Donor ASI

Beberapa waktu lalu waktu membawa anak berobat ke rumah sakit, aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Di pojokan  ada terlihat, sesosok tubuh yang tertutup dari pangkuan sampai kepalanya dengan kain gendong batik. Waktu kain terbuka  terlihat seorang ibu sedang memangku bayi  yang tampaknya baru saja selesai disusui,  sekilas saja terlihat berbeda, bukan seperti ibu dan anak. Bayi itu diambil oleh ibu lain yang mirip kulitnya dengan bayi tersebut.

Kejadian ini membuatku kepikiran juga, ndilalah beberapa hari kemudian di salah satu majalah wanita ada berita mengenai donor ASI. Ujung-ujungnya yang dimintai tolong ya paman Google juga.

Donor darah, donor ginjal sih sudah sering dengar, tapi donor ASI?

Berikut kutipan artikel dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)  mengenai pendonoran ASI dipandang dari sudut kesehatan :

  1. HIV/AIDS
    Walaupun penelitian terbaru yang dilakukan telah menemukan bahwa apabila seorang ibu yang positif HIV menyusui secara eksklusif bayinya selama 6 bulan, maka justru akan menurunkan resiko penularan terhadap bayinya, namun dalam hal berbagi ASI, seorang ibu yang positif HIV tidak dianjurkan untuk mendonorkan ASI (kekhawatiran terhadap resiko penularan serta efek sampingan dan terapi pengobatan yang sedang dijalankan). Di luar negeri, ASI donor secara rutin di-pasteurisasi, karena virus HIV dapat di non-aktifkan dengan memanaskan ASI pada suhu derajat yang tinggi. Pasteurisasi dapat juga dilakukan di rumah
  2. Hepatitis B dan C
    Secara teori, memang ada kemungkin resiko penularan virus Hepatitis B dan C, tetapi ini hanya akan terjadi apabila ASI yang didonorkan terkontaminasi oleh darah seorang ibu yang menderita penyakit tersebut (kontaminasi darah dalam ASI yang disebabkan, misalnya, oleh puting luka/lecet).
  3. TBC
    Resiko penularan TBC melalui ASI donor hampir tidak ada, kecuali apabila ibu yang mendonorkan ASI menderita infeksi TBC yang memang terlokalisasi di daerah payudara, kasus yang sangat jarang terjadi. Resiko penularan TBC pada seorang bayi yang sedang menyusu akan terjadi ketika ibunya yang terinfeksi dengan penyakit tersebut bernafas atau batuk tepat di muka bayinya, sehingga partikel-partikel TBC akan terhirup langsung oleh bayi. Penularan tidak terjadi melalui ASI.
  4. CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus)
    Seorang ibu yang terinfeksi dengan CMV, maka ada kemungkinan ASI-nya juga mengadung virus tersebut sehingga timbul resiko penularan terhadap bayinya. Namun demikian, karena manfaat pemberian ASI jauh melebihi resiko penularan itu sendiri (resiko penularannya tergolong kecil), dan karena ASI mengadung zat-zat antibodi yang melindungi terhadap penyakit CMV, maka ibu yang terinfeksi CMV tetap dianjurkan untuk terus menyusui bayinya. Untuk donor ASI, ibu yang terinfeksi dengan CMV tidak dianjurkan untuk menyumbangkan ASI-nya.Sama dengan kasus seorang ibu yang menderita penyakit HIV/AIDS dan CMV, seorang ibu yang terinfeksi HTLV juga tidak disarankan untuk menyumbangkan ASI-nya. Namun demikian, HTLV-1 (dan seluruh sel-selnya) akan musnah dalam jangka waktu 20 menit dengan memanaskan pada suhu 56°C (atau dalam jangka waktu 10 menit pada suhu 56°C), atau membekukan pada suhu -20°C selama 12 jam. (56 May JT. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and Microbial Contaminants in Human Milk. Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk).
  5. Rokok, Narkoba dan Alkohol
    Penting untuk mengetahui apakah ibu yang mendonorkan ASI adalah seorang perokok, sering mengkonsumsi alkohol (kurang dari 1 gelas per hari biasanya dianggap aman – tetapi alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur pada bayi), dan mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang besar (lebih dari 1-2 cangkir perhari – dapat menyebabkan bayi menjadi rewel). Penggunaan seluruh jenis narkotika dan obat-obatan terlarang adalah tidak aman.
  6. Obat-obatan
    Sebagian besar obat-obatan yang dijual secara bebas maupun yang diresepkan oleh dokter adalah tergolong aman, dan daftar obat-obatan yang termasuk tidak aman bagi seorang ibu yang menyusui sangat pendek. Contoh obat-obatan yang aman termasuk antibiotika, obat asma, tiroid dan anti-depresan. Untuk referensi tingkat keamanan obat-obatan yang dikonsumsi oleh seorang ibu menyusui, dapat menggunakan buku karangan Thomas Hale, berjudul “Medications and Mothers Milk”, atau gunakan daftar yang diterbitkan oleh AAP (American Academy of Pediatrics) (The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk — Committee on Drugs 108 (3): 776 — AAP Policy), atau gunakan LactMed Search. Catatan, bank ASI yang terdapat di luar negeri sebagian besar tidak menerima donor ASI dari seorang ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obatan maupun seorang ibu yang merokok.

