Mandi Cara Kampung

Cerita ibu Enny tentang sumur tua dengan timba dan kerekan mengingatkanku pada sumur di rumah opung di kampung di  Sipirok, Tapanuli Selatan.  Seperti umumnya rumah masa itu rumah opung adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu, aku tak tau jenis kayunya tapi kayu untuk lantai,  dinding dan tiang rumah itu tebal dan sudah berwarna hitam mengkilat. Rumah itu dibangun mungkin sekitar tahun 30an.

Sumur kerekan dibuat di samping rumah tanpa mck. Mck dibuatkan di bilik tersendiri jauh di halaman belakang, kesulitan tersendiri bagi kami para cucu yang tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Kami hanya datang ke kampung sesekali dan biasanya paling lama tinggal seminggu.

Penduduk biasanya memakai mck umum di halaman belakang masjid. Untuk mandi dipakai air dari  kolam penampungan  dan sumur kerekan, tentu saja mandi dengan menggunakan kain basahan. Tetapi mandi di kampungpun jadi problem tersendiri karena cuaca yang  dingin. Air di sumur masjid seperti air es, karena kampungku terletak di kaki gunung.  Segan rasanya mandi dengan air sedingin itu, kadang-kadang tidak mandi atau cukup mandi sekali sehari sudah jadi hal biasa.

Saking dinginnya ada istilah margobak yaitu nongkrong pakai kain sarung yang ditutupkan ke badan hanya wajah yang terlihat. Sudah menjadi pemandangan umum bila pagi atau sore hari melihat para pria margobak di pinggir jalan. Waktu bicarapun masih terlihat asap keluar dari mulut.

Kalau tidak mau mandi air dingin kami pergi ke  aek milas, artinya air panas  alami yang terdapat di kampung lain.  Berangkat dari kampung kami sekitar jam 7 pagi  atau 3 sore agar tak terlalu dingin. Ada dua aek milas yang dekat dengan kampungku yaitu di Parandolok dan di Sosopan.  Kedua aek milas ini juga terletak di lingkungan masjid dan digunakan sebagai pemandian umum, gratis tentu saja.

Ke desa Parandolok yang termasuk desa tetangga  bisa berjalan kaki saja meskipun agak jauh ke  dalam dari jalan raya. Pemandian laki-laki dan perempuan tentu saja  dipisah.  Mandi di sini langsung di bawah pancuran.

 

Aek milas di kampung Sosopan lebih gampang dicapai dengan kendaraan karena terletak di pinggir jalan raya. Di sini air panas sudah ditampung di dalam kolam. Kita tinggal nyelup pakai kain basahan, panas tentu saja, kalau berani dan tahan panas boleh saja berenang di dalam kolam itu. Tapi begitu melihat air kolam dengan uap yang mengepul  membuat kecil hati juga.

Di foto ini adalah aek milas Sosopan. Tampak tempat pemandian perempuan di sebelah kiri masjid dengan asap putih mengepul ke atas. Tempat pemandian  pria kalau tidak salah sih di bagian belakang masjid.  Kedua foto ini kupinjam dari teman kita  sini

Pertama kali mandi pakai kain basahan juga jadi masalah, walaupun waktu itu masih anak-anak. Rasanya malu dilihat ibu-ibu lain, takut kain melorot.  Cuaca di luar yang dingin tentu saja kontras dengan panasnya air. Mula-mula celupkan ujung jari tangan, aduuuuh panasnya,  tarik lagi, batal ah…coba lagi, demikian berkali-kali sampai akhirnya diguyur oleh saudaraku yang tidak sabar melihatku masih berdiri di luar kolam. Ajaib malahan tidak terasa panas lagi dan berani langsung nyemplung ke dalam air.  Air belerang dari gunung ini dialirkan melalui pancuran bambu tak henti-hentinya sehingga aiar selalu berganti. Seingatku air panas di kolam Sosopan ini tidak sepanas aek milas satunya, mungkin karena sudah ditampung di kolam jadi suhunya sudah turun sedikit.

Yang paling asyik sesudah mandi air panas adalah mampir ke warung minum teh manis panas dan pisang goreng garing panas. Nikmaat.

Saat ini air pam sudah masuk kampung dan rumah opungpun tidak berpangung lagi, tetapi sudah berubah jadi rumah biasa karena ternyata cukup besar juga biaya renovasi dengan memakai kayu seperti jaman dulu.

Pengalaman mandi air panas kembali kurasakan  setelah dewasa di wilayah Kuningan Jawa Barat, tentu saja tidak gratis.  Air panas di sini sudah dipermodern  menjadi spa, hot springwater spa.

