Kopdar berawal dari status FB Putri Usagi dan Dhila yang sekali lagi mengajak merconan, alias makan yang serba pedas, seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Karena banyak yang tak bisa maka kuajak saja teman-teman bergabung jalan-jalan menelusuri gedung tua. Kuracuni adik-adik blogger dengan virus gedung tua sekalian jadi pengawalku ha..ha.. Akhirnya yang bisa datang hanya Dhila.
Maka akhir pekan kemarin kuhabiskan dengan jalan-jalan ke daerah Jakarta Pusat, ke daerah -daerah yang disebut Boplo, Gondangdia dan Cikini (kawasan yang sangat berdekatan) bersama Kelompok Sahabat Museum. Tujuannya tak lain adalah mengenal gedung-gedung tua.
Aku dan Dhila berjanji bertemu di lokasi saja. Ternyata pas aku datang acara baru saja dimulai, dan ada gadis cantik berkerudung coklat yang melambai ke arahku. Mungkinkah dia Dhila? Kuhampiri kerumunan yang sedang mengelilingi narasumber itu dan kucolek dari belakang sambil agak takut salah orang. Akhirnya bertemu juga dengan Dhila yang sudah cukup lama berteman di dunia maya. Maka, kopdar dilakukan di sela-sela jalan-jalan.
Yuk, kita cerita tentang acara yang bernama Plesiran Tempo Doeloe dengan menghadirkan narasumber mbak Nadia dari Pusat Dokumentasi Arsitektur.
Lokasi pertama dan tempat pendaftaran di lapangan parkir Masjid Cut Meutia di kawasan Boplo, yang sangat dekat dengan kawasan Cikini dan Gondangdia. Nama masjid ini mengikuti nama jalan tempat masjid berada.
Asal nama kawasan Gondangdia ini katanya berasal dari seorang wanita terkenal yang tak jelas namanya, tetapi sering disebut Kondang Dia dan akhirnya berubah bunyi. Persis di belakang Gedung Boplo ada stasiun kereta Gondangdia yang merupakan bagian dari rute menuju dan dari stasiun Gambir.
Masjid Cut Meutia dahulu tidak dimaksudkan untuk tempat ibadah. Pada mulanya gedung ini adalah kantor pemasaran perusahaan pengembang N.V. de Bouwploeg, yang membangun perumahan di kawasan Boplo Gondangdia. Orang kita lebih fasih mengucapkan kata Belanda ini dengan Boplo . Perusahaan ini didirikan tahun 1912 oleh PAJ Mooijen.
Langgam arsitektur gedung ini dianggap sebagai ciri khas Hindia Belanda, karena gedung yang dibangun di masa sebelumnya dianggap oleh para arsitek muda Belanda hanya copas bangunan di Belanda sehingga tak ada karakternya. Ada 2 gedung fenomenal yang lokasinya berdekatan yaitu gedung Boplo dan gedung Kunstkring.
Gedung Boplo itu sejak perusahaan bangkrut berulang kali berubah fungsi menjadi kantor dari berbagai instansi. Fungsi sebagai mesjid sejak 1985.Karena awalnya gedung kantor maka banyak yang tak sesuai dengan kebiasaan bentuk masjid. Posisi mihrab yang berada di bagian tengah gedung dan persis di bekas tangga utama, tak sesuai dengan arah kiblat. Tangga juga sudah dipotong tahun 1995 agar lebih banyak menampung jamah. Tetapi sisa tangga masih ada dan bisa dinaiki dari tangga di bagian depan.
Gedung ini pernah menjadi berita utama di media karena sempat dipakai sebagai Buddha Bar yang banyak menuai protes atas pemakaian simbol agama Budha sebagai hiasan restoran dan bar tersebut. Kini gedung ini dipakai oleh restoran lain, Bistro Boulevard
Sejak awal dibangun bagian bawah gedung memang dipakai sebagai restoran. Kami diijinkan masuk ke dalam restoran yang masih belum buka, maklumlah masih pagi hari, kami hanya melihat-lihat bagian bawah, lantai dua tak bisa dimasuki karena sedang ada pekerjaan . Interior restoran indah karena masih mempertahankan bentuk asli bangunan meskipun suasana sudah terlihat tak terlalu kuno . Dari tampilannya bisa diperkirakan restoran ini termasuk mahal, tapi aku lupa mencek daftar harganya ..ha..ha… Di dinding terpajang foto-foto kuno gedung, termasuk suasana pameran lukisan pelukis top dunia yang disebut tadi.
Di sebelah gedung ini yang masih berada di satu halaman ada gedung karya F Silaban arsitek yang merancang masjid Istiqlal, Bank Indonesia, dll. Di kedua gedung ini rombongan hanya masuk sampai ke lobby saja. F Silaban dikenal sebagai arsitek yang hanya mau memakai bahan material kelas satu agar bangunan dapat bertahan lama. Beliau banyak ditunjuk untuk membuat gedung fenomenal sebagai upaya Presiden Soekarno untuk membangun bangsa , Nation Building.