Dipandang dari sudut agama Islam, memang Nabi kita tercintapun dahulu disusui oleh seorang ibu susu.  Sebaiknya memang bayi yang disusui berjenis kelamin sama dengan bayi kandung si ibu susu, karena mereka akan menjadi saudara, bila berlainan jenis kelamin diharamkan untuk menikah. Di artikel AIMI inipun ada beberapa pandangan lain, silahkan menuju ke sana.

Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2004  telah menjadi salah satu pendonor ASI. Istri Ibrahim Imran alias Baim ini berbagi pengalaman menjadi pendonor ASI dalam seminar  AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) dalam Breastfeeding Fair 2010 di salah satu Mall di Jakarta, akhir pekan lalu (era baru.net)

“Air susu yang keluar melimpah itu kami tampung, dan atas penawaran pihak rumah sakit. Kami akhirnya mendonorkannya,” ujar Artika dalam seminar tersebut.

Banyak bayi memang tidak beruntung setelah lahir. Sang ibu belum tentu siap menyusui ketika mereka datang ke dunia ini.

“Banyak ibu yang belum siap menyusui ketika anak-anak mereka lahir. Misalnya, air susu mereka tidak keluar, dan ada juga kualitas ASI yang tidak bagus. Masalah tersebut lebih banyak dialami bayi yang lahir premature” ujar seorang pakar kesehatan, Dr. Faizah Ali Sibromalisasi dalam seminar yang sama. Faizah menjelaskan, tidak jarang si Bayi yang tidak beruntung mengalami kondisi kritis karena lambat mendapatkan donor ASI.

42 thoughts on “Donor ASI

  1. Anonim berkata:

    Saya ibu dari bayi laki2 usia 6 bln ,boleh kah saya menyusui atau donor asi k keponakan dari suami bayi cwe usia 5 hari yang belum dapat asi dari ibu y karena asi y blm keluar smp hari ini dan bayi tsb skrg kuning/hiperbilirubin ? mohon info

  2. trivira rusdiana berkata:

    klo msalx seorang ibu yg blm pnya baby berniat mengadopsi bayi trus ingin menyusui anaknya yg tujuannya agar mjd saudara sesusuan dan jg krn asi yg sngat bermanfaat gmn carany????

  3. krismariana berkata:

    saya baru tahu soal donor ASI ini. kalau kata temanku yg punya anak bayi, sebenarnya ASI itu mengirit. ibunya tidak perlu beli susu formula. soalnya susu formula mahal, dan harganya cepat naik… itu yg aku dengar dari temanku sih..

  4. Den Hanafi berkata:

    Wah?? baru tau saya kalau ada yang namanya donor asi?? tapi bener kata bunda lily, entar kalau mereka jatuh cinta bagaimana? saudara sepersusuan kan dilarang menikah? kalau mereka non muslim sih, ga jadi masalah. iya kan bundo?🙂

  5. omietha berkata:

    Salam kenal buMonda..

    Assalamualikum..

