If I Stay

If I Stay karya Gayle Forman yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini kuterima dari Akin di Samarinda. Buku yang bagus sekali Akin, terima kasih ya.

Buku ini mengisahkan kejadian selama 24 jam dalam kehidupan Mia yang berusia 17 tahun.

Di pagi hari ketika salju turun dengan lebatnya mobil yang ditumpangi keluarga Mia dalam perjalanan menjenguk kakek neneknya mengalami kecelakaan. Orang tuanya tewas dan Mia mengalami koma.

Mia keluar dari tubuhnya dan melihat kejadian usaha penyelamatan dirinya, ketika sanak famili dan temannya mengunjunginya di rumah sakit, usaha kekasih dan temannya menyelusup masuk ke ruang ICU karena mereka tidak diijinkan menjenguk. Kisah ini juga menampilkan kilas balik hubungan Mia dengan ayah ibunya yang pernah menjadi musisi rock, hubungan dengan  kekasihnya Adam, yang juga beraliran musik rock, juga hubungannya dengan temannya Kim.

Mia, meskipun sudah mendengar musik rock sejak kecil, tetapi ia justru tertarik dengan musik klasik. Ia adalah pemain cello yang serius. Diceritakan pula pengalamannya mengikuti music camp. Musik dalam keluarga Mia menjadi semacam cara untuk berkomunikasi. Beraliran lain dari orang tuanya bukan berarti ia dicemooh, tetapi ayah ibu justru mendorong dan memfalisilitasi kesukaannya itu. Hubungan keluarga yang saling mendukung terekam dengan  manis di sini.

Hubungannya dengan Adam yang bintang sekolah sempat membuat Mia yang rendah diri merasa salah pilih, tetapi Adam yang jatuh cinta karena melihatnya bermusik seakan seluruh jiwanya tumpah di permainan cellonya itu, mampu membangkitkan semangat Mia. Hubungan Mia dengan sahabatnya Kim, yang Yahudi menggambarkan persahabatan erat tanpa memandang asal usul.

Cerita Mia ini sangat mempesonaku, dan air mata sempat menetes  walaupun  tak ada kesan cengeng dalam cerita ini.  Novel ini juga menekankan bahwa sebuah kejadian tak terduga  dapat merubah kehidupan yang normal menjadi sebuah tragedi.

The Man Who Loved Books Too Much

Karya : Allison Hoover Bartlett, 2009

Terjemahan Indonesia : Lulu Fitri Rahman

Cetakan 1 : April 2010

Penerbit : alvabet (www.alvabet.co.id)

Minggu ini jadi jarang bw karena terhanyut menamatkan buku menarik ini, tak mau berhenti. Pertama melihat buku ini di Kharisma aku langsung tertarik dengan judulnya.  Kata too much menyiratkan sesuatu yang sudah melampaui batas. Apakah ada orang yang mencintai buku sampai keterlaluan.   Merasa sebagai pencinta buku, aku langsung menariknya dari rak, apa yang akan dikupas oleh buku ini dan langsung membaca sinopsisnya. Dikatakan The Man Who Loved Books Too Much ini berdasarkan kisah nyata. Dan artikel Bartlett ini dinyatakan sebagai  Best American Crime Reporting 2007.

Kisah ini adalah tentang dunia buku langka yang dinyatakan lebih bernilai daripada barang antik lainnya. Kalau ada kalimat “Jangan menilai buku dari covernya” di kalangan penjual buku langka kalimat ini berubah ” Jangan menilai buku dari isinya”.  Kulit buku langka seringkali didesain sangat indah dan dari kulit hewan yang sangat halus. Kulit buku yang masih apik akan meningkatkan harga waklaupun isinya biasa-biasa saja.

Buku edisi pertama adalah buku yang sangat berharga. Contohnya  copy  pertama Harry Potter and the Philosopher’s stone yang hanya dicetak 500.000 eksemplar telah berharga  30,000 dollar. Apalagi buku-buku kuno yang sangat jarang yang berasal dari tahun 1600an.

Di sinilah kita jadi memasuki dunia yang tak pernah kita tahu. Seluk beluk dunia perdagangan buku langka dan kolektor yang rela membeli buku-buku mahal. Mereka disebut bibliofil, pecinta buku dan bibliomania yang lebih fanatik.

