Kondektur bis lelaki sudah biasa, kondektur perempuan ada juga beberapa, tak banyak.
Nah, bis langgananku itu salah satunya kondekturnya ibu-ibu.
Biasanya kondektur cewek itu kan penampilannya juga gagah, agak tomboy. Tapi ibu yang ini badannya kecil, suaranyapun tinggi melengking khas suara perempuan. Pasangannya di bis adalah pak supir setengah umur dan agak suka naik darah. Sering kali terdengar argumen mereka berdua, kadang-kadang lucu juga mendengarnya, kadang tak tega mendengar si ibu itu diomeli.
Suatu kali kulihat mereka berdua kesulitan mengganti roda bis yang kempes. Roda besar itu terlihat susah sekali dilepaskan dan diganti. Bayangkan saja pasangan yang ringkih ini bersusah payah mengerjakannya. Alhasil, lama tak selesai, bis penggantipun tak datang juga, terpaksalah kubergerilya gonta-ganti bis yang lain.
Cara ibu kondektur ini memberi tahu penumpang bersiap-siap turun lain daripada para kondektur yang biasanya hanya meneriakkan nama pemberhentian bis.
“Bangun…bangun… bu….jangan ketiduran …. nanti kelewatan ” (penumpang yang kebanyakan ibu-ibu memang rajin tidur he..he..)
Supir bis wanitapun sudah banyak terutama di armada bis Trans Jakarta. Fenomena ini ditanggapi begini oleh salah seorang penumpang perempuan tak jauh dari tempatku duduk :
“Perempuan kok jadi supir, itu kan kerjaan laki-laki, kasihan banyak lelaki yang nganggur”
Dalam hati kubergumam, jaman sekarang kan juga ada perempuan kepala rumah tangga, dia juga harus menafkahi keluarga juga bukan?.
Pendapat anda?
jaman sekarang, gak ada tuh pembatasan pekerjaan laki laki dan perempuan. semua pekerjaan bisa dilakukan perempuan kan???
Pendapat saya ?
saya tidak punya pendapat apa-apa Kak
Saya hanya berharap …
siapapun mereka …
apapun pekerjaannya …
mereka melakukannya dengan baik …
penuh tanggung jawab …
untuk keluarganya
tanpa mengabaikan keselamatan diri sendiri
salam saya
Saya pernah ketemu sopir aksi perempuan, yang baru jadi sopir taksi sebulan. Sebelumnya dia bekerja di kantoran, namun kantornya bangkrut, dia terpaksa cari kerjaan lain, agar bisa menabung untuk biaya sekolah anak-anaknya. “Kalau hanya suami yang cari uang, nanti anak-anak nggak bisa sekolah bu,” katanya.
Kadang urusan perut bisa membuat yang tidak selayaknya menjadi terlihat layak..
Salut dengan Kartini2 masa kini…
sepakat Bunda
fenomena perempuan jadi kernet buskota dan jadi kuli bangunan adalah ironi
namun apadaya, mereka adalah tulang punggung keluarganya….
salut..
sedj