Terinspirasi dari tulisan Ni tentang belanja buah, tertular ingin cerita tentang buah juga, karena mau menulis di kolom komentar terlalu panjang he..he…
Tiga hari lalu sepulang kerja, kumampiri tukang buah di dekat pintu masuk kompleks. Tujuan semula ingin mencari pisang Ambon lumut kesukaan anak-anak, tapi yang ada hanya pisang Cavendish yang bukan favorit. Akhirnya karena tak ada yang dicari, kulihat sekeliling toko, buah apa lagi yang ada di sana. Ada salak, jeruk, melon dan pepaya.
“Pepaya harganya berapa pak?”
“Ada yang 3500 ada yang 8000 sekilo” kata si penjual “yang besar ini yang 3500″
Kulihat pepaya berkulit hijau kemerahan yang sering kita temui sehari-hari. Dan pepaya yang seharga Rp 8000,- itu lebih kecil dan langsing, kulitnya hijau pucat , kira-kira lebih besar sedikit dari timun suri.
“Pepaya apa ini pak? Manis tidak?”
“Pepaya California bu, manis sekali”
“Ini betul dari California, langsung dari sana?” aku agak sedikit menyelidik, maunya sih cari buah lokal saja.
Agak sewot dia menjawab : ” Tidaklah bu, ini kan sudah ditanam di sini”
Akhirnya kubeli juga sebuah pepaya California itu dan minta dipilihkan yang bagus. Satu buah itu ketika ditimbang persis sekilo. Jadilah, makan malam itu pepaya California jadi hidangan pencuci mulut. Bertanya-tanya soal rasanya, agak sedikit ragu dengan tampilan luarnya.
“Enak sekali. Nah, ini pepaya rasa hotel bintang lima” kata suami setelah mencicipi
Dia bilang rasanya manis sekali. Bukan jenis pepaya hambar yang sering dibilang orang “pepaya burung”, alias pepaya untuk umpan makan burung peliharaan.
Saat ingin mencari info tentang kabar pepaya California, kutemukan artikel ini di Republika.co.id.. Pepaya California itu adalah asli dari Indonesia, yang merupakan varietas pepaya temuan Prof Dr Ir Sriani Sujiprihati MS dari Institut Pertanian Bogor.
Pepaya ini kini sudah banyak ditanam petani karena tingginya permintaan pasar. Ternyata ibu profesor menamakan varietas yang dimuliakan bertahun-tahun ini dengan nama callina. Pepaya ini memang rata-rata berukuran 1,3 kg. Nama Callina yang cantik ciptaan profesor di tangan pedagang berubah menjadi California, padahal para petani masih juga menyebutnya callina..
Taktik pedagang yang masih meng”anak-emaskan” segala sesuatu dari luarlah yang menyebabkannya. Pepaya jenis lain , pepaya carisya temuan Dr Sriani dkk di PKBT IPB, setelah di supermarket namanya berubah menjadi pepaya Havana.
Bagiku nama asing tak berpengaruh, malah hampir membatalkan niatku membelinya. Buah lokal masih yang terbaik menurutku. terbukti kan buah enak ini hasil temuan bangsa sendiri. Terima kasih bu profesor, tampaknya buah ini akan sering hadir di meja makan kami.
Ping-balik: Cerita Pepaya « LJ.returns
Nemu blog ini di google search dengan kata kunci “pepaya california”
Thanx dah sharing…
Salam ^_^
Trims sudah mampir aryna
hai aryna, terima kasih sudah mampir ya
Ping-balik: Terubuk dan Roti Buaya « Kisahku
Ping-balik: California [Cinta Produk Dalam Negeri] « Tunsa
Ping-balik: Callina « Rindrianie's Blog
Saya senang sekali bahwa pepaya california itu adalah peroduksi dalam negeri. Karena saya sudah kadung cinta Mb. Walaupun sebetulnya saya yakin pasti sudah ditanam di Indonesia. Seperti durian monthong pun meski namanya durian bangkok tapi banyak yang sudah membudidayakannya di lampung.
Iya betul da, kalau memang asal dalam negri ya pakailah bahasa sendiri ya
Bu Sriani dosen Oyen bu Monda, telah berpulang tahun lalu karena sakit di RS Sarjito, Jogja. Beliau salah satu pemulia terbaik yang dimiliki Indonesia, salah satu sosok yang menentang keras kebijakan impor buah, dosen terbaik nasional 2007, pembimbing yang luar biasa, saya salah satu hasil tempaan beliau. Seorang profesor yang low profile dan sangat sederhana. Satu2nya dosen yang bisa dekat dengan hampir seluruh mahasiswanya, saya salah satunya. seorang dosen yang menolak banyak tawaran mengajar di luar negeri demi dedikasinya pada ilmu pengetahuan di indonesia
Semoga Allah membalas seluruh amal kebaikannya, ilmunya menjadi amal jariyah yang tak akan terputus dan mendapat tempat terbaik di sisiNya. Amin
beliau orang yang sangat baik ya
semoga diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya , aamiin
mbak, aku sekarang suka sekali pepaya california ini. dulu kupikir juga impor, ternyata bukan. buahnya memang manis dan dagingnya tebal. kadang di toko buah ada yang pakai label yg menyebutkan bahwa buah pepaya tersebut dijamin manis.