John Gilkey, seorang bibliomania,  rela mencuri buku. Dia mencuri buku bukanlah untuk mencari keuntungan dengan menjualnya kembali dengan harga tinggi.  Dia mengkhayalkan  kenikmatan memiliki buku-buku langka  di rak bukunya agar  bisa jadi seperti  rumah para bangsawan.  Tetapi  dia miskin. Lalu  bagaimana  caranya agar bisa punya koleksi buku terkenal dan langka? Gilkey  memesan buku dengan memakai nomor  kartu kredit orang lain atau cek kosong.  Akibatnya berkali-kali dia keluar masuk penjara.

Gilkey yang licin berhadapan dengan Ken Sanders, agen buku langka yang bertindak sebagai detektif (bibliodick) yang sama obsesifnya dengan Gilkey untuk memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.  Kutemukan juga linknya pak Ken Sanders disini yang bercerita pengalamannya berhadapan dengan John Gilkey.

Ceritanya  singkat saja ya, supaya penasaran.

Yang agak merepotkan buku ini  banyak memuat nama orang, nama penulis terkenal, dan judul buku sehingga banyak catatan kaki, seperti layaknya karya ilmiah, jadi harus sering bolak-balik ke halaman belakang.

Perpustakaan dan Cinta Buku

Pertama kali kukenal perpustakaan kelas 1 SD diajak Mama yang ketika itu jadi pengurus perpustakaan di lingkungan kompleks tempat kami tinggal. Anak-anak selalu antusias rebut-rebutan ketika pintu perpus dibuka dan kalau ada buku baru yang dipajang. Rasanya top bangetlah kalau jadi pembaca pertama.

Ketika pindah dari kota ke kota, tetap ada fasilitas perpustakaan, biasanya perpus dibuka 2 kali seminggu.  Kadang-kadang di sana ada acara pembacaan cerita oleh ibu-ibu yang pintar bahasa asing,   bahasa Belanda atau Inggris. Kita jadi anggota perpus gratis lho, dan ibu-ibu pengurus tidak digaji.

Buku-buku  yang tersedia di perpustakaan kompleks itu bervariasi, dari buku komik seri Tintin, buku-buku terbitan Pustaka Jaya, dan karya-karya pengarang dunia.  Buku yang kusukai antara lain karya Ayip Rosidi berupa dongeng dari tanah Sunda seperti Mundinglaya di Kusuma, dan Lutung Kasarung.  Sedangkan buku yang paling kuingat dan berkesan yaitu  Siti Nurbaya, karya pujangga angkatan Balai Pustaka, Marah Rusli. Buku ini kupinjam di kelas 5 SD. Sebelum menamatkan  buku itu aku tak mau berenti, begadang sampai tamat. Pagi-pagi mata sudah bengkak karena ikut menangis menyesalkan nasib tragis percintaan Siti Nurbaya dan Syamsul Bachri, he..he… mata sudah bengkak ditambah omelan Mama pula karena jadi ketahuan begadang. dari sini dapat hikmah, anak kecil belum pantas baca roman:D

Kami jadi pengunjung setia perpustakaan selama tinggal di kompleks, sampai tamat SMA. Setelah itu jadi anggota perpustakaan di lembaga kebudayaan tempat kursus bahasa.

Dari kunjungan rutin ke perpus itulah tumbuh rasa cinta tehadap buku. Kecintaan akan buku itu terus ada sampai sekarang. Dulu, Papa punya usaha kecil-kecilan, anak-anak kalau ikut membantu akan dapat sangu. Uang sangu itu tidak kami belikan barang lain selain buku.  Kami titip Papa membelikan buku bila sedang berdinas ke Jakarta. Jadi selain pinjam buku di perpus kamipun ingin memiliki koleksi sendiri.

Sebagian besar buku milik kami bersaudara itu masih ada, ditinggal  di rumah Mama. Seorang adikku rajin menata dan mengaturnya mengikuti sistim perpustakaan secara sederhana. Alhamdulillah, anak-anak dan keponakan sudah terjangkiti cinta buku, dan koleksi itu sekarang bisa mereka baca . Sebagian dari koleksi itu juga sudah disalurkan ke teman-teman yang mengelola perpustakaan anak.

