Sekeluarga di lampu merah

Masih di perempatan lampu merah biasa di hari lain lagi sewaktu nunggu bis lagi…

Kali ini yang kuperhatikan sepasang anak SD pulang sekolah sore, dengan seragam putih yang masih baru. Mereka berdua menghampiri pojok perempatan, di sana telah menunggu seorang ibu dan balita. Anak-anak ini kemudian menukar baju dan sepatu sekolahnya dengan baju lainnya yang telah disiapkan ibu. Ibu memeriksa buku mereka, menanyakan peer, kemudian membungkus lagi tas, baju dan sepatu, lalu digantung di pohon.

Tak lama ayah datang, kakinya dibalut dan memakai tongkat.
Bergantian dengan ayah, kemudian kedua anak yang baru pulang sekolah itu menuju mobil-mobil yang berhenti di lampu merah dan mulai mengamen.
Ibu dan adik kecil hanya menunggu di bawah pohon dan ngobrol dengan ibu-ibu lainnya lagi.

Kisah ini pernah kutuliskan di tempat lain, kali ini sengaja kuulang lagi karena mendapat fakta baru.

Ternyata keluarga ini bukan hanya terdiri dari ayah ibu dan anak-anak. Ibu dan ayah ternyata adalah nenek dan kakek, sedangkan ibunya adalah seorang wanita muda dengan seorang batita di gendongannya. Beberapa hari lalu terlihat si ibu muda ini sudah hamil lagi, untuk ke empat kalinya dan keluarga ini masih tetap berada di lampu merah dari pagi sampai sore. Info ini kuketahui dari seorang rekan yang mencoba mengajak ibu muda tadi untuk berKB, suaminya selalu datang dan pergi sesukanya tanpa menghidupi keluarganya.

 

21 thoughts on “Sekeluarga di lampu merah

  1. nengjeni berkata:

    buat mereka2 ini mengemis ya pekerjaan…😦
    tapi saya udah nggak bisa lagi berempati sama mereka, semenjak melihat banyak diantara mereka yang merokok laksana loko dan beberapa sibuk mainan HP waktu ngaso … duh!!

  2. nh18 berkata:

    suaminya selalu datang dan pergi sesukanya tanpa menghidupi keluarganya.

    Campur aduk kak Monda …
    antara kasihan dengan anak-anak itu
    dan geram akan kelakuan suami tak bertanggung jawab itu

    Salam saya Kak Monda …

  3. bintangtimur berkata:

    Monda…betul Monda bilang sama Bibi Titi Teliti, karena melihat tiap hari empati saya juga suka hilang…
    Atau di mata saya kesannya mereka tidak mau berusaha?
    Atau karena pekerjaan itu begitu sulit didapatkan?
    Bingung…😦

  4. Ully berkata:

    Ya Allah, kasihan anak2nya..
    Tapi alhamdulilah masih sekolah..
    Mudah2an bisa dapet kerjaan yang lebih baik >_<

    -ngintip balik blog mbak Monda ^^-

  5. Kakaakin berkata:

    Wah, kasihan banget. Mungkin mereka menganggap mencari nafkah di lampu merah lebih mudah dan menguntungkan dan nggak perlu repot2 nyari si ini kemana si itu lagi ngapain… Wallahua’lam…
    Tapi tetap nggak melupakan sekolah ya…

  6. sunflo berkata:

    ooohhh… hiks… the beggars kah mereka??? terkadang zaman sekarang ini mereka lebih kaya dibandingkan yg memberi, mbak.. entahlah, bener ga pandanganku ini…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s