Di manakah kantor Jan Pieterszoon Coen

Minggu, tanggal 1 Agustus 2010 kelompok Sahabat Museum mengadakan acara rutin PTD (Plesiran Tempo Doeloe). Tujuan perjalanan kali ini adalah mencari jejak kantor Jan Pieterszoon Coen, salah seorang Gubernur Jendral VOC di Hindia Belanda yang pernah menewaskan rakyat Bandanaira  dan membawa orang Maluku untuk dijadikan budak yang akan membangun kota baru di Xacatara atau Jayakarta pada 30 Mei 1619, yang telah diserang dan rata dengan tanah.

Para peserta dari segala umur, mulai dari balita sampai senior citizen. Peserta yang cukup banyak  berkumpul di ruang pertemuan Museum Bank Mandiri, persis di depan terminal Trans Jakarta di Kota Tua.  Di tempat ini diberi pengarahan  oleh bapak Lilie Suratminto dan Andy Alexander mengenai sejarah  singkat masuknya VOC di Indonesia, tepatnya di Banten. Kedatangan para pedagang asing ini disambut ramah sebagai tamu, tetapi dengan tipu muslihat  mereka meminta tanah untuk disewa sebagai gudang yang pada akhirnya malah mereka mendapatkam tanah yang sangat luas.

Dengan berjalan kaki para peserta diajak menyusuri jalan Pintu Besar Utara menuju ke utara melewati Museum Bank Indonesia, Museum Fatahillah dan Museum Wayang. Di beberapa titik rombongan berhenti dan diberi pengarahan lagi dengan mengacu pada koleksi lukisan lama, tepat di titik  lokasi lukisan. Kemudian berjalan lagi ke ujung jalan Cengkeh, di sinipun berhenti lagi  untuk menunjukkan pintu masuk ke Gerbang Amsterdam, sekarang lokasi ini menjadi rel kereta api, seperti diceritakan oleh salah satu dari dua narasumber dari mancanegara, Scott Merrillees, pengarang buku Batavia in the 19th Century Photographs (spanduk foto kuno itu adalah Gerbang Amsterdam).

Melewati bawah  rel  kereta api lalu berbelok ke kanan rombongan dibawa menyusuri kolong jalan layang Ancol dan berjalan di antara truk-truk besar yang parkir, sengaja melewati jalan ini karena jalan yang sebenarnya  becek terkena genangan air hujan.

Akhirnya sampailah kami di lokasi yang pernah menjadi lokasi benteng atau kastil yang dibangun oleh JP Coen sebagai benteng pertahanan dan di dalamnya ada beberapa bangunan yang berfungsi sebagai gudang, barak tentara dan kantor sang Gubernur Jenderal.

Foto koleksi bapak Andy Alexander

Lokasi ini sekarang terletak di jalan Tongkol Dalam, kelurahan Ancol kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Apa yang ditemukan sekarang? Sangat menyedihkan. Tanah bekas kastil ini sekarang dimiliki oleh salah satu instansi pemerintah, dibiarkan terlantar dan menjadi lokasi parkir puluhan truk container. Di sinipun tanah sudah dihuni penduduk yang membangun rumah di antara benteng dan sungai Ciliwung.

Foto Koleksi Bapak Andy Alexander

Sisa-sisa kastil yang tertinggal hanyalah bastion timur selatan  atau Saphire. Bastion atau kubu pertahanan awalnya ada 4 sudut yang diberi nama Robijn, Saphier, Parrel, Diamant / Diamond / Intan. Oleh penduduk yang tinggal di dekat bastion itu wilayah tempat tinggal itu diberi nama Kota Intan yang di dekatnya ada jembatan tua yang diberi nama Jembatan Kota Intan. Pada gambar atas nomor 4 itu  adalah lapangan tempat menjinakkan kuda, sekarang lapangan parkir.  Kastil ini dahulu dihancurkan olehsalah satu  Gubernur Jendral lainnya, Daendels pada tahun 1809. Berganti penguasa berganti pula kebijakan.  Batu bata yang dibawa khusus dari Belanda ini dipreteli dan kemudian dipakai lagi untuk membangun tempat tinggal Daendels di daerah Lapangan Banteng dan sekarang dipergunakan sebagai kantor  Departemen Keuangan. Pohon-pohon beringin raksasa dengan akar gantungnya sudah membelit dan melekat erat di dinding bastion. Bahkan penduduk sudah membuat kandang ayam yang menempel di tembok.

