Mesin Tik

Gara-gara pertanyaan si bungsu :

” Ma, kata temanku suara mesin tik itu berisik ya?”

“Kalau udah ngetik tulisannya nggak bisa dihapus ya?”

“Mesin tik itu seperti apa sih?”

Aku baru sadar ternyata kemajuan teknologi sedikit demi sedikit telah mulai menghilangkan peralatan lama yang masih manual. Anak-anak tidak mengenal lagi mesin tik.

“Insya Allah nak, kalau libur diajak ke kantor mama, masih ada satu mesin tik yang berfungsi, nanti boleh mencoba mengetik supaya mengerti cara kerjanya”.

Aku mulai bertanya-tanya barang apa yang dulu kita pakai tetapi sekarang mulai ditinggalkan? Kugali ingatanku. Salah satunya setrika arang, papan tulis hitam dan kapur tulisnya, sekarang di kelas sudah pakai whiteboard dan spidol, disket, video Betamax dengan kasetnya yang gede sekali itu lengkap dengan rewindernya, laser disk player dan mungkin masih banyak lagi barang yang 10 tahun lalu masih ada sekarang hampir tidak mungkin ditemui.

Ternyata tiap generasi mengalami hal ini. Ada sesuatu yang baru datang, yang lama perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

Kejadian ini kurasakan juga, sempat bertanya-tanya bentuk dan fungsi batu tulis., bahkan mentertawakan ibuku. Dulu, ibuku pernah bercerita pengalamannya bersekolah di kampung. Tahun 50an di SD masih memakai batu tulis dan grip sebagai alat tulisnya. Meskipun sudah ada buku tulis, tetapi harganya masih mahal. Kalau dapat nilai bagus, batu tulisnya rasanya tidak ingin dihapus, supaya masih ada kenangannya batu ditempelkan di pipi sehingga nilai 10nya terjiplak, lumayan walau cuma sehari.

 

Iklan

49 thoughts on “Mesin Tik

  1. wieda berkata:

    hehehehe iyah yah kemajuan tehnologi menjadikan “setrika jago” barang antik….”batu tulis dan grip” juga…….di sekolah2 masih diajarkan “menulis halus” gak yah??? kan dulu waktu SD ga boleh blas make balpoint…harus make pulpen yg diisi tinta…..hehehehehehe jadi ingat masa kecil

  2. Desri Susilawani berkata:

    o iya….salam dari makngah lena. di desa kami koneksi inet nya memang menguji kesabaran…jadi makngah lena cuma bisa berasyik masyuk di FB..gitu mbak

  3. Desri Susilawani berkata:

    dulu hanya dengan lampu kaleng berbahan bakar minyak tanah, anak-anak emak bisa belajar dan mengerjakan PR. sekarang listrik ga ada, cucu-cucu emak langsung ngejerit dan ogah belajar. alesannya gelap, padahal lilin sudah dinyalakan…

  4. monda berkata:

    teman2 maaf ya, jaringan di tempatku rada ngadat jadi menghambat komen dan blogwalking
    @ Tanti & Anfit : trims ya , nggak nyangka kok bisa dpt, alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s