Jaket Merah

Salah seorang blogger ngetop mengadakan kuis sepatu buluk berhadiah sepatu baru, tapi aku batal setor tulisan tentang sepatu buluk karena kelamaan mikir dan salah ingat tanggal penutupan, maklum pas lagi puasa dan lebaran jadinya nggak fokus ke artikel.

Terinspirasi dari kuisnya boss arman aku teringat punya satu lagi barang yang sudah tua, jaket merah ini. Jaket jeans ini sudah tua banget, lebih tua daripada kebanyakan teman-teman blogger he..he…Bukan, ini bukan jaket partai meskipun warnanya sama, duluan jaket ini lahir daripada partai itu.

Jaktenya siapa ini? Jaket ini punyaku tentu saja. So what? Jaket beginian  saja kok dipajang. Tanya dong ukurannya…ukurannya M, tapi bukan M dewasa, Mnya  anak-anak. Lho kok bisa, memangnya ibu ini imut  banget toh ….he…he…ngarep dot com.

Ceritanya begini.

3 tahun yang lalu Nantulangku  (tante, bibi) datang ke rumah. “Kak Mon, masih ingat nggak sama jaket merah ini?”

Aku saat itu tertegun agak lama mencoba mengingat. “Ingat, itu kan jaketku dulu, kok masih ada Nantulang?”

“Nantulang simpan, dan baru ketemu setalah beres-beresin  kopor di gudang, masih muat untuk Adek”.

Kuteliti jaket itu. Bahannya masih bagus, tidak ada lubang bekas gigitan ngengat, tidak ada jahitan yang lepas , merknya masih ada (merk jeans yang pada awalnya dibuat sebagai baju kerja para buruh di negara yang jauh itu), kancing logamnya masih lengkap semua dan masih ngejepret banget, kalau dikancingkan masih bunyi kletek…. Kalau bahasa kerennya para fashionista barang ini termasuk vintage kalik ya….

Jaket ini dibelikan almarhum papaku di suatu tempat di pertengahan tahun 70an ……. (nah lho lama banget kan?) , meskipun orang tuaku nggak label minded tapi ada juga  satu dua barang yang agak bagus sedikit (makanya disayang-sayang…). Bahan jaket ini nggak tahu persis jenisnya, tapi dari jeans yang agak berbulu seperti beludru, mirip corduroy, lebih tebal tapi nggak bergaris, apa ya namanya, ada yang tahu?

Aku pakai jaket ini di kelas 5 SD, aku coba cari-cari fotoku pakai jaket ini sebagai barbuk (barang bukti) , tapi sayangnya   nggak ada, so believe it or not.

Setelah tidak muat lagi, jaket sempat turun ke adikku, dan akhirnya ke sepupuku, kepada kedua anak Nantulangku itu. Ketika adik-adik sepupu tambah besar Nantulang tidak mau mewariskan ke orang lain, “biar disimpan saja buat anaknya Kak Mon nanti”.

Terkabul juga keinginan si Nantulang , jaket ini dipakai oleh si sulung dan bungsuku beberapa lama sewaktu mereka  kelas 5 juga. Tetapi sekarang tidak muat lagi dan kembali kusimpan padahal kalau baju anak-anak sudah kecil biasanya kukasih atau sumbangkan  ke orang lain, tapi kali ini  eman-eman ya sudah disimpan dan bertahan  sekian puluh tahun, apakah masih layak dipakai  jika disimpan untuk cucuku nanti….? Pengen lihat, seru kalik ya ha..ha..ha…

Apakah sobat punya juga benda kenangan dan kebiasaan mewariskan barang seperti ini?

Iklan

44 thoughts on “Jaket Merah

  1. Ikkyu_san berkata:

    Wah aku sudah baca, tapi ternyata belum komentar ya?
    Kalau keluargaku, keluarga besar, biasanya barang akan langsung diberikan ke keluarga lain. Jadi tidak ada sisanya, kecuali memang baju itu berkesan sekali.

    Kalau dari keluarganya suamiku ini, ibunya awet sekali, dan memang org Jepang jarang memberikan baju bekas ke orang/saudara. Jadi dia simpan baju-baju suamiku waktu kecil. Dan waktu Riku kecil dipakaikan…setelah 30 th. Masalahnya aku sendiri tinggal di apartemen yang tempat penyimpanannya terbatas, jadi sesudah Riku pakai sempat beberapa baju saya berikan teman akrab (krn wkt itu tidak tahu akan punya adik lagi).

    Tapi kejadian seperti Monda yang kembali lagi setelah dilungsur kemana-mana memang ajaib ya…

    EM

    yg punya kebiasaan lungsuran mungkin cuma orang kita aja kalik ya…,

    nah Riku juga beruntung ya bisa pakai baju kenangan, nenek jg apik sekali pastinya

  2. tutinonka berkata:

    Wow … saya pikir Mbak Monda mau bikin lomba nulis tentang jaket merah, saya sudah siap-siap ikut, soalnya punya jaket merah juga … hehehe …

    Saya nggak punya baju yang sampai diwariskan turun temurun begitu. Kalau sudah tidak dipakai biasanya dikasihkan ke saudara, lalu nggak terpantau lagi, mungkin dipakai sampai rusak atau dikasihkan ke orang lain lagi …

  3. bintangtimur berkata:

    Halow mbak Monda…apa kabar?
    Saya nggak punya kebiasaan menyimpan dan meneruskan baju seperti itu, nggak tau kenapa, malah baru kepikir setelah baca posting mbak Monda ini 😉
    ‘Warisan’ saya yang masih bertahan adalah buku-bukunya Enid Blyton dan Agatha Christie, tapi sayang sekali selera bacaan anak saya beda…jadilah ‘warisan’ itu tetap terpajang rapi didalam lemari… 😀

    iya mbak sama warisan buku2 itupun nggak disentuh anak2 alasannya kertasnya udah kuning he..he..

  4. gerhanacoklat berkata:

    wah hebat monda jaket lepisnya masih bagus begitu
    aku juga punya mainan bebek waktu bayi yang diwariskan buat enrico sekarang hihi

    weleh2 bebek2an itu pasti mainan kesayangannya Julie ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s