Melihat foto Kembang Sepatu hasil karya bunda Mahes (foto yang sangat cantik bunda) mengingatkanku pada saat-saat bersinggungan dengan bunga ini, dari dulu kala.
Sewaktu kecil ketika bermain di halaman rumah, aku dan adik-adik memakai daun dan helai bunganya untuk bermain masak-masakan. Dulu kami menyebutnya bunga raya karena masih tinggal di Sumatera, setelah tinggal di daerah lain barulah mengenal nama kembang sepatu. Kembang Sepatu diambil daunnya, diiris dan ditumis dengan lilin cair sebagai minyak gorengnya atau ditumbuk seolah-olah sedang masak daun ubi tumbuk, jenis kuliner khas suku kami. Bagian putik bunga bisa dilepaskan dan ditempelkan di hidung untuk main Pinokkio, he..he….
Rupanya ketertarikan dengan kembang sepatu ini terbawa terus sampai dewasa.
Ketika bertugas di daerah dan tinggal di sana selama 3 tahun, berburu dan bertanam kembang sepatu menjadi kegiatan selingan sepulang kerja. Bersama seorang temanku, Marlina, yang sehobi, kami berdua sering berkeliling di sore hari mencari kembang sepatu atau tanaman lain di sekitar tempat tinggal kami. Jika ada jenis yang belum kami miliki, kami datangi rumah tersebut, ketok pintu dan minta bunga, he..he…he… Saat itu di sana tak ada penjual bunga yang menjual kembang sepatu, mungkin dikira tak ada peminatnya. Rumah-rumah yang kami datangi tentu saja orang yang dikenal, karena kami berkelana di wilayah kerja kami, sehingga pergaulan dengan masyarakat juga cukup akrab, jadi nggak tengsin2 amatlah ya…he..he…
Kembang sepatu ini jenisnya mungkin ada ratusan. Jenis lokal atau hibrida, yang helaian bunganya cuma selapis atau berlapis-lapis. Saat itu aku hanya suka dengan kembang sepatu selapis. Kembang sepatu ditaman dengan cara stek saja, dan sangat gampang tumbuh. Dari hasil berkeliling itu cukup banyak juga jenis warna yang kumiliki, merah, putih, pink, kuning, ungu, atau yang 2 warna misalnya bunga putih tapi di bagian tengahnya berwarna merah. Dahulu sempat menanam kembang sepatu di halaman rumah kami di sini, tetapi karena kini rumahku hanya berhalaman kecil, pohon kembang sepatu ini terpaksa ditebang dan digantikan dengan pohon peneduh.
Informasi dari wikipedia menyatakan kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) ini ditetapkan menjadi bunga nasional negeri jiran, Malaysia pada 1960. Orang Jawa menyebut bunga ini dengan worawari… betul nggak?
Kembang sepatu ini ternyata punya banyak manfaat. Kabarnya nama itu diperoleh karena minyak hasil ulekan daun sepatu itu pernah dipakai orang untuk menyemir sepatu. Ada pula yang mengatakan bisa untuk menurunkan panas dan mengobati bisul.
Dari Kompas.com dikatakan bahwa ekstrak bunga kembang sepatu berkhasiat melembabkan kulit wajah karena mengandung AHA dan vitamin C dan sudah dipakai sebagai salah satu komponen dalam kosmetik.
Sekarang, saya jarang banget lihat kembang sepatu yang bentuknya masih asli. Biasanya sudah dikombinasi dengan warna-warna yang berbeda, sehingga kembang sepatu warna merah muda yang sering saya lihat dulu, malah nyaris nggak pernah saya lihat…
jadi ingat masak kanak-kanak dulu…
sering digunakan oleh emakku sebagai obat penurun panas. daun kembang sepatu diremas-remas dengan sedikit air sampai kental, lalu diusapkan ke kepalaku yang sedang panas. Alhamdulillah, cukup manjur….
Kembang sepatu juga punya kenangan manis untukku kak, karena waktu kecil di Biak kami punya banyak pohon bunga ini. Dan ya, sama kayak anak2 perempuan lain, aku juga suka bermain masak2an dengan kembang sepatu, & satu lagi, pakai daun mangkok utk masak sop gitu.
Ping-balik: Percantik Komentar Dengan Gambar « Kisahku
Bunga sepatu ini bagus untuk ditanam dihalaman….halaman rumahku ada kembang sepatu ini, ada yang warnanya merah (yang paling kusuka karena membuat hati gembira), kuning, dan merah muda.
(Btw, blog mbak Monda yang satu ribet banget kalau mau komen….mesti bolak balik…hehehe…..jadi kayaknya tetap rajin yang kesini aja)
maaf ya bu, blogspot memang ribet mau komen
nanti deh kututup aja kolom komen di sana, trims ya bu jadi dingatkan
sekarang yang itu dipakai hanya untuk link saja,
artikelnyapun sudah kupindahkan ke sini semua,
Sepatu saya kok nggak berkembang ya…
Seperti yang saya tulis juga di Blognya bundamahes
Inget Kembang Sepatu
Ínget Ujian biologi waktu kuliah …
harus menuliskan nama latin dengan benar …
dan saya disalahkan …
karena tidak pakai garis bawah …
dan huruf pertama pada kata kedua tidak pakai huruf kecil …
aarrrgghhh
salam saya Kak
oh, musti ada garis bawahnya ya .. baru tau
trims oom
Waah…. sama Bun, aku jg suka main masak2an pakai kembang sepatu. Ternyata meng-Indonesia ya mainan itu hihihihi
betul2….jadi ingat dulu pas masih kecil sering dijadikan hidung pinokio…wkwkwkkk….
