SMP : Siap-siap Mengurangi Plastik

Setiap tahun lebih dari 11 miliar bungkus mi instan menjadi sampah plastik tidak bernilai ekonomis sehingga tidak didaur ulang (..mengerikan sekali..). Demikian isi berita di harian Kompas 2 hari berturut-turut hari Selasa dan Rabu di akhir bulan lalu.

Menurut Plh KaBid Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup Ujang Solihin Sidik, jumlah itu adalah taksiran minimal dan hanya didasarkan data salah satu produsen mi instan di Indonesia, yang menguasai 80% pasar mi instan. Angka itu setara dengan 640 ton sampah plastik.

Sampah plastik seperti kemasan air mineral bisa didaur ulang, tetapi  bungkus mi instan ini pada akhirnya hanya menumpuk di tempat sampah atau mengotori sungai. Tanpa kewajiban bagi produsen untuk mengganti kemasan plastik yang tidak bisa didaur ulang, dan menarik sampah kemasan yang tidak bisa didaur ulang, mustahil Indonesia bisa mengurangi timbunan sampah plastik.

Pak Ujang menjelaskan pengurangan sampah nonorganik akan dilakukan melalui penerapan extended producer responsibility (EPR). Produsen yang menggunakan kemasan berbahan plastik yang tidak bisa didaur ulang bertanggung jawab untuk mengurangi dan menarik kemasannya.

Direktur Bali Fokus Yuyun Ismawati menyesalkan kelambanan pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengurangan Sampah yang disusun pada tahun 2009. Padahal Undang-Undang nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan semua peraturan pemerintah untuk pelaksanaan undang-undang itu harus disahkan dalam waktu satu tahun. EPR seharusnya diberlakukan sejak 2009, kata Yuyun.

Kabarnya Kementrian Lingkungan Hidup sudah menerima draf rancangan peraturan pemerintah tentang pengurangan dan penanganan sampah dan  mulai dibahas Jumat lalu.

Ada banyak pilihan bagi produsen untuk mengganti kemasannya misalnya bioplastik, kertas dan lain-lain.

Institut Pertanian Bogor sejak 2003 mengembangkan riset produksi bioplastik atau plastik terdegradasi. Hasil uji coba penguraian bioplastik oleh mikroba di dalam tanah berhasil dalam waktu 80 hari.

Khaswar Syamsu dari Pusat Penelitian Bioteknologi IPB menggunakan bahan baku pati sagu sebagai sumber karbohidrat atau minyak sawit mentah sebagai sumber lemak. Proses  pembuatannya meliputi memecah senyawa kimia pati sagu atau lemak sawit dengan proses hidrolisis dengan penambahan air untuk menghasilkan karbon. Kemudian ditambahkan urea sebagai  sebagai sumber utama nitrogen dan ditambahkan sumber mineral, seperti kalsium, kalium dan magnesium. Larutan ini dipanaskan sampai 120 derajat Celcius untuk membunuh mikroba tak dibutuhkan.

Selanjutnya, didinginkan dan ditambahkan mikroba Ralstonia eutropha, yaitu bakteri paling produktif menghasilkan Poli-3-hidroksialkanoat (PHA) sebagai biang bioplastik.

Di masyarakat masih banyak yang mengurangi sampah dengan cara dibakar, terutama membakar sampah plastik. Padahal,
membakar sampah, terutama sampah plastik sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Sebab, racun yang terkandung di dalam plastik akan menghasilkan polusi. Jika proses pembakaran ini tidak sempurna, hasil pembakaran itu akan mengurai di udara sebagai dioksin yakni, senyawa yang sangat berbahaya jika terhirup manusia. Senyawa ini dapat memicu penyakit depresi, hepatitis, pembengkakan hati, kanker, dan penyakit lainnya jika terhirup manusia.

