Kisah Nyata berikut ini diceritakan oleh saudariku Yuni, di Notes FBnya, karena tersentuh akupun ingin membagikannya di sini, tentu saja seijin yang empunya tulisan tanpa merubah sedikitpun. Mudah-mudahan bermanfaat.
Hari Minggu Pagi tanggal 31 Juli lalu, saya mendengarkan ceramah ustad Yusuf Mansur di TVRI, ada penggalan ceritanya yg bikin saya tergugah banget, yang keinget terus sampai sekarang. Ini tentang orangtua salah satu jemaahnya Ust Yusuf Mansyur.
Konon bapak ini semenjak dia pensiun, dia selalu menjaga shalat 5 waktunya tepat waktu dan selalu dilakukan di Mesjid. Mesjidnya itu letakknya didataran yg lebih tinggi dr rumahnya, jadi dia harus ada effort lebih untuk menuju Mesjid. Tapi Beliau selalu menjalankan ibadah shalat 5 waktu di Mesjid itu tak putus.
Sampai suatu ketika beliau sakit keras, sehingga tidak bisa menunaikan shalat 5 waktu di Mesjid. Tapi Beliau tetap berkeras hati, minta untuk digotong untuk menuju Mesjid. Konon, keluarganya lah yg akhirnya bergantian menggotong Bapak ini.
Lalu, kebiasaan ini kemudian tidak diteruskan oleh Bapak ini. Dia tidak mau lagi digotong ke Mesjid. Keluarganya berpikir, mungkin dia sudah kelelahan karena sakitnya yang parah. Dan, muncul igauan-igauan, sering pada menit-menit sebelum masuk waktu shalat, si Bapak berucap “waalaikum salam”. Keluarganya tidak berpikir apa-apa tentang ini, mereka pikir itu hanya khas igauan orang yang sudah sakit parah.
Namun, pada suatu hari si bapak mengumpulkan keluarganya, dan dia berkata “keluargaku, didepan pintu itu sedang berdiri seorang pemuda gagah dengan wajah yang bersih diliputi cahaya, namun ini bukanlah jam sholat, pemuda ini biasa menggendong aku menuju mesjid setiap shalat 5 waktu, sekali lagi ini bukanlah jam sholat, mungkin ia datang kali ini untuk menjemputku selama-lamanya” kemudian ia memberi pesan dan meminta maaf kepada keluarganya, setelah itu, ia berkata “waalaikum salam” dan setelah menjawab salam itu, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
SubhanaAllah.
saat menyelesaikan bacaan bait terakhir, saya langsung merinding…. Subhanallah..
trims sob atas kisah yg begitu inspiratif ini
beneran kah???
pasti beliau sudah berbahagia disana
=)
tidak mudah untuk bersikap konsisten…jangankan sholat di awal waktu, terkadang sholat aja ada yang tertinggal…..mudah2an saya bisa seperti bapak yang diceritakan ooleh bu Monda
Wow, amazing story
Kisah nyata, Mba? Mbuh, ah. Kisah nyata atau tidak, yang penting ini akan jadi pengingat bagiku untuk lebih baik dalam shalat. Tuh, kan… udah jam 4 lewat, tapi aku lom shalat Ashar…hiks..hiks.. Makasih ya mba udah ngingatin…
Tempa yang indah pasti ada padanya….
subhanallah…amazing sekali mbak monda,,,sebagai pengingat diri…
subhanallaaaaaaaaaaaaah
speechless deh
Subhanallah..saya merinding membacanya. Jadi merasa diingatkan untuk tak menunda2 sholat bun. Tfs
Mengingatkan kita akan pentingnya shalat lima waktu …..
Duh…jadi merinding… Trimakasih sdh share kisah ini mbak…sangat memotivasi & sekaligus ‘mencubit’ku…
Subhanaallaah ya bun
Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Monda…
Alhamdulillah, senang dapat hadir membalas kunjungan mbak di blog saya. Mudahan kebaikan selalu bersama kita dalam menjalani ibadah puasa di bulan barakah ini.
Subhanallah, kisah nyata yang sungguh mengesankan buat kita yang masih kuat dan sihat untuk menjalani ibadah solat di masjid secara konsisten. Sungguh kuat semangat dan taatnya bapak itu untuk terus menjalani solat berjemaah di masjid walau harus melalui kepayahan disebabkan kesihatan beliau.
Semoga kisah di atas akan menyemarak semangat dan kekuatan dalaman kita untuk mengikuti jejak yang sama. Beruntungnya jika mati kita dalam keadaan khusnul khatimah. Mudahan pengakhiran hidup kita juga seperti ini dalam redha dan rahmat Allah.
Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.
Mba Mon, tertegun Ning membacanya euy…
Subhanallah…
Maha besar Allah ya…
subhanallah…..
buat yg punya blog, nice post