Yogyakarta

Setelah beberapa kali gagal karena sulit mengatur jadwal cuti dengan libur sekolah akhirnya  kami berangkat ke Yogyakarta. Pengalaman pertama bagi anak-anak berlibur selain ke wilayah Jawa Barat dan Lampung. Kurasa pada saat umur mereka sekaranglah saat yang cocok untuk wisata yang mengandung unsur pendidikan karena sudah bisa mengingat dengan baik, sebelumnya wisata  ke tempat yang lebih banyak unsur hiburan. Untuk pilihan tempat wisata kami mengandalkan buku ini dan browsing ke http://www.yogyes.com dan beberapa situs lain.

Dari bandara Adisucipto perjalanan pertama mengarah mencari  tempat  untuk makan siang. Tujuannya ke jalan Wijilan mencari gudeg Jogja yang terkenal itu (cerita wisata kuliner belakangan ya).

Lampu pengatur lalu lintas kota ini segera saja menarik perhatianku, lihat ada panel suryanya. Sebagian traffic light di sini ternyata sudah memakai tenaga surya, salut buat Yogya selangkah di depan dibandingkan Jakarta. Patut diikuti cara ini untuk menghemat pasokan energi dan supaya jangan ada  lampu lalu lintas yang mati yang mengakibatkan kemacetan berjam-jam.

Setelah makan siang langsung saja menuju obyek wisata tanpa buang-buang waktu lagi. Tujuan ke kraton kesultanan Yogyakarta, sayang kami terlambat, rupanya kraton sudah tutup sesiang itu. Akhirnya ke Taman Sari saja.

Tepat  di luar pintu masuk tempat wisata ini ada rumah penduduk dan terlihat seorang bapak tua yang sedang menjolok buah, setelah didekati ternyata beliau sedang mengambil buah sawo kecik.

Yang sedang menggalah sawo itu adalah pemilik rumah dan di sebelahnya pemandu kami. Karena hanya pernah mendengar namanya dan seumur-umur belum pernah melihat sawo kecik kuminta untuk mencicipi dan diperbolehkan karena si bapak memang sedang mengambilkan untuk wisatawan lain yang lebih dulu meminta.

Ini dia buah sawo kecik (Manilkara kauki / Mimusops kauki). Mungil sekali ya.

Dan ini setelah dibelah,  bijinya berwarna  oranye, bukan coklat seperti sawo biasa.

Menurut pemilik,  sawo ini ditanam tahun 2000 dan mulai  berbuah 6 tahun kemudian. Buahnya ternyata memang kecil dibandingkan sawo yang biasa kita kenal. Bentuk dan warnanyapun berbeda, tetapi ketika dibelah dan dicicipi  tekstur buah dan rasanya persis seperti sawo.

 

Setelah mencicipi sawo, beli tiket masuk dan melangkah ke gerbang Taman Sari,  yang sebetulnya ini adalah pintu belakang.  Gerbang depan ditutup. Karena hasil fotoku kurang baik akhirnya pinjam saja ya foto ini. Taman Sari ini adalah situs bekas kebun istana Keraton Yogyakarta. Di tempat ini kami dipandu seorang bapak yang cukup jelas menceritakan candra sangkala, perlambang di gapura yang mengandung arti tahun didirikan sampai selesainya taman ini menurut tahun Jawa.

Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono pada tahun 1758-1769. Awalnya, taman yang mendapat sebutan “The Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 17651812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.  Tempat ini tidak hanya sekedar Taman tempat rekreasi keluarga kerajaan pada zaman itu, namun mempunyai berbagai fungsi diantaranya sebagai Camouflage area terhadap musuh-musuhnya, dan merupakan suatu sistem benteng pertahanan, selain itu juga sebagai tempat meditasi bagi Raja, tempat membuat batik yang dilakukan oleh selir-selir Raja dan putri-putri Raja, tempat berlatih kemiliteran bagi tentara kerajaan dan masih ada lagi.

Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan. (sumber : Wikipedia)

Keluar dari Taman Sari ini kami diajak melihat Masjid  di bawah tanah dengan melewati perkampungan. Selain ada toko dan para abdi dalem yang sedang membatik dan menatah wayang, ternyata ada juga yang modern di kampung ini.

Mungkinkah ada blogger asal kampung ini yang  sudah menjadi temanku?

Sayangnya dalam perjalanan menuju Masjid perjalanan kami dihentikan oleh turunnya hujan, akhirnya kami berbalik pulang dan menuju hotel untuk beristirahat sebentar, mandi dan  keluar lagi selepas magrib.   Ke mana lagi ? Ke Malioboro, tentu saja.