tapi hari ini aku dapat yg kurang manis, bukan matang pohon mungkin
perlu dicoba itu mon, tapi belinya di pasar ya? kalo di kerfur2 gitu ada gak ya
Adalah keknya, coba deh, kl dibanding pepaya Bangkok jauh banget ukurannya
Benar banget mbak. Kebanyakan dari kita lebih mempercayai buah impor sehingga pada akhirnya buah lokal kalah bersaing. Akibatnya para pedagang menggunakan berbagai cara dan trik supaya dagangannya laku
saya lebih suka namanya tak dimainkan oleh pedagang. Seolah2 yg lokal tak bermutu. Kalau kedelai slamet hasil dari UNSOED yg setinggi 1 m mau diganti nama apa oleh pedagang
Kenapa enggak dinamai lokal aja ya Te.. misal pepaya Paijo atau Pepaya dasrun.. kan keren tuh?
wah,, pepaya yang luar biasa ya mbak Mon…
asli Indonesia, memang selalu mak nyusss…
makasih bu prof,, peninggalan yang baik dan bermanfaat tentunya…
apapun pepayanya tetap suka pepaya, mbak monda dan sayangnya selama di jepang gak pernah makan pepaya karena harganya yang setinggi langit
betul sekali, bahasa marketing sangat banyak yang bertentangan dengan isi kontennya, mau bagaimana lagi, pedagang juga butuh supaya dagangan laku, kalau yang dipakai Callina kemungkinan akan dipandang sebelah mata aja
ah, padahal nama Callina juga cantik ya mbak… nyoba nyari di tempatku ah, pengen coba juga manisnya…
saya juga baru tau nih, nanti akan saya coba cari di supermarket
Jadi pengen…
Dulu di rumah kami banyak pohon pepaya yg tumbuh liar. Rasanya juga manis sih. Makanya dulu kami sering makan pepaya. Malah ibunda bikin sayur dari pepaya, ngirit, hehehe…
Kalau pepaya Callina & Carisya sih belum pernah beli. Trims info-nya. Kapan2 nyoba ah…
Saya jarang ke pasar atau supermarket, jadi malah nggak tahu nama pepaya seperti tulisan mbak Monda di atas. Dulu kan hanya ada pepaya Cibinong (kenyal dan manis), pepaya Bangkok.
Tapi marketing nya penjual bagus juga karena tahu kalau orang Indonesia suka yang berbau asing.
pepaya california itu sekarang malah sering dibawa oleh tukang sayur langgananku, BuMon
dan, memang anak dan suami merasa lebih suka dgn pepaya tsb.
nama asing, rasa asik, tapi hasil anak negeri …
salam
kalau saya tidak suka dengan pepaya california.. sering dapet yang ga manis. lebih suka yang bangkok lebih murah lebih manis…
ternyata pepaya california itu buatan indonesia… mantap..
belum pernah makan aku mbak pepaya jenis ini , lebih manis mana dgn pepaya bangkok ?
Nah itu dia Bunda.., ASING telah begitu mengambil tempat untuk disanjung puja di kehidupan sekitar kita… padahal ASING itu tidak selalu baik.. di dunia politik misalnya, ASING itu jahat sekaleeee….
Jadi, banggalah dengan ploduk ploduk dalam negli..
Sebenarnya memang banyak sekali konsumen (masayarakat) kita yang lebih menghargai segala sesuatu yang berbau “luar”. Walaupun memang tidak semua konsumen seperti itu.
Peluang ini ditangkap oleh para pedagang yang berpegangan pada “yang penting konsumen senang, dan barang dagangan saya laku” untuk mengisi celah pasar ini dengan cerdik. Akhirnya muncullah berbagai merk lokal yang berbau asing untuk menggenjot penjualan. Di segal lini, termasuk buah. Anehnya tetap saja banyak yang mau membeli walaupun rata-rata harganya lebih mahal dari yang berbau lokal.
Spt ayam sama telor. Banyak konsumen berpersepsi bahwa produksi indonesia kurang ok kwalitasnya, lalu cenderung berburu yang berbau asing. Sebaliknya karena banyak konsumen yang mencari produk yang berbau asing, produsen/pedagang jadi cenderung memberi perhatian lebih pd yg berbau asing juga – biar laku.
keren juga nama pepayanya
(halah ngomong apa saya ini)
orang2 indonesia mmg hebat, hanya terkadang masyarakat sendiri yang terlalu fanatik dan meomorsatukan apa-apa yang berbau luar
klo saya setuju ma mba thia, buat hidangan pembuka saja deh mba, daripada penutup
Oooh ternyata namanya Callina… Iya emang enak bgt Bun pepaya Callina ini.. Tp kadang di toko buah nggak nemu jg…hehehe
Ohya Bun… Lebih oke lg klo pepaya bukan pencuci mulut bun… Tp dijadikan hidangan pembuka.. Aku lg ngerubah dikit2 nih Bun.. Demi terapi sakit lambung hihihi…