Pengumpan RSS

Arsip Penulis: monda

Bau Nyale di Kuta

Posted on

 Pantai Kuta Lombok  tak kalah indah dengan kembarannya  di Bali, apalagi melihat matahari terbit dari sana, pasti cantik sekali,  satu hal yang selalu luput kulakukan karena sering terlambat bangun, he..he… Uniknya di pantai  Kuta Lombok  setiap  bulan Februari  ada tradisi budaya yang bernama Festival Bau Nyale, yang  hari H diputuskan oleh para tetua adat dengan melihat pertanda khusus. Festival ini bukanlah acara seni pertunjukan, tetapi  mencari cacing laut yang berwarna-warni antara lain oranye yang di bawah sinar bulan purnama terlihat seperti menyala. Dari sinilah didapat nama Bau Nyale, yang berarti bisa nyala. Depz yang sudah melihat langsung tradisi ini mengatakan anehnya cacing yang berwarna oranye ini ketika dibawanya pulang berubah warna  seperti cacing biasa.  Selain mencari cacing laut yang biasa dikonsumsi, festival ini juga diramaikan dengan atraksi budaya, seperti Tarung Perisean, bermain perisai.

Seperti layaknya di daerah lain di Indonesia, sesuatu kejadian atau peristiwa selalu dikaitkan dengan hikayat. Begitu juga dengan Bau Nyale yang berhubungan dengan kisah Putri Mandalika. Putri cantik jelita ini dilamar oleh banyak pangeran. Untuk mencegah keributan bila ia memilih salah satu dari para pelamar itu, maka terjunlah sang Putri Mandalika ke dalam laut. Dipercaya cacing laut Bau Nyale adalah jelmaan sang putri. Hikayat dan Bau Nyale serta  Tarung Perisaian sudah kukenal sejak dulu sewaktu masih suka menulis di buku coretan, itulah  yang membuatku tertarik untuk melihatnya suatu saat nanti. Menikmati alam pantai Kuta  yang indah di waktu matahari terbit sambil menikmati keunikan budaya khas suatu daerah, sangat sesuai bukan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Merahnya Saga

Posted on

Jika anak sakit, orang tua pasti berusaha meringankan derita si anak. Dicarilah pengobatan, baik secara medis ataupun dengan cara tradisional. Untuk mengobati batuk ada beberapa cara tradisonal yang kukenal seperti makan kencur, minum campuran kecap dan air perasan jeruk nipis, air kelapa muda ditambah sedikit garam dan saga.

Tanaman obat yang ada di sepetak halaman rumah kami adalah saga dan sirih. Kedua tanaman ini seringkali dipakai untuk mengobati batuk, sariawan atau radang tenggorokan. Resep ini sudah dipakai lama oleh keluarga mertua. Di rumah mertua dan ipar ada tanaman saga, maka kamipun meminta bijinya yang berwarna merah untuk ditanam di pekarangan rumah.

Cara meracik daun saga untuk dijadikan obat cukup mudah. Daun saga dicuci bersih kemudian direndam dalam air hangat. Setelah beberapa saat air rendaman dibuang dan diganti dengan air hangat yang baru. Segenggam atau lebih daun saga bersama 2 helai daun sirih diremas sampai keluar airnya. Cairan ini yang diminum, bila kurang menyukai rasanya bisa ditambahkan sedikit madu.

Resep ini rupanya banyak juga yang mengetahui, makanya banyak juga tetangga yang meminta daun atau anakannya untuk ditanam di halaman rumah masing-masing.

Saga itu sendiri ada 2 macam yaitu saga pohon dan saga rambat. Saga pohon (Adenanthera pavonina) biasa ditanam sebagai pohon peneduh di tepi jalan. Buahnya itu berpolong dan berbiji merah. Dari wikipedia ada info biji saga pernah dipakai untuk menimbang emas karena beratnya yang selalu konstan.  Setelah mencari akhirnya didapat kata  kundi yang menurut KBBI daring adalah biji saga. Dahulu di Minangkabau  dipakai ketentuan 1 emas setara dengan 24 kundi . Melirik bunda  Lily, eMak Ladang Jiwa dan uni Evi untuk konfirmasi.