49 thoughts on “Yogyakarta

  1. Bundanya Dita berkata:

    Waaa…saya telat baca postingan ini😦 . Saya dari tadi mengamati bang jo (traffic light) yang pake tenaga surya itu tapi blas belum tahu itu di bang jo mana hehehe. Kalau ke Jogja mampir ke Pantai parangtritis bun, ibu saya punya rumah makan disana. Ntar gak gratis sih ..paling dikasih diskon hehehe. Duuuh pengin segera mudik jadinya🙂

    bang jo itu ketemunya pas baru nyampe, mungkin nggak jauh dari arah bandara,
    nggak tau jalan apa namanya,
    insya Allah pengen nengok Parangtritis kalau ke Jogja lagi, kemarin itu nggak mampir

  2. bella berkata:

    saya suka kota yogya..sangat amat menyukainya…
    tempat dimana kenangan terukir dan tersimpan rapi disana..
    semoga luka itu sembuh secepatnya, luka dari yogya :))

  3. vizon berkata:

    Kak Monda ke Jogja ?😀

    Saya baru saja mendapatkan video animasi Tamansari dalam wujud aslinya. Melihat video itu, terlihat sekali betapa hebatnya kemampuan arsitektur nenek moyang kita.

    • monda berkata:

      waktunya terbatas sih uda, padahal banyak banget yg pengen kudatangi
      waduh, penasaran banget pengen liat video Tamansari asli, uda ini arkeologkah?
      aku juga pernah liat Tamansari sebelum renov

  4. zee berkata:

    Loh kak, aku juga kira tadi itu anggur. Sawo kecil ternyata. Mungkin ini Anggur versi Indonesia kali ya, hehehee.. maksa.

  5. Ifan Jayadi berkata:

    Kapan ya bisa liburan ke yogjakarta. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika bisa berlibur disana karena begitu banyak tempat wisata yang menawarkan edukasi yang bermanfaat bagi seluruh keluarga

  6. edratna berkata:

    Saya pernah ditempatan di Yogya setahun, tapi malah belum sempat lihat kemana-mana…setiap kali hanya melewati jalan Malioboro.
    Kalau lagi stres, capek, maka dengan jalan kaki dari Malioboro sejak ujung utara sampai selatan sudah membuat hati mendingin, pusingnya hilang, melihat begitu banyaknya penjual yang menggelar dagangan di kiri kanan Malioboro, masih semangat untuk menatap hidup.

    Benar mbak Monda, mengajak piknik anak-anak, dengan foto dan cerita, akan mengingatkan anak kita saat besar nanti.

  7. setitikharapan berkata:

    Wow..jogja ya mbak, pasti asyik. jalan-jalan sambil menemani anak-anak liburan. Lampu lalu lintasnya keren mbak, saya baru tahu dari cerita mbak monda lho. Dimedan belum ada sepertinya.

  8. arman berkata:

    yogya menarik ya… taman sari nya bagus keliatannya…
    sayang saya belum pernah ke yogya. jadi nyesel dulu pas lagi sering dinas ke semarang, temen2 pada ngajakin ke yogya tapi saya gak ikutan karena malas. hahaha. jadinya sampe sekarang belum pernah ngerasain yogya dah…😀

  9. nh18 berkata:

    BTW …
    Saya ada sahabat Blogger yang tinggal di Yogya …
    Uda Vizon dan juga Ibu Tuti Nonka (seorang penulis novel dan cerpen terkenal di jamannya)(Kak Monda kenal mereka nggak ya ?)

    • monda berkata:

      oh ya , udah temenan sama bu Tuti dan uda Vizon,
      malahan waktu lewat kolam renang umbang tirta sy inget bu tuti yg pernah posting berenang di sini

  10. nh18 berkata:

    Aahhhaaaiiii …
    Kak Monda sekeluarga ke Yogya rupanya …
    Selama menikmati Yogya …
    Jangan Lupa ke Mirota …

    hehehe …

    Salam saya Kak …

    (BTW duluuuu … ada suatu masa dimana kami rutin setahun sekali ke Yogya … karena almarhum Kakek dan Nenek saya dulu tinggal disana …)

    And Yes Indeed … Yogya itu kota yang sangat indah dan klasik

    • monda berkata:

      bunda, sekarang udah aman di rumah lagi
      selama perjalanan nggak kuat mau posting dn bw, tepar bun..
      terima kasih doanya bunda Ly

  11. kyaine berkata:

    sawo kecik, sawonya para raja jawa. nanti klo sempat main ke kraton solo atau jogja, bu monda bisa liat banyak sekali pohon sawo keciknya.
    biji sawo biasa digunakan untuk main congklak/dakon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s