Tour de Ranah Minang : Menuruni Ngarai Sianok

Jalan-jalan di Ranah Minang tiap harinya selalu ada kejutan tak terduga bagi kami. Hari pertama di Bukittinggi, cek in di hotel langsung mandi sore, karena jam 4 kami akan  langsung diajak wisata dalam kota, ke Jam Gadang, Pasar Ateh dan ke Ngarai Sianok. Kusangka, kami hanya akan memandang jurang yang terkenal ini dari atas, dari taman Panorama, ternyata, ada jalan menuju ke lembahnya, pakai mobil pula, tak perlu trekking.

Jadi, di taman Jam Gadang itu ada taksi sedan tua mangkal, sistimnya bukan argo, tapi sewa yang akan membawa kami menuruni ngarai sampai ke dasarnya. Sebetulnya ada angkutan umum yang melewati rute itu dari Jam Gadang juga, dengan ongkos 2 ribu rupiah, tetapi sore hari sudah tak ada. Taksi diminta menunggu saja sampai kami selesai bermain di situ.

Lambah adalah sebutan lain untuk Ngarai Sianok ini. Jalan menurun dan berkelok cukup terjal sampai melewati  rumah makan  itiak  lado ijo kesukaan uda Vizon, dan  jembatan kecil, maka  setelah lebih kurang 10 menit  sampailah kami di sebuah titik  tempat  berdirinya  sebuah resort bernama Taruko. Langsung diriku terkesima, tempat ini mengesankanku sejak melihat fotonya di sini. 

Kutipan dari Wikipedia mengenai Ngarai Sianok :

Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.

Menurut Wiki juga Batang Sianok bisa dialiri dengan kano dan kayak. Emak LJ sudah pernah kayaking di situ …?

Di Taruko resort ini ada sepotong batu besar yang merupakan bagian ngarai yang telah terpisah.  Sempat lupa namanya,  dan  harus  sms si eMak, namanya adalah Tabiang Takuruang, tebing yang terkurung. Lokasinya sangat  bagus, di tepi sungai kecil berbatu, dengan air yang mengalir di sela bebatuan membuat riakan  di sana-sini, sangat menggoda untuk masuk ke dalamnya.  Batang Sianok ini yang menimbulkan inspirasi untuk mengisi tema di Weekly Photo Challenge : Movement. Makanya, kata emak  obyek fotoku cuma air dan bunga, he..he.. Biasanya aku banyak mencari obyek foto, tetapi khusus perjalanan kali ini diarahkan gayanya dan dijadikan model oleh sang fotografer Adel Ilyas. Semua foto di artikel ini adalah karyanya.

 Di  tempat ini hanya ada resort ini saja, dengan beberapa pondok untuk menginap, sangat cocok untuk yang ingin menyepi. Udara yang sejuk dingin sangat  membius. Kebersihandan kealamian  tempat ini terjaga baik.

Melihat air mengalir di sela bebatuan yang dangkal itu, akhirnya tak sungkan menggulung kaki celana dan turun ke dalam air yang hanya sebetis. Mula-mula takut juga menginjak batu-batuan di dasarnya, takut  terpeleset karena sebagian batu sudah berlumut , tapi karena diceritakan bunda Lily saja berani sampai ke  tengah,  maka tak mau kalah langsung menerima tantangan he…he….

Keriangan bermain air terpaksa dihentikan oleh gerimis yang turun hampir setiap sore di  Bukittinggi. Menghabiskan sore itu kami duduk di pondok minum  teh dan coklat hangat.

About these ads

61 thoughts on “Tour de Ranah Minang : Menuruni Ngarai Sianok

  1. Jadi ingat masa lalu Mb, dulu saya pernah camping dua kali di daerah ini bersama teman-teman …
    Di tahun 2008 saya mengajak isteri dan anak-anak untuk main di Ngarai ini, berhenti di jembatan dan masuk ke sungainya.
    Pokonya seru…..!!!!

  2. waaahhhh lihat fotonya saja udah tahu itu air seger bangrt bun.. langsung pengen nyebur deh.. pas banget pontianak lagi panas panasnya ~_~

    • sangat berkesan mbak…,
      sampai2 anak2 menyesal pulangnya terlalu cepat, .. padahal mereka sendiri yang minta hari pertama sekolah harus masuk…, padahal nggak ngapa2in di sekolah katanya

  3. Bunda..masyallah..keren…
    asli jadi pingin..ada kawan yang dah resign dari tempat kerja dan balek ke kampung halaman di bukit tinggi sekarang buka usaha disana, kita dulu mau rame rame kesana..tapi belom kesampean…semoga kelak bisa kesana ….
    wah indahnya bunda monda liburan ke bukittinggi…

  4. lozz akbar berkata:

    satu hal yang ingin saya lakukan jika ditakdirkan bisa dolan ke tempat itu. mungkin saya pinhin langsung nyemplung sungainya tante hehehe

    oh ya lupa ucapin met Ramadhan nih buat Tante Monda sekeluarga

    • jangan nyemplung uncle ..ini dangkal banget dan di dasarnya banyak batu, nanti benjol lho…he..he….
      musti ke arah hulu lagi mungkin …

  5. mantap kali perjalanan ibu ini. pengen kesana juga dan ke bukit tinggi ke daerah pegunungan yang berkabut. ga tahu apa namanya. ngomong2 ke sumatra saya hanya pernah ke medan. itu pun hanya di kotanya saja. suatu saat kalau ada kesempatan ingin melihat keindahan alamnya.

    met puasa ya bu.

  6. baru saja kah..?

    sepertinya hujan sedang tidak merata ya di wilayah indonesia.. :)
    wah.. sepertinya cocok untuk tinggal disana setiap puasa.. adem. :D

  7. Gak coba itiak lado hajaunya Mbak Mon..Batang Sianok ini tampaknya saja anok2 (kalem) tapi kalau sudah banjir, ngeri beh…:)

  8. LJ berkata:

    biarpun itu sore sudah mendung, tetap kudu bela2in ke taruko.. krn eMak tau gak bakal sempat lagi krn jadwal padat..

    paling asik memang pagi hari, naik angkot turun di simpang lalu jalan kaki ke dalam.. tapi lumayanlah, setidaknya gak kalah sama mamih pernah barandam di batang sianok.. :P

    aku belum pernah nyobain kayaking di sana.. ntar deh aku coba cek dibagian mana kegiatan itu dilakukan.

  9. Nah kan mbak Mon, untung punya fotografer pribadi :D
    Aku baru tahu bahwa bisa turun ke lembahnya… Hmmm musti berapa hari tinggal di sana utk lihat semuanya ya?
    Ntar ah aku jalan sendiri kalo anak-anak udah gede :D (Udah keburu tuwek deh :D)

    • mau lihat semuanya …,rasanya musti semingguan mbak….

      kami di sana itu rabu sampai minggu, masih belum cukup,karena jarak antar tempat itu memang jauh,ini saja udah diaturkan waktu yang efisien dan berangkatnya pagi jam
      7an,
      ke pesisir untuk wisata pantai belum terlaksana, apalagi kalau pengen ke pulau Sikuai yang sekarang jadi tempat beken untuk bule2 surfing, jadi kamimasih wisata sekitar pegunungan saja

      rasanya juga masih perlu nambah hari untuk sekedar duduk leyeh-leyeh sambil ngobrol dan menyerap suasana ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s