Foto dipinjam dari sini

26 thoughts on “SMP : Siap-siap Mengurangi Plastik

  1. Ubai berkata:

    bungkus mi instan ataau kantong plastik siap kami terima
    untuk diolah menjadi kasur KANCIL
    info lebih lanjut hubungi 085743210826

  2. Acacicu berkata:

    Di tempat saya (Jember), ada komunitas pencinta alam yg misinya cuma mengurangi sampah plastik. Nama komunitasnya WACHANA. Nah, sampah plastik yang dari mie instan mereka kumpulkan lalu dijadikan pollibag untuk menanam bibit. Tujuannya untuk penghijauan. Senang membaca tulisan tante.
    SALAM LESTARI…!!!

  3. zee berkata:

    Pelan-pelan bisa mengurangi konsumsi plastik waktu kita belanja kemana-mana. Kalau saya sih, belanja selalu minta karton. Atau saya bawa shopping bag sendiri…🙂

  4. akhmad fauzi berkata:

    Alhamdulillah saya sendiri dirumah sudah mulai membiasakan memisahkan sampah kering dan sampah basah…..pernah disekolahan tempat saya mengabdi sudah pernah saya kasih 2 tempat pembuangan sampah yaitu sampah kering dan basah tp kurangnya dukungan teman – teman guru akhirnya program itu hilang dengan sendirnya…..” selamatkan bumi dari planstik ” salam

  5. dian berkata:

    Saya baru saja diajak liputan sama teman dari VOA di Bantul – Jogja. Di sana ada bank sampah, dimana warganya dengan kesadaran sendiri memilah sampah dan menabungkannya di bank sampah, yang kemudian akan diambil oleh pengepul.
    Kalau saja upaya ini diikuti oleh semua kelurahan di Indonesia, semoga re-use dan recycle bisa beneran berjalan, sebelum akhirnya kita bisa mereduce penggunaan plastik ya.
    Salam

    ceritain ya mbak Dian, pengen tau juga
    keren banget ada yang seperti itu, di lingkunganku sudah mulai ada bbrp RT yang ngumpulin plastik juga,
    walaupun niatnya masih sekedar cari uang kas belum issue lingkungan

  6. muamdisini berkata:

    penggunaan plastik yang berlebihan ternyata mengkhawatirkan yah mba…
    harus dikurangi nih..
    jadi ingat dulu waktu SMA buat tugas akhir harus ke Tempat Pembuangan Sampah…


    ngapain ke TPS ? buat karya tulis tentang daur ulang?

  7. Kakaakin berkata:

    😯
    Saya baru tau tentang kemasan mi instant ini, Mbak…
    Yang baru saya lakukan antara lain mengurangi membeli minuman kemasan.

    sachet bekas minuman bubuk juga nggak bisa didaur ulang lho

  8. gerhanacoklat berkata:

    wah setelah baca postingan monda ini baru ngeh kalo sampah bungkus mi instan itu ga bisa direcycle

    padahal aku sering banget makan😀

    dikurangi aja deh makan mi instannya Jul

  9. mawi wijna berkata:

    di sepeda saya selalu terikat kantong plastik, suapaya kalau ada sesuatu yg membutuhkan wadah kantong plastik saya ndak perlu pakai kantong plastik baru.

    betul wij, itupun sudah sangat membantu

  10. bintangtimur berkata:

    SMP…Siap-siap Mengurangi Plastik🙂
    Betul mbak, sudah beberapa tahun terakhir saya juga merasa ngeri dengan dampak plastik dalam kehidupan sehari-hari. Selain tidak bisa didaur ulang dengan optimal, plastik juga baru hancur setelah beratus-ratus tahun di dalam tanah.
    Yuk, kita kurangi pemakaian apapun yang berhubungan dengan plastik…


    setuju banget mbak

  11. Denuzz BURUNG HANTU berkata:

    alhamdulillah sekarang denuzz lah bekurang kalu nak makan mie tu …
    dak lemak lagi rasonyo …
    kalu kecik dulu iyo … nemen nian … hehehe
    mudah-mudahan denuzz dak beduso besak igo nambah-nambahi sampah di dunio ini …

    salam akrab dari burung hantu …

    nah, cak itulah baru namonyo adek ayuk

  12. Indahjuli berkata:

    Di rumah, mengurangi pemakaian plastik dengan membawa keranjang sendiri kalau belanja ke pasar, dan belanja bulanan pakai kardus.