    Iya bun, mesti ditelaah lebih lanjut kali ya tentang donor Asi.. ada dua pendapat juga, pernah saya baca bahwa kalau si Ibu menyusui langsung maka menjadi ibu susu dan saudara sepersusuan, tapi kalau dalambentuk donor ASI perah (tdk disusui langsung) tidak menjadi saudara sepersusuan..

    tapi saya blm tahu sebenernya gmn..

    iya nih..header yang cantik dan lembut.. adem rasanya mampir di blog ini , baru pertama kali berkunjung nih saya

  6. Ayahnya Ranggasetya berkata:

    Entah kenapa saya merasa risau dengan adanya donor ASI ini. Menurut keyakinan saya, sepasang laki-laki dan wanita yang pernah menyusu air susu yang sama enggak boleh menikah. Bagaimana kalau keduanya sama-sama tidak tahu bahwa mereka pernah mengecap air susu yang sama?

  7. bintangtimur berkata:

    Baru denger istilah ini, mbak, donor ASI buat saya masih terasa ‘aneh’. Kalau suatu saat bayi-bayi yang berasal dari satu air susu itu bertemu dan menikah, gimana ya…🙂

  8. fety berkata:

    membaca komen bundo, baru liat dengan seksama header blog mbak monda. sepakat bundo, cantiknya🙂
    belajar hal yang baru hari ini, ttg donor asi🙂

  9. Bundanya Dita berkata:

    Menurut saya ASI adalah hak anak dan benar kata bu Tutinonka, perlu upaya keras dari seorang ibu untuk bisa memberikan ASI kepada anaknya. Bagi ibu bekerja harus rajin memerah ASI di sela jam istirahat kantor. Bagi ibu rumah tangga juga harus menyusui langsung di sela pekerjaan rumah yang tiada habis. Tapi memang ada kalanya ibu menghadapi problem yang tidak terelakkan sehingga tidak bisa memberikan ASI. Mendapat Donor ASI bisa jadi salah satu solusi. Tapi ya memang perlu mencermati guidance dari AIMI tsb. Salam ASI🙂

    • monda berkata:

      aku malahan bayi kacang ijo, krn alergi susu sapi, jadinya mamaku kalo pergi ke mana2 bw panci dan ulekan dan perlengkapannya untuk ambil sari kacang ijonya

  10. tutinonka berkata:

    Saya pernah nonton acara di sebuah stasiun teve swasta yang menampilkan narasumber seorang dokter anak, katanya setiap ibu pasti bisa menyusui bayinya, hanya kadang memang perlu latihan dan upaya keras. Nah, bahwa pada kenyataannya ada juga ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI pada bayinya, mungkin memang ada sebab tertentu yang tidak bisa diatasi.

    Karena dalam Islam orang yang disusui oleh ibu yang sama menjadi saudara sesusuan, sebaiknya penerima donor dan pemberi donor saling tahu, untuk menghindarkan terjadinya pernikahan antar saudara sesusuan.

  11. zee berkata:

    Hehehe mungkin dulu di jamannya mba Monda belum terbiasa dengan donor ASI ya.

    Dulu waktu mami saya masih sekolah Bidan, kepala perawatnya yang suster Belanda jg mendonorkan ASI-nya yang banyak u/ bayi-2 prematur di Irian sana.

    Dan baru beberapa tahun belakangan ini mulai kembali digalakkan Kampanye ASI. Teman saya di kantor juga ada yang mendonorkan ASI,biasanya ya lihat dulu asalkan bayinya sama jenis kelaminnya, baru didonorkan. Walaupun bisa saja suatu saat tahu2 adiknya pacaran sama yg sudah dikasih donor ASI, nah… bingung deh. Saya belum pernah donor ASI, mbak, soalnya ASI nya gak banyak (nyetok 100 botol aja masih kurang) dan juga agak takut aja, ya takut aja nanti gedenya tau2 ga sengaja anak kita pacaran gitu sama adiknya or abangnya..

    . Dulu nyetok 100 botol saja masih kurang.

  12. Blog Keluarga berkata:

    Sudah 2 tahun yang lalu kak denger. cuman masih bingung dan ragu penerapan yan syariah seperti apa. karena khawatir bila terjadi pertemuan yang jenis kelamin tidak sama dan pada saat dewasa menikah. Wallahu wa’lam …..

  13. ossy berkata:

    donor asi? baru denger deh.. apa bisa jadi solusi buat bayi2 yg ga dapet asi dari ibunya ya? eh tapi ntar jadi dalih buat ga menyusui yah.. tau ah bingung.. hehe.. mudah2an aku selalu bisa memberikan ASI yang berkualitas untuk babyku.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s