Di seberang kedua gedung bank ini ada Kantor Pos Cikini yang bergaya art nouveau. Kantor pos masih dipakai sampai kini, tetapi sayangnya rombongan tak mendapat kesempatan masuk ke dalamnya. Lain waktu ingin juga mampir ke sini untuk melihat bagian dalamnya.
Setelah dari sini acara berakhir dan rombongan kembali ke titik awal di Masjid Cut Mutia. Aku dan Dhila melanjutkan cerita di tangga masjid dan berakhir dengan makan siang berdua.
Cerira versi Dhila ada di sini







Senengnyaaaa…
Lagi-lagi saya belum pernah kesana.
Jadi nggak bisa komen deh
nggak apa kok mbak
Hehe… teteup gak ada penampakan wajah Dhila
Semoga suatu saat bisa ikutan tur-nya Mbak monda
kemarin itu padahal Akin ada di Jakarta ya, tapinya mesti kondangan sih ya
Waaah anggota BatMus juga ya? Aku sudah lama ikut milisnya, tapi tidak pernah ada acara yang pas dengan jadwal mudikku. Nanti tahun depan mau dong mbak, diajak ke tempat-tempat begini. (Museum Harry Dharsono juga belum….. hiks)
tau depan pulangnya masih di bulan puasa ya mbak?
mudah2 an ada program jalan2 ya, ke musium HD mungkin bisa
aku lumayan suka di daerah seputar cikini ini mbak. masih banyak gedung tua, dan nggak terlalu jauh dari tempat tinggalku hehehe. kapan-kapan kalau kopdar, ajak-ajak dong
sip..sipp..ntar dikabar-kabari lagi ya
pengen dech jalan2 ke musium sperti ini…apalagi kalo rame2…tp sayang anak2ku msh kecil…agak ribet jadinya….mo diajak ribet, ngga diajak kasihan heheh…..koq ngga ke kota bun? biasanya klo wisata kota tua, tujuannya selalu ke kota (beos dan sekitarnya)
nggak ke Kota Tua, ganti suasana mam, karena banyak bangunan tua yang tersebar di beberapa tempat juga yang belum dikunjungi
iya dulu waktu masih punya anak kecil juga nggak bisa leluasa jalan2 mam
berkunjung sob..salam blogger
sukses selalu yah..:)
Aiiih keren sekali foto2nya. Untuk acara2 seperti ini ada emak paruh baya gak yang ikut. Kalau ada lain kali diadakan mau dong bergabung
ada dong, aku duluan angkat tangan mbak he..he…
malah biasanya banyak yang sepuh, yang udah 60an
sepertinya teman-teman bloger dah serih ikut kopdar nich, cuma saya yang belum.
salam kenal dari endi piran, dukung persamaan hak untuk penyandang disabilitas di Indonesia. kunjung balik ya sob………..
|ngarep |malu…..
Selalu iri kalau lihat teman2 yang segera membuat postingan usai acara kopdar ;D
Saya? sudah..hmm…sampai lupa sudah berapa hari sejak acara kopdaran sama Amel saya belum juga nulis ceritanya ;D
#nyari semangat dulu yaa.. -__-”
iya nih mana mam cerita kopdarnya
Mbak…
lain kali ajak aku ajaaa…
hehehe
sayang jauh ya
kabarin dong kalau ke Jakarta,
taunya udah nyampe Tanah Abang aja
Wilayah tur yang tidak luas dan masih banyak pohon rindangnya. Cari operator turnya, ah.
ikut milisnya aja pagit
whaaaa, padahal aku mau ikutan….
ngerayu Rafif tetep aja keukeuh pengen nungguin kakaknya lomba dan kemah di sekolahan….
smg kali lain bisa ikutan keg sahabat muweum dan dpt bonus ketemu mbak Monda ya….
Rafifnya nggak ikut kemah?
dia kepengen mungkin mbak,.. nggak apa2 deh, lain kali insya Allah
ini ada acara untuk anak2 , tapi sayangnya hara selasa
http://www.facebook.com/events/120213884758353/
Saya paling gak pernah jalan2 di tempat bersejarah kecuali Monas dan Museum TNI.
Kapan kirim artikel untuk blog Plesiran ku bu dokter??
Salam hangat dari Surabaya
cerita jalan2nya udah diceritain semua di sini pak de
boleh digarap ulang lagi nggak? he..he…
Baca kata Boplo malah jadi inget gado2 bun hehehe. Itu gado2 boplo yang sangat terkenal krn kuah kacangnya pake kacang mente. Apakah memang mereka mengambil merk dagangnya dari sana ya?
gado2 Boplo itu memang mula2 buka di daerah Boplo situ mbak, depan stasiun
kemarin itu nyari juga, tapi kok nggak ada lagi