Peninggalan Bung Karno Di Bengkulu

Posted on Mei 5, 2011

37


Minggu  lalu  si Papa berkesempatan berkunjung ke Bengkulu, kota yang pernah kutinggali  dulu, tempatku bekerja pertama kali sebelum menikah.  Artikel ini adalah kerja sama kami berdua, foto-foto dari si Papa, narasi kutulis sesuai ingatan waktu pernah mengunjungi tempat-tempat ini yang disesuaikan dengan keadaan sekarang dan tambahan dari beberapa sumber.

Bengkulu adalah salah satu kota tempat presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno,pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, tahun 1936-1942. Bung Karno tinggal di kota ini disertai dengan istrinya, Ibu Inggit dan putri angkat mereka. Dari kota ini pula asalnya  Ibu Fatmawati.

Rumah pengasingan  berada di pusat kota Bengkulu, di daerah yang bernama Anggut Atas. Dahulu pemilik rumah ini adalah pengusaha  bernama Tan Eng Cian yang memasok bahan pokok untuk kebutuhan pemerintah kolonial Belanda. Semula luas  keseluruhan rumah ini sekitar 4 ha, tetapi kemudian lahan dibagi-bagi untuk menjadi rumah penduduk dan kantor.

Rumah ini tak terlalu besar, dibangun awal abad 20 dan berbentuk persegi panjang. Luas bangunan rumah  adalah 162 m2, dengan ukuran 9 x 18 m. Keadaan rumah ini sekarang lebih cantik dengan halaman yang terawat.  Di bagian depan ada teras yang dilengkapi satu set meja kursi dan  lemari pajang kecil.

Di bagian dalam rumah  terdapat sepasang kursi tua.  Di sisi kanan terdapat tiga buah kamar dan di sisi kiri terdapat dua kamar tidur. Di dalam kamar tidur terdapat ranjang besi yang merupakan tempat tidur Bung Karno saat ia menghuni rumah ini.  Di kamar-kamar lainnya meruapakan tempat penyimpanan, ada ruang tempat sepeda yang pernah dipakai Bung Karno, ruang berisi buku-buku koleksi beliau dan koleksi  pakaian dan perlengkapan pertunjukan sandiwara milik kelompok tonil Monte Carlo. Sayangnya koleksi ini tak sesuai dengan cara penyimpanan yang baik, tanpa pengatur suhu, sehingga koleksi banyak yang terlihat rusak.

Buku-buku tebal koleksi Bung Karno terdiri dari berbagai  jenis, seperti karya sastra klasik, ensiklopedia, data kepemimpinan Jong Java, hingga Alkitab Pemuda Katolik. Sekitar 60 persen dari semua buku yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno ini rusak parah.

Di kamar terakhir yang lain ada koleksi foto-foto BK beserta ibu Inggit dan keluarga, juga foto ibu Fatmawati remaja.  Di bagian kanan belakang rumah ada bangunan  memanjang  berisikan dapur, gudang  dan kamar mandi.

Selain rumah pengasingan, peninggalan Bung Karno lainnya di Bengkulu adalah Masjid Jamik yang dirancang dan dibangunnya. Masjid dibangun pada 1938 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Masjid terletak di jalan utama kota Bengkulu. Seingatku dahulu ada pohon beringin besar di sebelah kanan depan yang menjadikan masjid terlihat asri  Sebelumnya masjid ini adalah mushola yang didirikan masyarakat dipimpin Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro yang  wafat di kota ini.   Makam sang Panglima masih ada dan lokasinyapun tak terlalu jauh dari masjid, sekitar 10 menit berjalan kaki.

About these ads
Posted in: sejarah