Untuk transportasi selama di pulau Bali sebelumnya kami telah menelfon penyewaan mobil karena di sana sulit kendaraan umum. Pemilik mobil telah menunggu di bandara Ngurah Rai. Harga sewa mobil Rp 150.000, per hari untuk Avanza. Kami memang memutuskan menyetir sendiri, karena dari info teman-teman asal Bali, petunjuk jalan sangat jelas, masyarakatpun paham dan mau menunjukkan arah. Apalagi, kamipun akan bergabung dan ditemani seorang teman lama yang menetap di Denpasar.
Sebelum berangkat dari rumah tentu saja kami sudah menyiapkan destinasi yang ingin didatangi. Kami memilih tempat-tempat yang hanya spesifik ada di Bali. Toko dan pasar tak masuk hitungan karena aku tak suka berbelanja di tempat wisata. Wisata hanya untuk menikmati sebanyak mungkin daya tarik suatu tempat.
Hari pertama di Bali, setelah meletakkan koper di hotel, tanpa buang waktu kami langsung ke Kuta untuk melihat matahari terbenam. Jalan yang kecil itu terasa sangat sempit, karena macet dengan kendaraan dan manusia yang menuju pantai sambil cuci mata di toko-toko cendera mata sepanjang Kuta.
Semburat merah pantulan sinar matahari yang tenggelam seolah masuk ke dalam lautan luas berkebalikan dengan munculnya bulan di daratan.
Makan malam hari pertama kami pilih di pantai Jimbaran yang terkenal dengan sea foodnya sambil memandang ke arah bandara melihat pesawat yang mendarat. Berderet-deret rumah makan seafood yang ada di sana, kami memilih tempat yang pernah didatangi suami ketika training di Bali, Melasti, sebuah restoran yang cukup ramai dibandingkan restoran di kiri kanannya. Pelayanan cepat meskipun banyak bule yang makan di sana. Sudah umum diketahui banyak yang lebih mengutamakan tamu bule dibanding turis lokal.
Makanan yang kami pesan ikan bakar, udang bakar dan cumi goreg tepung. Ada kejadian ketulangan di sini ketika makan ikan bakar. Karena suasana yang remang-remang aku tak melihat ada tulang ikan yang masuk ke mulut, terjadilah kecelakaan itu, tak sengaja ada tulang yang tersangkut di tenggorokan. Bagaimana cara teman mengatasi bila ada kejadian seperti itu? Orang tuaku dulu mengepal nasi panas dan ditelan bulat-bulat sambil memutar piring. Kuikuti cara ini tetapi lama juga masih terasa ada yang tersangkut. Petugas rumah makan bilang caranya makan nasi kepal yang dibuat oleh orang yang lahir sungsang, sayang nya orang itu tak ada he.he…. (Dulu, pernah ada orang yang datang ke puskesmas dengan masalah seperti ini, tinggal dijepit saja tulang yang bandel itu dengan pinset, ketika giliranku yang terkena kok malah kerepotan sendiri he..he…).
Keesokan harinya dengan diantar teman kami mengarah ke Ubud dan Kintamani. Dalam perjalanan sempat mampir di Bird Park, tetapi kami tak masuk ke dalam hanya di bagian depan saja. Taman ini cukup luas, sehingga kami takut tak sempat mampir ke tempat-tempat wisata khas Bali, maka segera kami tinggalkan lokasi dan melanjutkan perjalanan.
Tujuan kami ke museum Antonio Blanco yang terkenal itu. Museum bergaya bangunan Eropa dan Bali di lahan yang cukup luas dengan taman gaya Bali yang terawat apik. Tiket masuk untuk turis lokal Rp 30.000,- dan para tamu diberikan suguhan welcome drink dengan sedotan yang cantik dihias janur. Kami disambut oleh menantu pak Blanco yang ramah dan cantik yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk sembahyang di pura keluarga dan untuk hari raya Kuningan esok hari. Kami diarahkan ke museum dulu. Museum berlantai dua dan ada tangga ke atap untuk melihat pemandangan seluruh Ubud yang berbukit-bukit. Pengunjung hanya boleh berfoto di pintu masuk museum yang ada lukisan wajah sang pelukis. Lukisan lainnya tak boleh difoto.
Almarhum Antonio Blanco adalah pelukis asal Spanyol yang datang ke Bali berpuluh tahun lalu dan jatuh cinta dengan Bali dan memutuskan menetap di pulau cantik ini dan membentuk keluarga dengan seorang wanita Bali di Ubud. Ia terkenal dengan satu gaya melukis yang menonjolkan keindahan wanita.
Keluar dari museum ada studio lukis tempat putranya, Mario Blanco, yang kini meneruskan merawat museum. Lukisan yang dijual hanya karya Mario Blanco, sedangkan karya ayahnya hanya untuk koleksi keluarga.
Selain melukis ternyata Mario Blanco penangkar burung yang serius, ada kandang jalak Bali yang langka di dekat pintu masuk museum dan berbagai jenis burung lainnya di bagian samping.
bersambung






Pastikan juga membaca informasi-informasi penting seputar Bali, Peta Bali, informasi tempat makan/restoran murah, tempat hiburan, daftar cafe di Bali, informasi tiket pesawat ke Bali dan informasi penting lainnya agar liburan ke Bali menjadi sangat menyenangkan.
kecelakaan ketelan duri, ibu menjewr kuping dg ditarik ke atas dan samping. punggung ditepuk tepuk mbak monda. tentu makan dan minum juga untuk mendorong duri yang tersakut.
bali memang oke ya mbak tetapi budaya kita adil itu selalu dinomor sekiankan atas nama orang yang kita anggap lebih.
Ping-balik: Weekly Photo Challenge : Unfocus « Kisahku
Cerita tentang Bali itupasti menyenangkan ya. jadi kangen Bali. Bener deh ceritanya bisa membangkitkan keinginanuntuk ke bali lagi.:-)apalagi yang belum pernah tambah penasar
an deh. Saya juga belum:-)pernah ke museum Antonio Blanco. Ih seru yaaaaaa. Insya Allah dalam waktu dekat ingin main kesana.
Oh ya kok sewa mobilnya murah sih? Boleh dongminta no teleponnya.tks ya buatrefernsinya.
Salam dari Bandung.