Tak semua  buku  mau dibaca anak-anak, karena ternyata memang bahasa Indonesia terus berkembang dan banyak kata lama yang sudah tidak pernah dipakai. Mula-mula anak masih mau bertanya artinya, tapi karena terlalu banyak akhirnya bosan juga dan tidak mau melanjutkan. Seperti  cerita si Dul Anak Jakarta itu,  sudah susah dimengerti anak sekarang.

Si Dul Anak Jakarta

Sudah lama tidak menulis tentang buku. Kali ini kucoba mengangkat buku dari koleksi sastra lama dari angkatan Balai Pustaka, sebutan untuk para pengarang yang buku-bukunya diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1920an.

Si Dul Anak Jakarta dikarang oleh H. Aman Datuk Majoindo. Melihat namanya sudah pasti beliau bukan berasal dari Jakarta, beliau dilahirkan di Supayang, Solok, Sumatera Barat tahun 1896 (meninggal 1969).  Pernah bekerja sebagai guru di Padang dan kemudian sebagai korektor dan redaktur di Balai Pustaka.  Buku ini mengilhami tokoh-tokoh film Indonesia untuk menciptakan film Si Dul Anak Modern dan sinetron Si Dul Anak Sekolahan.

Buku yang kumiliki ini cetakan ke 12, terbit 1985.  Cetakan pertama tidak diketahui, data yang ada hanya cetakan ketiga.

Sudah berulang-ulang kubaca buku ini, belum bosan juga. Kalau lagi pengen ketawa baca buku ini masih selalu membuatku tersenyum-senyum. Seperti yang diutarakan dalam pengantarnya pengarang sengaja hanya menyelipkan dialek Betawi dalam dialog saja. Narasi tetap dalam bahasa Indonesia masa itu.

Buku ini menceritakan masa kanak-kanak sampai dengan saat masuk sekolah. Kisah dibuka dengan adegan Si Dul dan kawan-kawannya anak-anak perempuan bermain rujakan, yang betul-betul  bisa dimakan  dan dibayar pakai pecahan genteng. Beberapa  adegan bermain  diceritakan di sini

Ada adegan lucu sewaktu main selamatan. Baca lebih lanjut

47 Museum Jakarta

Bisa dibilang Jakarta adalah kota museum, berbagai jenis museum ada di ibukota ini. Museum bukan hanya sekedar tempat menyimpan benda-benda tua, tetapi darinya kita bisa mengenal dan memahami sejarah bangsa. Bukan hanya kegemilangan tetapi juga sejarah buruk suatu bangsa. Tahun 2010 ini adalah tahun kunjungan museum, tetapi rasanya gaung ini masih belum terdengar jelas, semoga buku ini kelak bisa meningkatkan kecintaan terhadap museum.

Museum di Jakarta terdiri dari museum dengan berbagai macam jenis dan objek yang ditampilkan. Museum-museum ini dikelola oleh berbagai pihak, seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi pemerintah, swasta, dan kelompok atau perorangan.

Seluruh museum ini  harga tiketnya  sangat terjangkau bagi masyarakat dan sebetulnya menyimpan potensi yang sangat besar. Selain sebagai sarana edukasi, museum bila dikelola dengan baik akan menarik peminat wisata sejarah.

Buku berjudul lengkap Panduan Sang Petualang, 47 Museum Jakarta diterbitkan Gramedia tahun ini dan  dikarang oleh Edi Dimyati. Pengarang sengaja mendatangi semua museum-museum ini, bukan hanya museum yang sudah tenar, tetapi museum yang jarang diberitakan seperti Museum Reksa Artha di Cilandak yang menyimpan mesin-mesin pencetak uang  di masa lalu.

Ia membagi kategori museum berdasarkan jenis, yaitu seni, ekonomi, etnografi, flora & fauna, IPTEK, militer, olahraga, religi dan sejarah.  Tiap museum dilengkapi dengan info alamat, jam buka, dan harga tiket. Ada pula museum yang untuk memasukinya  harus dengan perjanjian seperti museum Harry Darsono.

Kerjasama dengan beberapa fotografer lain membuat buku ini dipenuhi dengan foto-foto yang indah. Bagi pencinta sejarah pengarang melengkapi dengan beberapa komunitas pencinta museum.