Waktu kecil aku sering lihat kembang sepatu di halaman-halaman rumah orang, sekarang entah kenapa jarang yang mau tanam. padahal bunga itu juga, warnanya macem-macem.
kalau di padang namanya bunga rayo..
wah, dulu waktu saya kecil, dirumah ada beberapa jenis pohon kembang sepatu tuh mbak. dari yang kelopaknya cuma selembar, sampe yang bertumpuk2 tebel warna pink, hehehehheeh.
kalo sekarang, kakak ipar saya yang tergila-gila sama si kembang sepatu. dirumahnya nggak tau deh ada berapa puluh macem kembang sepatu. warna-warni dan gede-gede pula bunganya
jadi pengen punya lagi…dimana cari kembang sepatu dimarih yak???
hihi kok sama sih Bun, dulu kalau main pasar-pasaran kembang sepatu di kasih air lali diperas jadi seperti minyak, trus putiknya di tempelin dihidung jjadi lengket..
Betul Mbak Monda, di Jawa kembang sepatu dinamai Worawari, kadang ada yang menyebut Worawaribang. Tapi yang banyak dijumpai jaman saya kecil dulu adalah jenis yang helai bunganya agak berlobang kecil-kecil, bukan yang lebar utuh seperti yang banyak dikenal sekarang (wah, kok Mbak Monda nggak nampilin fotonya ya, jadi gak bisa lihat kembang sepatu yang saya maksud sama nggak dengan yang Mbak Monda bayangkan).
mbak Tuti maaf ya,
, ternyata ada worawari yah kuwolakwalik lagi, setelah nyari lagi, ada gambar bunga sepatu yang ini,
teman yang satu ini malas usaha
bunga ini juga sering kulihat tetapi namanya beda
Hibiscus schizopetalus
yang ini ya maksudnya mbak? trims penjelasannya mbak
hadewwww.. jadi malu dijadiin bahan tulisan ma Bunda
abisnya fotonya mbak Ika natural banget sih, jadi kangen sama kembang sepatu….
jadi ingat masa kecil hehe
btw kalo ga salah daunnya bisa buat gelembung2 kan?
nggak pernah nyoba mbak, diapain yah supaya bisa jadi gelembung?
Wah, manfaatnya banyak ya bunda.
Tapi sayang sekali, gak ada gambarnya!
Kembang sepatu itu seperti apa ya? lupa2 ingat..
ke linknya bunda Mahes aja, fotonya cakep deh
pasti taulah, sering dijadiin tanaman pagar
atau ini deh fotonya kutampilkan, pinjam dari wiki
jadi ingat waktu kecil, suka skali jadiin sayur2an saat maen masak2 ma temen2, hehe
bikin mama cemberut lihat bunga kembang sepatunya yang tumbuh indah habis diulek2 ma anaknya, hehe
salam hangat mba,
pohonnya jadi gundul ya, belepotan ke lantai lagi, terus make sendoknya ibu buat tumis2 kan….
Wah baru tau loh istilah “kembang sepatu” itu dari sejarah semir sepatu… Dari duluuu aku mikir gak abis2 krn ini bunga gak ada mirip2nya sama sepatu… Hehe.. Subhanallah ya bnyk manfaatnya…
katanya sih dari situ, tapi belmpernah nyoba juga kok
baru tau kalo kembang sepatu banyak manfaatnya gitu. dulu di rumah kita di surabaya (pas masa kecil dulu) kita punya kembang sepatu. tapi ya gak pernah diapa2in. hehee.
sama kok Man, dulu cuma dipakai main masak2an, nggak tahu manfaat lainnya
Kata papa, ” Gen, you know why this plants called HIBISCUS?”
“I dont know….why?”
“Because its High, if it is Low, then it should be LOWBISCUS”…. (ngga lucuu)
Kok sama ya mbak Monda, kita punya “perhatian khusus” pada kembang sepatu hehehe. ( http://imelda.coutrier.com/2010/07/05/sepatu-kok-bisa-berkembang/ )
EM
ha…ha…ha… papa Gen…
sehati dong mbak EM, suka kembang sepatu juga
senangnya liat bunganya kesannya sederhana tetapi ketika mekar itu seolah bunganya besar sekali
kembang sepatu Jepang itu bisa mekar besar nggak mbak? (udah kuintip fotonya di TE)
kalau yang jenis dari Hawaii bunganya lebih besar dari bunga kampung sini
yang di Jepang besarnya ya sebesar yang di Indonesia, tidak bisa lebih besar lagi, apalagi sebesar yang di Hawaii.
yang kasih joke itu papaku pada Gen hihihi. Selain Hibiscus, Gen suka banget bougenville, tapi aku ngga suka hehehe
EM
eh salah ya, he..he… oom Coutrier ternyata suka plesetan