47 thoughts on “Mandi Cara Kampung

  1. harumhutan berkata:

    dirumah ibu masih pake sumur, meski ada sanyo juga, tapi timbanya tetep dipake,
    kadang saya juga masih suka nimba😀

  2. Ping-balik: Gulai Ayam « Kisahku
  3. Bundanya Dita berkata:

    Jadi inget pas lebaran th kemarin saya pulkam ke Padangsidempuan, kampung halaman suami. Saya baru sekali itu ke rumah mertua hehehe. Enak banget. Rumah dekat sawah. Hawanya seger. Tiap ruangan punya jendela *emang di jkt yg rumahnya berbagi dinding dg tetangga*😀 . Trus krn masih suka mati listrik, air PAM di backup dengan nimba air manual. Saya sempat kesulitan menimba air langsung dr sumur waktu itu. Sempet malu hehehe Pdhal dulu wkt SD saya biasa nimba air juga. Tapi kayaknya udah gak terampil lagi.

  4. ceuceu berkata:

    aihhh.. aku membacanya sambil bayangin aku ada di sana… seru banget kayaknya Mbak…. apalagi melihat gambar-gambar itu…… indah niannn…!

    aku belum pernah mandi ala kampung Mbak, tapi bagaimana dinginnya air di kampung kaki gunung pernah ngerasain waktu KKN, kebetulan tempatnya di sebuah desa di kaki gunung Dieng Jateng…

    *Mbak…hot springwater spa nya di Grange Sankan bukan..? hehehe…

  5. bintangtimur berkata:

    Jadi kangen suasana di Tapanuli, mbak…kebayang kota Padang Sidempuan yang punya salak warna merah, jalan kesana yang indah…ah, kapan ya bisa melihat sumur kayak yang mbak ceritain ini🙂
    Di Garut juga punya sumber air panas di daerah Cipanas, kapan-kapan main kesini yuk!

  6. anna berkata:

    aiih… mandi air dingin… seger…
    tapi bisa kebayang tuh, udah airnya dingin, tempatnya terbuka pula.. mandi sambil mata lirik kanan kiri.. takut ada yg ngintip..:mrgreen:

    soal mandi air panas alami, belom pernah mbak.
    pastinya nyaman ya.. bisa ngilangin pegel2 gak sih? heheh

  7. nanaharmanto berkata:

    Saya belum pernah mandi di pemandian air panas begitu… tapi mandi dengan kain/sarung basahan pernah… wuih…. repot! dan rasanya nggak bersih… Jadi mandi repot begitu waktu KKN di daerah yang susah dapat air..
    Kebayang dingin air yang seperti es ituh…bbrrrrr….

  8. nh18 berkata:

    Ada Tiga Hal Kak Monda …

    #1. Nostalgia.
    Ah ini Nostalgia ya Kak …
    Memang indah sekali untuk dikenang …
    Dari cerita ini … saya bisa merasakan betapa dinginnya hawa di kampung halaman kak Monda

    #2. Margobak
    Saya baru tau kalau

    #3. Sumber Foto
    Kalau tidak salah pemilik blog yang menjadi sumber foto tersebut (tatianak a.k.a sondha ?)… saya pernah tau lewat blog juga …
    Ini adik kelas saya …
    fakultas dan jurusannya persis sama …
    (kalau saya tidak salah lho ya …)

    Salam saya Kak

  9. domba garut berkata:

    Memang pengalaman di kampung baik itu kampung halaman sendiri ataupun kampung halaman orang lain – adalah sebuah cerita unik yang mampi menjadi jangkar ingatan hingga 10-20 tahun kedepan..

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat😀

      • domba garut berkata:

        juragan, nuhun pisan udh sempet di bales. Iyah nih sedang dinas juh sekali dari kampung halaman, silahkan atuh mampir dan menjabat erat beberapa rekans dari Kontingen Garuda disini.. Salam hangat dari Liberia, West Africa😀

  10. bundadontworry berkata:

    wuih seru banget ya mandi air panas di kampung langsung dr sumbernya.
    kalau aku pulang ke bukittinggi, air disana sudah gak terlalu dingin, dan airpun sudah pake mesin, jadi ya biasa saja sama kayak di jakarta,Mbak .
    salam

  11. zee berkata:

    Saya jarang mandi air panas model kampung begitu. Entah ya kayaknya di Biak dulu gak ada kolam2 air panas begitu. Mandi ya di pantai hehehee.. Kalo ke Wamena mandinya air gunung yang dinginnya kayak air es.
    Di Medan jg blm pernah coba mandi air panas, tapi mandi air belerang sih pernah. Bauuu banged.

  12. nakjaDimande berkata:

    hmm, ngebayangin dinginnya mandi di kampung.. sejuk bener.

    di Bukittinggi masih ada bbrp perkampungan yang masyarakatnya suka mandi ala kampung begitu, Mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s