjukan lenong. Ada sinden, ada rebab, dan ada pemain musiknya yang menimpali perkataan dalang. Pertunjukan wayang yang biasanya  semalam suntuk, di sini disingkat saja menjadi 4 jam. Aku hanya sempat menonton setengah jam karena harus pergi ke acara lain.

Di dinding ruangan ini tergantung wayang beber Pacitan, Jawa Timur. Wayang berupa lembaran seperti lukisan besar (foto bawah) yang terdiri dari 6 gulungan. Tiap gulung menceritakan 4 scene. Ceritanya adalah  tentang Joko Kembang Kuning alias Raden Panji yang mencari kekasihnya Dewi Sekartaji (kisah ini dulu sempat kubaca juga waktu kecil).  Kebetulan aku bertemu petugas museum yang berasal dari Pacitan dan beliau berbaik hati menceritakan kisah tersebut.

Wayang beber ini pemberian raja Majapahit kepada Ki  Naladerma dan kemudian menjadi warisan keluarga turun temurun. Pemiliknya sekarang adalah generasi ke 12, Ki Samen Gunocarito. Koleksi museum ini adalah berupa  replika buatan pak Musyafik, pegawai  Kanwil Depdikbud Jawa Timur.

Foto : Pribadi

»

  1. Ping-balik: Nyok Kite Nonton Ondel-ondel « Kisahku

  2. Gak begitu tertarik dengan museum tapi gara2 sering baca di blog ini kok jadi kepingin berkunjung ke museum ya.
    Ma kasih Kak

    Balas
  3. aku pernah kesana…
    waktu itu lagi direnovasi
    dan sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiii sekali
    jadi agak agak serem

    Balas
  4. Wah, saya belum pernah ke Museum Wayang. Perlu nih, besok lagi kalau ke Jakarta … :)

    Balas
  5. sudah pernah ke sini, tapi anak-anak lebih tertarik ke fatahillah, katanya lebih horor :D

    Balas
  6. Makasih informasinya mbak, lagi-lagi saya belum pernah kesini… ;)

    Balas
  7. aku belom pernah kemuseum mbak..padahal bisa dibilang sering banget lewat museum.. :)

    Balas
  8. Yyeyeyeyeyeyye… akud ah pernah kesini, pake dimarahin gara2 aku gak liat tanda di larang foto2, padahal orang lain pake hape moto semua… huuuuuuuuu… (-_-’) aneh ya?

    cuma satu bunda saran saya, naikkan iso, pake mode dengan nilai F paling besar, tembakkan/pantulkan flash ke atas obeject, steady hand! hampir sama dengan trik indoor photography… :) kapan2 aku tulis deh :)

    Balas
  9. kalu kekota cuma lewat doang neeh musium ini..

    belum bisa nikmati ajah nonton wayang,kadang gak ngerti..

    tapi perlu dicoba juga mampir,makasi dok :)

    Balas
  10. anak2 seneng banget nonton wayang lo mbak, gar2 kuajak ke sini :)

    masih penasaran pengen ikutan jalan2 klub museum….

    Balas
  11. udah lama gak ke museum,jadi inget kalo wisata keluarga bagusnya mengunjungi museum dapat tambahan wawasan buat-anak-anak.
    Suatu hari bakal nyempetin ke museum wayang mbak.. :)

    Balas
  12. semakin langkah ya bun yang menyukai budaya sendiri, udah banyak yang suka budaya asing hingga lupa rumah sendiri
    semoga postingnya lebih mengingatkan kita untuk kembali ke budaya sendiri
    ………………………………..
    mohon maaf mohon doa dan bantuannya di
    http://bchree.wordpress.com/2011/03/09/mohon-do%E2%80%99a-dan-bantuannya/
    terima kasih

    Balas
  13. wah ada juga toh Wayang Betawi.. saya pikir cuma lenong aja yang ada disana

    Balas
  14. aku tuh paling gak tertarik ke museum, karena kesannya agak2 misterius gituh ,Mbak Monda.
    (si bunda parno)
    padahal, anak2ku suka banget ke museum .. :)
    tapi, begitu baca liputannya disini, begitu ringan dan menarik, jadi penasaran pingin wisata ke museum2 yg banyak ada di jakarta.
    terimakasih banyak Mbak Monda utk tulisan yg benar2 menarik ini :)
    salam

    Balas
  15. salah satu budaya bangsa yang harus selalu dilestarikan. saya sdh lama sekali ngak jalan ke museum :oops:

    Balas
  16. gaya penulisannya ringan, menceritakan sisi histori nya pun renyah, itu yg saya sukai dari blog ini. Nggak seperti buku2 sejarah yang biasanya membuat kita lelah sebelum membaca, hehe.. Salam hangat Tante;

    Balas
  17. Kalau denger kata wayang ingat masa kecil, karena kakek saya punya 2 set wayang kulit lengkap dengan gamelannya

    Balas
  18. Mungkin saya juga akan menyukainya, meskipun tak mengerti pewayangan :)

    Balas
    • ada juga wayang humor lho Kin
      seperti wayang golek Sunda yang dimainkan dalang terkenal Asep Sunandar,
      wayangnya bisa batuk, merokok, bodor kata orang Sunda mah..

      Balas
  19. Arief Bayu Saputra

    wah…. keren museumnya…. sayang di jember tidak ada….hihihihi salam kenal mbak monda………

    Balas
  20. tuh bentuk idungnya aneh2 semua yah mba, :-)
    btw, skarang udah jarang banget yang mau berwisata ke museum, :-)

    Balas
  21. Si sulung senang sekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya, dan mencintai wayang, mungkin karena dulu saya suka mendongeng Ramayana, dan Baratayuda. Anehnya si bungsu tak terlalu tertarik sama wayang, kalah sama manga.

    Saat kunjungan ke museum wayang kebetulan lagi ada lakon yang ditayangkan…senang sekali.

    Balas
    • kalau wayang yang berbahasa daerah memang nggak bisa ngerti,
      tapi ada juga dalang yang membawakan dengan dicampur bahasa Indonesia, jadi lumayanlah

      Balas
  22. salam sobat
    wah jadi ingat saat di Yogya ni,
    lihat postingan museum wayang.
    sip dan lengkap koleksi wayangnya.

    Balas
  23. menarik juga ya bu…

    terus terang ya saya gak pernah lho nonton wayang. hehehe

    Balas
  24. Laporannya lengkap!
    Aku juga sudah ke sana 2 tahun lalu. http://imelda.coutrier.com/2009/07/29/menanamkan-rasa-cinta-tanah-air/

    Tapi cepat-cepat pulang karena Riku takut lihat ondel-ondel di lantai satu :D

    Ya memang sulit memotret di situ krn gelap.

    EM

    Balas
    • Wajah ondel2 itu mengerikan ya, anak2ku dulu juga takut.
      Apalagi kalau ada ondel2 ngamen, org biasa tapi pakai topeng ondel2 aja, nggak pakai kurungan bambu . Begitu ada suaranya dari jauh, papanya langsung nyegat supaya jangan lewat depan rumah.

      Oh ya mbak, mulai kemarin malam ada acara di halaman Museum, menampilkan cerita sejarah Jakarta scr digital yg menjadikan dinding depan museum Fatahillah sbg layarnya. Keren dan meriah banget.
      Baru liat liputan aja, belum ke sana.

      Balas
  25. info menarik bos… :) semoga dengan adanya museum tersebut kita bisa banyak belajar lebih banyak…

    Balas
  26. lengkap ya review nya bun. jarang loh yg mau berwisata ke museum

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s