Pengumpan RSS

Peninggalan Bung Karno Di Bengkulu

Posted on

Minggu  lalu  si Papa berkesempatan berkunjung ke Bengkulu, kota yang pernah kutinggali  dulu, tempatku bekerja pertama kali sebelum menikah.  Artikel ini adalah kerja sama kami berdua, foto-foto dari si Papa, narasi kutulis sesuai ingatan waktu pernah mengunjungi tempat-tempat ini yang disesuaikan dengan keadaan sekarang dan tambahan dari beberapa sumber.

Bengkulu adalah salah satu kota tempat presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno,pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, tahun 1936-1942. Bung Karno tinggal di kota ini disertai dengan istrinya, Ibu Inggit dan putri angkat mereka. Dari kota ini pula asalnya  Ibu Fatmawati.

Rumah pengasingan  berada di pusat kota Bengkulu, di daerah yang bernama Anggut Atas. Dahulu pemilik rumah ini adalah pengusaha  bernama Tan Eng Cian yang memasok bahan pokok untuk kebutuhan pemerintah kolonial Belanda. Semula luas  keseluruhan rumah ini sekitar 4 ha, tetapi kemudian lahan dibagi-bagi untuk menjadi rumah penduduk dan kantor.

Rumah ini tak terlalu besar, dibangun awal abad 20 dan berbentuk persegi panjang. Luas bangunan rumah  adalah 162 m2, dengan ukuran 9 x 18 m. Keadaan rumah ini sekarang lebih cantik dengan halaman yang terawat.  Di bagian depan ada teras yang dilengkapi satu set meja kursi dan  lemari pajang kecil.

Di bagian dalam rumah  terdapat sepasang kursi tua.  Di sisi kanan terdapat tiga buah kamar dan di sisi kiri terdapat dua kamar tidur. Di dalam kamar tidur terdapat ranjang besi yang merupakan tempat tidur Bung Karno saat ia menghuni rumah ini.  Di kamar-kamar lainnya meruapakan tempat penyimpanan, ada ruang tempat sepeda yang pernah dipakai Bung Karno, ruang berisi buku-buku koleksi beliau dan koleksi  pakaian dan perlengkapan pertunjukan sandiwara milik kelompok tonil Monte Carlo. Sayangnya koleksi ini tak sesuai dengan cara penyimpanan yang baik, tanpa pengatur suhu, sehingga koleksi banyak yang terlihat rusak.

Buku-buku tebal koleksi Bung Karno terdiri dari berbagai  jenis, seperti karya sastra klasik, ensiklopedia, data kepemimpinan Jong Java, hingga Alkitab Pemuda Katolik. Sekitar 60 persen dari semua buku yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno ini rusak parah.

Di kamar terakhir yang lain ada koleksi foto-foto BK beserta ibu Inggit dan keluarga, juga foto ibu Fatmawati remaja.  Di bagian kanan belakang rumah ada bangunan  memanjang  berisikan dapur, gudang  dan kamar mandi.

Selain rumah pengasingan, peninggalan Bung Karno lainnya di Bengkulu adalah Masjid Jamik yang dirancang dan dibangunnya. Masjid dibangun pada 1938 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Masjid terletak di jalan utama kota Bengkulu. Seingatku dahulu ada pohon beringin besar di sebelah kanan depan yang menjadikan masjid terlihat asri  Sebelumnya masjid ini adalah mushola yang didirikan masyarakat dipimpin Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro yang  wafat di kota ini.   Makam sang Panglima masih ada dan lokasinyapun tak terlalu jauh dari masjid, sekitar 10 menit berjalan kaki.

»

  1. Hayyah…. aku juga mau menulis ini untuk “kado” blog ini, ternyata Kak Monda sudah menuliskannya juga… Trus, aku mau nulis apa dong? hahaha… :D

    Balas
    • he..he.. nggak apa toh uda.., versi uda kan bisa lebih bagus dari tulisanku

      atau kalau uda mau nulis yang belum ada di sini bisa juga tentang rumah bu Fatmawati, masjid Jamik, tugu Thomass Parr, atau makam Sentot , yang di Jogja juga banyak lho yang masih belum kukunjungi

      terima kasih niat baiknya uda

      Balas
  2. Wah..bangunan bagus kalau terawat lebih oke…masih asli ya

    Balas
  3. wah bagus juga ya rumah bung karno, pengen jg main kesana

    Balas
  4. Wah, sayang sekali buku2 itu ya. Padahal itu buku2 bersejarah pastinya, tapi rusak dimakan waktu dan tdk diurus pula.

    Balas
  5. waaah senang sekali bisa melihat saksi sejarah seperti ini. Aku belum tentu bisa pergi ke Bengkulu. Apik dan asri ya rumahnya, khas rumah jaman dulu.

    EM

    Balas
  6. Trims mba Monda..Info bgs nih.. Sayang aq blm bs lihat foto2nya krn pake HP :(

    Balas
  7. hmm…
    Peninggalan sejarah seperti itu seharusnya dirawat dengan baik… :(
    pemerintahnya bagaimana sih??? :roll:

    Balas
  8. Kalau dirawat dengan baik bisa dijadikan tempat wisata sekalian belajar tentang sejarah .

    Balas
  9. Pak Karno memang hebat. Di tahun itu bukunya sudah banyak dan bagus bagus..

    Selamat sore Tante,,

    Balas
  10. kelihatannya rumahnya masih asri banget ya mon,
    mesjidnya juga keren

    Balas
  11. Nice posting…

    Salam kenal…

    Balas
  12. baru saya nemuin blog yang nyeritain sejarah…

    bagus juga…

    Salam kenal.. Ocehanburung.

    Balas
  13. Rumahnya keren mbak, rumah beraura…
    Sayang sekali saya belum pernah ke Bengkulu, kapan-kapan kalo saya kesana, rumah ini pengen banget saya datangi :)

    Makasih informasinya ya!

    Balas
  14. sayang banget ya, koleksi sejarah terabaikan tanpa perawatan yang memadai :(

    Balas
  15. Banyak ya Bun, peninggalan sejarah yg tak terawat seperti itu, sayang sekali :(

    Balas
  16. Ke Bengkulu memang harus ke rumah Bung Karno ini, selain pantai dan benteng-benteng Belanda itu..

    Balas
  17. emang ya, rumah jaman dulu itu kesannya adem, sejuk, homy banget deh pokoknya! apa karena posturnya lebih tinggi ya Bun :?:

    Balas
  18. Ke Bengkulu cuma mampir, belum pernah menginap.
    Sayang sekali ya, Kak, peninggalan sejarah tak terawat :(

    Balas
  19. Banyak sekali ya peninggalan presiden pertama R.I. ini. Sampai rumahnyapun sekarang di jadikan sebagai museum. Hehehe, sebelumnya salam kenal dari saya!!! 8)

    Balas
  20. pengen ke Bengkulu..

    Balas
  21. Bung Karno ninggali foto di Kendal Mbak…

    Balas
  22. Mudah-mudahan dana untuk perawatannya dapat terus ditingkatkan seperti pustakanya HB Jassin.

    Btw, saya pernah ke rumahnya Bung Hatta di Bukittinggi. Rumahnya masih lumayan terawat dengan bangunan yang utamanya terbuat dari kayu dan masih kokoh :)

    Balas
  23. tugas siapa ya bun untuk merawat ini?padahal kan ini sangat bersejarah sekali

    Balas
  24. duh eman ya Bu.. koleksi historis itu kurang terawat

    Balas
  25. Sayang ya kak, peninggalan bersejarah tapi tidak maksimal perawatannya, itungan taon bisa musnah tuh semua :(

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s