Tour de Ranah Minang : Menuruni Ngarai Sianok

Posted on Juli 21, 2012

61


Jalan-jalan di Ranah Minang tiap harinya selalu ada kejutan tak terduga bagi kami. Hari pertama di Bukittinggi, cek in di hotel langsung mandi sore, karena jam 4 kami akan  langsung diajak wisata dalam kota, ke Jam Gadang, Pasar Ateh dan ke Ngarai Sianok. Kusangka, kami hanya akan memandang jurang yang terkenal ini dari atas, dari taman Panorama, ternyata, ada jalan menuju ke lembahnya, pakai mobil pula, tak perlu trekking.

Jadi, di taman Jam Gadang itu ada taksi sedan tua mangkal, sistimnya bukan argo, tapi sewa yang akan membawa kami menuruni ngarai sampai ke dasarnya. Sebetulnya ada angkutan umum yang melewati rute itu dari Jam Gadang juga, dengan ongkos 2 ribu rupiah, tetapi sore hari sudah tak ada. Taksi diminta menunggu saja sampai kami selesai bermain di situ.

Lambah adalah sebutan lain untuk Ngarai Sianok ini. Jalan menurun dan berkelok cukup terjal sampai melewati  rumah makan  itiak  lado ijo kesukaan uda Vizon, dan  jembatan kecil, maka  setelah lebih kurang 10 menit  sampailah kami di sebuah titik  tempat  berdirinya  sebuah resort bernama Taruko. Langsung diriku terkesima, tempat ini mengesankanku sejak melihat fotonya di sini. 

Kutipan dari Wikipedia mengenai Ngarai Sianok :

Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.

Menurut Wiki juga Batang Sianok bisa dialiri dengan kano dan kayak. Emak LJ sudah pernah kayaking di situ …?

Di Taruko resort ini ada sepotong batu besar yang merupakan bagian ngarai yang telah terpisah.  Sempat lupa namanya,  dan  harus  sms si eMak, namanya adalah Tabiang Takuruang, tebing yang terkurung. Lokasinya sangat  bagus, di tepi sungai kecil berbatu, dengan air yang mengalir di sela bebatuan membuat riakan  di sana-sini, sangat menggoda untuk masuk ke dalamnya.  Batang Sianok ini yang menimbulkan inspirasi untuk mengisi tema di Weekly Photo Challenge : Movement. Makanya, kata emak  obyek fotoku cuma air dan bunga, he..he.. Biasanya aku banyak mencari obyek foto, tetapi khusus perjalanan kali ini diarahkan gayanya dan dijadikan model oleh sang fotografer Adel Ilyas. Semua foto di artikel ini adalah karyanya.

 Di  tempat ini hanya ada resort ini saja, dengan beberapa pondok untuk menginap, sangat cocok untuk yang ingin menyepi. Udara yang sejuk dingin sangat  membius. Kebersihandan kealamian  tempat ini terjaga baik.

Melihat air mengalir di sela bebatuan yang dangkal itu, akhirnya tak sungkan menggulung kaki celana dan turun ke dalam air yang hanya sebetis. Mula-mula takut juga menginjak batu-batuan di dasarnya, takut  terpeleset karena sebagian batu sudah berlumut , tapi karena diceritakan bunda Lily saja berani sampai ke  tengah,  maka tak mau kalah langsung menerima tantangan he…he….

Keriangan bermain air terpaksa dihentikan oleh gerimis yang turun hampir setiap sore di  Bukittinggi. Menghabiskan sore itu kami duduk di pondok minum  teh dan coklat hangat.

About these ads
Posted in: wisata