Lagi, Cerita Anak SMP

perangko pelita pendidikanSekali lagi  dapat pekerjaan rumah mengenang masa sekolah, kali ini PR datang dari Dhey, adik kelas yang  dengan gagah berani rela mengakui  sejaman  denganku, walaupun beda tipis ,  (betul bu ,  kita beda tipis ya , setipis kertas , satu rim tapinya he…he…).

Masa SMP ini rasanya sudah pernah kutulis di beberapa artikel , tapi lompat sana sini karena dulu kan ada gerakan menulis dengan tema anak SMP. Baiklah, coba menggali cerita  kenangan manis di SMP yang awalnya  dari Putri Amirilis.

Semua tingkatan sekolahku dilalui  di lebih dari 1 sekolah (kecuali kuliah). Kelas 1 SMP di Sorong, Papua, lalu kelas 2 pindah ke Balikpapan sampai tamat. Cerita di Sorong, antara lain ada di kisah kunjungan ke kepulauan Raja Ampat.

Semua sekolahku itu di swasta,  SMP yang berlokasi di wilayah bernama Klandasan  di Balikpapan  ini milik perusahaan tempat papaku bekerja, sehingga  gratis uang sekolah dan buku. Sekolah ini dekat dari rumah, cukup jalan kaki saja dengan memotong jalan pintas melewati rumah orang. Bila sedang malas jalan, ada bis jemputan yang berhentinya persis di depan rumahku. Bis inipun sepanjang hari ada  beroperasi melayani penghuni kompleks kami yang cukup luas, sehingga kalau main ke rumah teman ataupun ke perpustakaan, berenang, ke pasar ya pakai bis ini. Bis Rosa namanya.

Sewaktu pindah  ke kelas 2, pastilah masih malu-malu sebagai anak baru, apalagi  cara bicaraku masih ada dialek Sorong. Dan, memang dahulu aku dikenal pendiam dan pemalu, sampai sekarang juga masih lho wk..wk…

Kuingat sehari setelah  sampai di Balikpapan  langsung masuk sekolah. Aku masih belum berseragam dan masih pakai sepatu untuk jalan-jalan  karena sepatu sekolah masih di dalam peti yang belum dibongkar. Malu, dilihatin anak-anak satu sekolah. Tetapi, rupanya teman-teman baruku itu baik sekali. Tak ada yang mengganggu, tak ada bullying, malahan  kami semua sangat akrab sampai sekarang. Pokoknya, adaptasi berjalan mulus, mungkin karena di lingkungan sekolah ini banyak murid pindahan yang keluar masuk sekolah mengikuti penugasan orang tua masing-masing.

Perbedaan pelajaran yang paling kurasa yaitu bahasa Inggris,  banyak sekali kata baru yang belum pernah kupelajari karena buku pelajaranpun berbeda. Untuk mengejar ketinggalan itu setiap hari belajar bahasa Inggris  di rumah, buka kamus dan belajar pada papaku. Apalagi pelajaran bahasa itu salah satu favoritku, ditambah lagi gurunya, pak Marlin, baik dan charming, bahkan sampai 28 tahun kemudian ketika berjumpa di reuni. Merasa tak cukup belajar di rumah dan di sekolah, akhirnya aku ikut les di BIEC (Balikpapan Intensive English Course,  pak de ku juga alumni sini lho, hi..hi…  kalau tak salah pernah diceritakan oleh beliau, kalau salah ya maaf, hi..hi..). Alhamdulillah, dari yang tadinya tertinggal akhirnya aku bisa keluar paling duluan ketika ujian bahasa Inggris di sekolah.

Pelajaran lainpun banyak yang berbeda, tetapi semua pada akhirnya bisa kuikuti, meskipun tak jadi juara kelas, tetapi pernah diikutkan dalam lomba cerdas cermat melawan sekolah lain. Kelompokku menang juara satu, dan setelah upacara oleh  Kepala Sekolah  kami ditampilkan di depan. Bangganya bukan main, he..he… anak dari pelosok gitu loh.

Di kelas 2 SMP ini pula,   kami mengalami perpanjangan satu semester, yang seharusnya Januari 1979 aku sudah kelas 3, dimundurkan menjadi Juli . Jam pelajaran jadi lebih longgar, karena  pelajaran wajib sudah selesai dibahas. Sebagai gantinya ada tambahan pelajaran baru dan ekstra kurikuler. Aku ikut  Bina Musika yang  di akhir semester bisa mengisi acara di TVRI lokal. Hebohnya masuk TV untuk pertama kali. Karena stasiun TVpun masih kecil dan belum punya studio , maka rekaman suara dilakukan di dalam bioskop Banua Patra malam hari  supaya tak berisik dan rekaman gambarnya di halaman gedung TVRI.

Beberapa teman semasa SMP   ini sudah pernah bertemu lagi. Ceritanya   ada di So Lama Tara Bakudapa.   Dengan teman-teman dari Balikpapan pun sering bertemu. Kami punya milis alumni SMP Balikpapan khusus angkatan kami  dan akhirnya spontan reuni ke kota itu lagi. Ceritanya ada di  Mudik Anak SMP.

Dulu di sekolah ada pelajaran prakarya yang  agak lain dengan yang diterima  anak-anakku sekarang. Kami diajarkan membuat sabun, deterjen dll yang tak kuingat lagi, dan ada acara masak memasak di sekolah. Guru yang mengajarkan ini Ibu Sri. Di reuni itu  ibu membacakan puisi Surat Dari Ibu karya Asrul Sani, yang sukses membuat kami semua bertangisan.

Cerita sekolah tanpa cerita jajanan rasanya tak lengkap. Selain bakso ada juga jajanan kesukaan kami berupa  ubi rebus ditambah saus kacang, yang rasanya mirip bumbu siomay. Minuman favoritnya waktu itu, yang kurasa hanya kutemui di sana bermacam-macam  es sirup.  Aku suka es temulawak dan kopi bir.  Orang tuaku sempat menegur menanyakan  kopi bir itu apa, karena dikira ada alkoholnya. Tapi, memang tidak ada alkohol, rasanya saja yang mirip antara kopi encer. dan sarsaparilla.  Tak tahu kenapa bisa dinamakan seperti itu.

Sebetulnya banyak cerita  di sini ,  rasanya kami  seperti mengenal akrab semua keluarga inti teman-teman, karena banyak adik-adik kami yang saling berteman juga. Cerita seru di SMP ini, salah satunya termasuk cerita heboh, tapi cukuplah ini menjadi bahan ledekan kami di milis saja ya, ha..ha..ha..

Kasih lanjutan PRnya untuk siapa ya? Mungkin para anak keponakan berikut ini belum dapat tugas ya, silahkan….

1. Lozz Akbar, rasanya belum dapat PR2an ya

2. Hani

3. Fitri Melinda

4. Tunsa

About these ads

54 thoughts on “Lagi, Cerita Anak SMP

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s