Pengumpan RSS

Binatang Kesayangan

Posted on

Karena  blogwalking  banyak ide bisa didapat, kali ini dari tulisan mbak Tuti Nonka yang berkunjung ke pameran kucing.

Kami dulu pernah memelihara kucing kampung dan diberi nama  a la Italia,  Giuseppe, Maldini, Marco, karena suka nonton Liga Italy.:D

Sedari kecil rumah kami dipenuhi dengan berbagai binatang peliharaan. Papaku senang beternak,   pernah ada bebek  entog  (entok?), angsa, ayam, dan puyuh. Hasil ternak ini cukup banyak dan bisa dijual di pasar lho. Ketika harga telur puyuh tidak menutup biaya pakan, daging puyuh bahkan dihidangkan buat Lebaran dan sangat disukai tamu.

Angsa katanya bisa menjaga rumah seperti anjing. Binatang ini termasuk galak, dan akan ribut kalau ada orang tak dikenal. Angsa lebih menakutkan bagiku daripada anjing. Kalau angsa  sudah ambil ancang-ancang merendahkan  lehernya, hati-hati bisa dikejar, lebih baik lari menghindar, ngeri dengan paruhnya itu, bisa-bisa diantup angsa.

Selain hewan-hewan konsumsi, kamipun memelihara hewan hias. Kolam ikan selalu ada di setiap rumah ketika kami pindah.

Di Sorong, Papua kami pernah memelihara nuri, mambruk, kasuari, dan kakaktua jambul kuning. Dulu belum tahu dan belum marak ilmu mengenai perlindungan hewan. Beberapa hewan ini sekarang sudah dikategorikan hewan dilindungi. Kami mendapat hewan-hewan ini dari masyarakat yang menjual keliling.

Kakatua jambul kuning di Sorong disebut dengan Yakob, tak tahu asal nama ini darimana, dan burung yang dijual ini sudah diajarkan membeo. Kata-kata yang diajarkan ke setiap burung kakaktua selalu sama  : “Yakooob, Yakob laparkah?”  Yakob akan menirukan sambil mengangguk-angguk. Si Yakob ini  mati tak lama  setelah sepupuku yang biasa memberinya makan meninggal dunia. Rupanya ada keterikatan emosional di antara mereka, Yakob murung beberapa hari dan tak mau makan.

Setelah pindah ke Jakarta,  suatu hari di kali di depan rumah ada seekor anjing kecil berwarna putih  hanyut. Adikku membawanya ke rumah dan membersihkan. Tampaknya anjing ini sudah cukup lama terendam di dalam air, kasihan badannya menggigil terus bahkan setelah diselimuti berlapis-lapis kain. Kami memberinya susu dan makanan yang lama baru mau disentuhnya. Akhirnya perlahan-lahan kondisinya membaik. Kami lepaskan, tetapi dia selalu kembali ke rumah, dan kami memberinya nama  Picky karena dipungut dari kali. Picky bisa sehat kembali dan diletakkan di luar rumah, dan selalu mengantar dan menyambut anggota keluarga di pagar rumah.

Suatu hari ada tetangga yang datang dan meminta Picky, karena katanya itu anjingnya yang hilang. Kami persilahkan, tetapi Picky tak mau ketika dipanggil dan kemudian si tetangga menyerah dan membiarkan kami memeliaharanya. Karena kesukaan Picky mengantar dan menjemput di depan pagar  akhirnya dia suka bermain di jalan raya depan rumah. Kami semua menangis ketika Picky mati ditabrak mobil. Untuk menggantinya dibelikanlah seekor anak anjing yang diberi nama Rocky, dan setelah besar kejadian yang samapun terulang lagi, tertabrak mobil. Cukup sudah kejadian berulang sampai 2 kali.

Terakhir di rumah sendiri,  pernah ada louhan (akhirnya diserahkan ke tetangga, karena si kakak pernah digigit ketika memberi makan dan dia jadi takut), gurami (yang sangat suka makan daun pepaya), dan lovebird yang berhasil ditetaskan, baru satu ekor,  tetapi karena kesibukan, akhirnya lovebird dititip di adik. Memelihara kura-kura juga pernah, tetapi selalu kabur dari akuariumnya. Kini tak ada lagi hewan peliharaan di rumah.

»

  1. Saya pernah punya peliharaan anjing, burung kakatua, burung beo dan burung nuri…memang betul, pas mereka mati itu sedihnya bisa berhari-hari… :(

    Balas
  2. duluuu saya pernah punya kucing sampai 19 ekor. karena konflik internal, akhirnya kucing kami dikasih2kan ke orang yang mau.. kucing terakhir mati setelah operasi kanker nasofaring. baru 4 hari ini ada Miku, kucing kecil yang ditinggalkan di depan rumah dan kemudian kami rawat. tapi sepertinya ga lama karna potensi konflik sudah mulai muncul lagi.. :D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s