Saga yang dipakai sebagai  tanaman obat adalah jenis saga rambat   (Abrus precatorius). Khasiat sebagai obat didapat dari zat aktif abrus lactone, asam abrusgenat dan turunannnya. Saga ini berbiji jingga kemerahan dengan setitik warna hitam di bagian yang runcing.   Merahnya sangat cantik, merah menyala,mungkin karena itu ada istilah semerah saga.   Saga rambat di rumah kami saat ini belum berbiji, karena baru diremajakan, maka foto atas itu kupinjam dari Wikipedia . Biji saga yang sudah tua sangat awet bertahan, biarpun telah lama berceceran di tanah masih mampu menjadi anakan. Maka, kami tak khawatir ketika membabat tanaman yang sudah merambat ke sana kemari karena penggantinya banyak tersedia.

20120527-152746.jpg

Perjalanan Mangarapintu

Posted on

Kisah  terciptanya huruf Batak belum pernah kuketahui, tak seperti kisah  Aji Saka dan hanacaraka  yang sudah banyak dibukukan dan telah kukenal sejak kecil.  Ketika sedang mencari info tentang buku Tintin et Le Pustaha, tak sengaja kutemukan kisah ini.

Ama ni si Mangarapintu sedang mengerjakan sentuhan akhir pembuatan rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan di kampung, sebelumnya para tetangga dan sanak kerabat sudah bergotong royong  membantu mencarikan kayu di hutan untuk rangka rumah. Kini karena pekerjaan berat tak banyak lagi maka  hanya tinggal dia dan anaknya yang bekerja.

Read the rest of this entry

Musim Bunga

Posted on

Lagi-lagi kecelakaan, padahal rencananya baru mau buat konsep saja, tetapi tersentuh “Terbitkan”, dan si Una terlanjur komen, he..he… dan foto pertama yang diunggah harusnya masuk di  tema Weekly Photo Challenge Unfocused.  Mohon maaf kepada teman-teman yang berlangganan blog ini melalui email, pasti ketahuan deh. Maluuu…. Karena sudah terlanjur, baiklah… dilanjut saja.

Pacar Air ( Impatiens balsamina) ini sedang bermekaran di sekeliling rumah kami. Seperti di foto tanaman ini tumbuh di luar pagar, di dalam selokan yang kering. Tak ada yang menanam di sana.  Mungkin biji bunga tersebar dibawa angin atau serangga atau burung, karena mula-mula hanya satu rumah yang menanam bunga ini. Tetapi tak apalah suasana jadi merah meriah, sangat cerah. Read the rest of this entry

Kantongi Sampahmu

Posted on

Perilaku buang sampah sembarangan masih saja ada di mana-mana. Yang melakukannya bukanlah insan tak berpendidikan, tetapi pegawai negri yang masih berseragam dinas, pegawai swasta yang berkantor di daerah bisnis elit pelajar SMA, penumpang mobil pribadi dan lain-lain.

Mereka dengan santainya membuang bungkus makanan atau minuman di bawah kursi angkutan umum atau membuang ke jalan. Padahal peringatan sudah dipasang di mana-mana. Jika alasan tak ada tempat sampah, mengapa tidak dibawa saja dulu, dikantongi, disimpan dalam tas, dibuang ketika sudah bertemu tempat sampah.

Apa perlu dibuat slogan baru “kantongi sampahmu ” untuk melengkapi “Buanglah sampah pada tempatnya”

Teringat kejadian masa puluhan tahun lalu, yang masih membekas tentang seorang teman ibuku. Tante ini orang Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Beliau sempat jadi bahan omongan ibu-ibu lainnya dan dicap jorok karena menyimpan tissue bekas pileknya ke dalam tas.

Masa 30 tahun telah berlalu dan kita masih belum bisa bersikap yang baik seperti itu.

20120520-214043.jpg

Sekalian, untuk pemilik akun di twitter  tweet dengan #sobat bumi  tentang  lingkungan hidup, 2 tweet akan setara dengan 1 bibit pohon, ini adalah program CSR dari Pertamina.