Museum Sumpah Pemuda terletak di sebuah jalan raya yang sangat ramai, jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Kendaraan umum yang melewatinya salah satunya adalah bus Trans Jakarta Koridor Kampung Melayu – Ancol dengan pemberhentian bernama Pal Putih. Daerah ini disebut juga Rivoli oleh masyarakat sekitar dan kondektur bis kota lainnya, merujuk bekas bioskop yang banyak memutar film India. Tetapi jika membawa kendaraan sendiri patokan letak gedungnya di sebelah kiri jalan sebelum jalan layang menuju Senen (dari arah Kampung Melayu).
Dahulu gedung milik Sie Kok Liong ini adalah rumah kos untuk para mahasiswa STOVIA (sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional) yang letaknya masih di bilangan Senen juga di dekat RSPAD Gatot Sobroto sekarang, yang jika berjalan kaki santai hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit, waktu tempuh saat ini di antara keramaian lalu lintas, dahulu mungkin lebih singkat lagi. Mula-mula rumah ini dikontrak Jong Java, tetapi lama kelamaan semakin banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah dan perkumpulan yang berkumpul di sini, sampai akhirnya tercetuslah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Memasuki Museum yang karcisnya hanya seharga Rp 2000, kami juga diberikan buku panduan tipis tentang sejarah Sumpah Pemuda. Gedung ini kecil saja, sewajarnya ukuran rumah tinggal, terbagi atas bangunan utama dan paviliun. Gedung masih terlihat apik dengan lantai gaya lama yang masih mengkilat. Pengunjung diarahkan untuk masuk ke bangunan utama yang terdiri atas serambi depan, satu ruang tamu, 5 kamar, dan satu ruang terbuka atau ruang rapat. Sedangkan bangunan paviliun memiliki 2 kamar.
Pengunjung diarahkan ke kamar di sebelah kiri yang memajang koleksi foto dan berbagai pernik kePramukaan. Keluar dari ruangan ini saya sangat dikejutkan dengan jejeran diorama orang yang sedang berkongres (foto bawah) yang sedang memperhatikan WR Supratman memainkan biolanya, karena sepintas mirip sekali dengan manusia. Teks lagu Indonesia Raya tampak di belakangnya. Replika biola milik sang komponispun ada di sini yang diletakkan dalam sebuah kotak kaca. Koleksi lainnya sebagian besar adalah foto-foto dan berbagai dokumen. Yang unik ada sebuah vespa tua milik salah seorang tokoh pemuda.
Pengunjung ke museum ini memang bisa dikatakan sedikit meskipun terletak di tepi jalan raya yang sangat ramai. Keramaian hanya terlihat pada Hari Sumpah Pemuda.


Mbak…
aku tuh paling takut lihat diorama
apalagi kalo dioramanya segedhe orang beneran