sisa-sisa benteng BataviaFoto koleksi bapak Andy Alexander

Keterangan foto: narasumber Pak Lilie memberi penjelasan, memegang lukisan adalah narasumber lainnya  pak Andy dan pak Nico van Horn, ahli arsip dari Leiden, Belanda.

Keterangan foto : narasumber pak Scott sedang menjelaskan.

sisa-sisa kastil dikepung perumahan

Keluar dari reruntuhan ini melewati rumah-rumah penduduk kami tiba di deretan ruko. Dua baris ruko ini tadinya adalah barak tentara, di bagian ujung di antara  barak inilah letak kantor JP Coen, yang sekarang lagi-lagi menjadi tempat parkir truk.

lukisan suasana barak dan kantor JP CoenKoleksi bapak Andy Alexander

Sayang sekali jika situs ini ditelantarkan, dikhawatirkan lama kelamaan sisa-sisa tembok yang tinggal sedikit inipun akan rusak terkena getaran kendaraan berat dan batu bata akan diambil satu persatu. Mudah-mudahan pihak berwenang ada keinginan untuk mempertahankan situs ini, biar bagaimanapun ini adalah bagian dari sejarah.

Keluar dari lokasi, perjalanan dilanjutkan ke Museum Bahari dan Jembatan Kota Intan.

Terima kasih buat bapak Andy Alexander yang mengizinkan koleksinya ditampilkan di sini. Jika rekan-rekan  ingin mengikuti  acara seperti ini bisa bergabung dengan Sahabat Museum di Facebook atau milisnya di sahabatmuseum@yahoogroups.com.

49 thoughts on “Di manakah kantor Jan Pieterszoon Coen

  1. Mas Huda berkata:

    beuh keren-keren euy

    jika berkenan silahkan berikan like atau komentar ke foto ini, klik linknya kemudian like atau komentar ke fotonya

    Setiap like atau komentar memberikan kesempatan mendapatkan motor TVS Apache

  2. IFAN JAYADI berkata:

    Saya senang lho megikuti kegiatan yang berbau tour sejarah karena kita serasa mengalami peristiwa di masa lampau. Sayangnya, saya tidak pernah mengikuti hal tersebut karena jarang sekali diadakan di kota saya. Apalagi kebanyakan tempat2 bersejarah di kota saya itu tlh banyak diubah menjadi pusat perbelanjaan.

    • monda berkata:

      aduuh sayang banget ya Ifan, ..tapi asal nggak berubah bentuk masih bagus juga,
      gedung tua jangan hanya diterlantarkan tapi difungsikan biar terawat

  3. Ni Made Sri Andani berkata:

    wah senengnya ya bisa jalan-jalan melihat-lihat museum. Rasanya kok saya pernah lewat di tempat yang di foto itu ya Mbak Monda…(itu lho yang ada gambar bangunan yang dililit akar pohon beringin itu) . ngeh sih itu bekas bangunan tua jaman kolonial, namun tak nyangka daerah itu bekas lokasi penting..

    • monda berkata:

      mungkin aja mbak pernah lihat bangunan itu…., di pinggir jalan kok..
      sayang ya terabaikan…, padahal biar nyisa dikit juga.. kalau ada nilai sejarahnya pasti ada aja yang mau lihat

  4. bebe' berkata:

    Yah.. sayang banget ya mba, sekarang kastilnya jadi begitu bentuknya.😦 Padahal kalau dirapihin deh, bisa buat jualan pariwisata juga ya..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s