    Ada teman yang mendaur ulang plastik terutama plastik bekas detergen, sabun, dll, jadi barang berguna seperti tas dan taplak meja.

    salut buat Injul sudah ikut partisipasi mengurangi plastik
    buat barang2 dari plastik kemasan bisa memperpanjang umurnya memang, tapi tetap saja suatu saat kan harus dibuang juga, maka produsen yang harus mengganti kemasan

  13. Catatan SederhaNa berkata:

    wah segitunya ya…
    tp sekarang ada temuan dr sahabat dr unair yang bisa mengganikan sampah plastik…
    mudah2an itu bisa jd alternatif unk masalah ini…

    alhamdulillah , coba nanti aku browsing deh

  14. kyaine berkata:

    saya sendiri sangat kesulitan utk tdk tergantung dr plastik. peran kecil yg coba saya lakukan adalah menggunakan plastik seminimal mungkin.

    yah alhamdulillah, itu juga sudah membantu

  15. اسوب سوبرييادي berkata:

    alhamdulillah, saya sudah mulai membiasakan mengurangi penggunaan plastik….😀

    alhamdulillah

  16. Hari Mulya berkata:

    kaLo ga saLah, tiap saya liat di piLm-piLm luar negeri, kaLo habis beLanja, barang beLanjaannya dibawa pake bungkus kertas cokLat, bukan pLastik kresek..
    kaLo pLastik berbahaya, terus kertas bisa menghabiskan kayu, terus pake apa ya enaknya?😀

    kertasnya pilih yang daur ulang aja deh

  17. edratna berkata:

    Sebetulnya plastik ini bisa di daur ulang, di cuci bersih, kemudian diolah kembali menjadi bijih plastik. Memang tak kembali bersih seperti semula, juga tak boleh untuk membungkus makanan langsung..jadi biasanya diberi pewarna. Plastik hasil daur ulang ini biasanya dalam bentuk plastik warna, bisa untuk terpal, kantong plastik warna warni dsbnya.

    Bahan baku bijih plastik juga bermacam-macam jenisnya, bijih plastik untuk makanan berbeda dengan lainnya, berbeda juga jika untuk sebagai botol minuman untuk kemasan langsung.

    Masalahnya, seharusnya saat menaruh sampah, dipisahkan antara sampah organik dan non organik, sehingga plastik2 ini tak menjadi sampah yang dibuang di kali. Namun bagaimana memisahkannya…begitu ditaruh di tempat sampah, oleh pemulung diaduk-aduk, dan hanya diambil yang menurut dia sesuai kepentingannya.

    Mungkin diperlukan gerakan pembuangan sampah yang dibedakan jenisnya…
    (Catt: kadang saya sedih, pabrik kertaspun impor bahan baku kertas bekas dari LN, karena kertas dari DN sudah tercermar dengan minyak…sehingga tak bisa digunakan..)

    memang bu, si pemulung suka aduk2 pilih yang bisa dijual,
    kantong plastiknya juga diambil lho, udah laku sekarang

  18. bundadontworry berkata:

    wah, begitu mengerikan efek dr plastik ini ya Mbak.
    tetapi kenapa sampai sekarang kok belum kelihatan sosialisasi dr pengurangan pemakaian plastik di negeri kita ya?
    walaupun memang plastik sangat praktis pemakaiannya , ternyata bahaya yg ditimbulkan lebih seram lagi ya😦
    salam

    • tutinonka berkata:

      Setahu saya, di beberapa supermarket besar sudah disosialisasikan kok Bunda, dengan anjuran memakai tas belanja yang bisa dipakai ulang, atau mewadahi belanjaan dengan kardus bekas susu, dll yang disediakan oleh supermarket. Karena sering lupa membawa tas dari rumah, saya sering minta belanjaan dipak memakai kardus. Di rumah, kardus-kardus ini dikumpulkan, lalu diberikan pada pengumpul kertas bekas.

      Tentang plastik bungkus mie instan, mengerikan ya …😦

      minimarket juga udah menyediakan tas daur ulang,
      tapi tetap harus beli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s