Peringatan yang tercantum di berbagai tempat kadang-kadang memakai bahasa yang tak mudah dimengeti oleh orang awam. Terkadang papan atau rambu peringatan tertulis dalam bahasa Indonesia yang tak umum atau bahkan tercantum dalam bahasa asing.
Tersebutlah seorang anak muda lugu yang baru pertama kali keluar dari kampung halamannya yang indah di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia datang ke kota besar untuk menghadiri acara perkawinan salah satu kerabatnya yang dilangsungkan di sebuah gedung cukup megah. Bisa dibayangkan terjadi gegar budaya untuk sesaat.
Di dalam gedung terheran-heran ia melihat para undangan menyerbu meja makan. Dalam hati ia menggumam dan menggeleng-gelengkan kepalanya, kalau di kampung tak ada orang yang makan sampai rebutan dan tak ada yang makan sambil berdiri seperti ini. Di sana semua tamu pria duduk bersila di satu ruangan, sedangkan para ibu di ruangan lain, hidangan akan diantarkan oleh anak boru sampai pintu, lalu ada anak boru (antara lain keponakan lelaki dari si empunya hajat) lainnya yang menyambut dan menghidangkan makanan dalam piring-piring kecil itu di hadapan masing-masing orang. Hidangan di pesta inipun tak ada yang dikenal, tak ada gulai ayam, tak ada bulung gadung (daun singkong), tak ada sambal tuktuk. Tak masuklah makanan seperti itu dalam perutku, katanya dalam hati.
Setelah termangu, maka keluarlah dia dari dalam ruangan dan duduk di dekat meja penerima tamu. Tiba-tiba di tengah lamunannya terasa panggilan alam. Setelah mendapat petunjuk dari si gadis penerima tamu ia berjalan ke arah belakang gedung. Tak ada tanda-tanda kamar mandi. Sambil kebingungan mencari terlihat olehnya peringatan besar di dinding AIR CONDITION, NO SMOKING PLEASE.
Aneh sekali di kota kamar mandinya hanya berupa dinding, tak ada pintunya. Bersiaplah dia merapat ke tembok sambil celingukan ke kanan kiri . Tanpa disadari ternyata ada seseorang yang melihat dan curiga dengan gerakannya, dan langsung menepuk pundak si pemuda.
“Bang, jangan buang air di sini. Bukan di sini tempatnya bang, di sebelah sana”
“Macam mana, itu ada tulisannya kutengok. Aek kon di son.”
“Air condition itu bang”
“Nah kaupun sudah ngomong itu aek kon di son. Air itu dalam bahasa kita kan aek, airkon berarti buang kan, di son artinya di sini. Jadi kan artinya Buang air di sini”
Itulah masalahnya jika peringatan ditulis dalam bahasa asing, tak semua orang bisa mengerti.
Artikel ini diikutkan dalamASKAT, 22 Juni 2011 di BlogCamp.
Haha! Sukak tulisan ini!
Betul juga. Kalau diperhatikan: banyak sekali peringatan-peringatan di tempat umum seperti itu yang mengeneralisasikan masyarakat pembacanya. Di transportasi juga banyak sekali yang seperti itu.
Entah kenapa tak menggunakan bahasa Indonesia saja. Agar terlihat praktis dan keren? Kukira tidak. Memang belum ada kesamaan frame dari pihak negara (maupun ahli bahasa) dalam mengatur hal-hal seperti itu.
Banyak pula kesalahan kerap terjadi dalam menggunaan kalimat. “DILARANG MEMBUANG SAMPAH DISINI”, misalnya. Jelas kalimat itu salah. Karena awalan ‘di’ harus dipisah jika menunjukkan keterangan tempat. Tapi siapa yang peduli? Siapa yang mau repot berpikir soal penggunaan kata yang salah? Tetapi efeknya seperti cerita di atas tadi. Sepele. Soal penggunaan bahasa asing. Tapi pengertinya terbukti kacau
hahaha…. oala son…son..kepriben toh ki (gimana bisa begitu)
hihihihi… jadi nambah deh kosakata daerahnya…
logat bahasa daerah masing masing beda beda ..hehehe
share ke blog saya ya
wkwkwkwk….jadi gitu artinya ya mba, baru tahu
wah beberapa hari enggak kesini, Tante Monda dah pinter bikin orang ketawa hahaha
Hahaha bahasa Inggris dilogatkan dlm bahasa Tapanuli
. Semoga sukses lagi di ASKAT nya pakdhe
Waduh utnung ada yang menepuk pundaknya, kalau ga gaswat deh