Si Ompung Sang Raja Hutan

Risin’ up, back on the street
Did my time, took my chances
Went the distance, now I’m back on my feet
Just a man and his will to survive

So many times, it happens too fast
You change your passion for glory
Don’t lose your grip on the dreams of the past
You must fight just to keep them alive

Chorus:
It’s the eye of the tiger, it’s the cream of the fight
Risin’ up to the challenge of our rival
And the last known survivor stalks his prey in the night
And he’s watchin’ us all in the eye of the tiger

Lirik dari Eye of the Tiger dari Survivor

Sebentar lagi masyarakat keturunan Cina di seluruh dunia akan merayakan pergantian tahun, yang di negara kita disebut Imlek atau Sincia. Menurut para pakarnya tahun ini adalah tahun Harimau, yang berulang setiap 12 tahun.

Aku tidak akan membahas mengenai tahun harimau, karena bukan ahlinya dan tidak percaya ramalan.

Harimau mendapat tempat khusus di masyarakat kita. Harimau atau macan dikenal dengan sebutan si raja hutan karena keganasannya dan banyak cerita rakyat yang menceritakan keperkasaannya. Di Indonesia ada harimau Sumatera dan harimau Jawa yang sudah punah. Di alamnya aku baru sekali melihat harimau itupun bukan di tengah hutan, tetapi dari atas bis yang berhenti tengah malam di jalan lintas Sumatera karena sang raja hutan sedang menyeberang.

Dari sudut pandang budaya bangsa Indonesia khususnya di Sumatera, harimau mendapat tempat khusus atau boleh juga disebut tempat terhormat. Di Tapanuli Selatan harimau dalam bahasa daerah disebut babiat, tetapi jangan pakai kata itu sembarangan. Tabu.

Harimau di Tapanuli disebut dengan panggilan terhormat Ompung, ya benar ompung itu artinya kakek atau orang yang dihormati. Jadi kalau di hutan jangan menyebut namanya dan minta permisi kalau memasuki arealnya , kira-kira seperti ini :

” Ompung numpang lewat ya”,

(bahkan bukan hanya harimau, nama orang tua kitapun pantang disebut, maka menyebut nama orang di sana adalah dengan menyebut nama anak atau cucu) . Ada pula cerita tentang orang pintar yang bisa menaklukkan harimau dan menjadikannya sebagai tunggangan yang mengantarnya ke mana-mana. Kalau Ompung muncul di tengah kampung katanya ada penduduk yang bersalah atau berbuat kejahatan di situ. Sekali lagi, ini adalah cerita rakyat, believe it or not.

Si Ompung satu ini punya makanan kesukaan.

Bisa menebak? Bukan, bukan daging rusa, atau hewan lainnya.

Tetapi durian. Iya si Ompung suka makan durian. Kalau sedang musim durian jangan menunggu durian jatuhan dari pohon, bisa-bisa rebutan dengan si raja hutan. Biarkan dia dulu yang menikmati baru setelah kenyang dan pergi dari sana buah durian aman diambil. Biji durian bekas dimakan sang harimau itupun disusunnya dulu dengan rapi.

Cerita ini ternyata bukan hanya di Tapanuli Selatan, tetapi juga di tanah Minang, mungkin karena wilayahnya bertetangga. Di buku Negeri Lima Menara diceritakan sebutan untuk harimau adalah Inyiak yang artinya juga kakek, si Inyiak ini juga suka makan durian. Bahkan dulu pernah aku membaca ada cerita mengenai manusia harimau atau cindaku (seperti kisah werewolf), manusia yang bisa berubah menjadi harimau. Ciri-ciri cindaku bisa dilihat di bawah hidungnya, ada atau tidak parit atau lekukan di bawah hidung itu. Dalam bahasa Latin lekukan ini dinamakan filtrum, ada yang tahu padanannya dalam bahasa Indonesia ?

 

56 thoughts on “Si Ompung Sang Raja Hutan

  1. prih berkata:

    Penduduk lokal menyebut harimau dengan ‘kyaine’ senada dengan ‘inyiak’ ya Eda. Upaya personifikasi alam termasuk fauna dalam kehidupan bersama. Salam

    • monda berkata:

      sama juga ya mbak…, … mungkin orang dulu itu saking takutnya juga ya .. makanya dikasih nama kehormatan gitu.. apalagi jaman dulu kan aura mistis itu masih ada ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s