Minum Teh Bersama

Tulisan ini singkat saja ya. Posting ini lagi-lagi terinspirasi dari artikel lain. Kali ini dari ibu Edratna (maaf bu belum dikasih link, kompi bermasalah, jadi dari hape saja updatenya). Beberapa waktu lalu bu Enny menulis tentang kebiasaan minum teh. Waktu mengomentari artikel beliau, aku belum ingat ada lagi kebiasaan minum teh di keluargaku.

Pagi ini saat terbangun dari tidur sekonyong-konyong terlintas kejadian berpuluh tahun lalu di masa kanak-kanak. Tiba-tiba aku rindu dengungan suara orang ngobrol di pagi hari.

Di rumah opung selalu ramai, bergantian saudara datang menginap atau sekedar silaturahmi. Setiap bangun pagi bila kami datang menginap ke Medan aku selalu terbangun karena suara percakapan di ruang terbuka di bagian tengah rumah. Para orang tua itu sudah terbangun sejak subuh. Mereka ngobrol sambil minum teh atau kopi sebelum hidangan sarapan pagi selesai disiapkan. Ketika aku terbangun akupun ikut nimbrung minum teh sambil mendengar pembicaraan mereka. Bahkan aku bisa membayangkan peralatan yang dipakai, cangkir teh keramik bergambar bunga merah dengan sehelai daun dan tutup gelas dari metal. Motif peralatan makan seperti itu dulu ngetop banget. Banyak orang yang memiliki barang seperti itu, mungkin dahulu belum banyak pilihan.

Setelah minum teh, aku biasanya mendekati Nantulang Tobang, buyutku, beliau adalah opung dari mamaku. Beliau akan menyirih dan aku minta bagian. Dikeluarkannya perlengkapan menyirih. Pertama diambil dua lembar daun sirih yang sudah dicuci dan dilap bersih, kemudian kapur dioleskan ke atas daun, ditambahkan gambir dan potongan pinang (ada gunting khusus untuk memotong pinang), dibungkus dan dikunyah. Rasanya enak dan segar. Waktu itu aku suka sekali melihat bibir yang menjadi merah sebagai hasil akhir.

Semua kenangan itu tentu saja takkan terulang lagi. Opung dan Nantulang Tobang sudah tidak ada, bahkan rumah opungpun sudah tak ada lagi.

Iklan

48 thoughts on “Minum Teh Bersama

  1. mamah Aline berkata:

    kenangan itu gak bakal terulang tapi akan membekas indah kan mbak Monda…. terbayang kebersaman saat minum teh bersama itu, sekarang jarang hal itu dilakukan keluarga muda sekarang

  2. fety berkata:

    mbak monda, aku jadi terkenang saat 3 tahun selama smu di rumah nenek. ‘menumbuk’ sirih saudara nenek, dan menikmati teh dengan biskuit bersama nenek dan saudara ibu. masa smu yang sdh lama tidak teringatkan lagi 🙂
    btw, klo mbak imel dan mbak monda minum teh brg, aku mau ikut 😀

  3. nitnot berkata:

    sekarang udah jarang minum teh bareng ama keluarga…sekarang empat bulan sekali baru bisa ngeteh bareng mereka …asik ya kalo nyantai ngeteh bareng n pada ngumpul semuanya… 🙂

  4. edratna berkata:

    Ahh indahnya kenangan tersebut…
    Membayangkan, apakah mbak Monda kecil mengendap-endap ingin disertakan dalam obrolan tersebut, walau sebetulnya tak memahami percakapan orangtua?

    Ada kejadian lucu saat saya kecil, seperti yang diceritakan ayah. Saat masih kecil saya suka ikutan mendengarkan orang tua berbicara…dan saat mendengar kata penting..penting..beberapa kali, saya langsung menangis. Para orangtua itu bingung…tapi sambil mendiamkan saya, mereka terus berbicara dan ada pengulangan kata penting. Jadi saya nangis untuk mendapat perhatian mereka…Pentingnya Enny..pentingnya Enny….hehehe…
    Ternyata penting itu, dipikiran saya yang masih kesil sama dengan pentil, untuk minum asi (hahaha)

    • monda berkata:

      He..he.. Pasti bu Enny merasa diledekin ya pas dengar kata2 penting itu ya. Untungnya nguping itu bu sedikit demi sedikit aku bisa mengerti bahasa daerah, kalau ada kata yg baru langsung tanya artinya. Tapi untuk berbicara masih kagok.

  5. abgreds berkata:

    salam kenal mbak monda..
    saya suka minum teh. bahkan kami disini ada aksara pasar ‘ngeteh’ yang bermaksud mari minum teh bersama-sama di warung penjaja..

  6. Pendar Bintang berkata:

    Ngunyah sirih…lho katanya pahit Bunda…jadi rasanya segar yah????

    Kebersamaan memang yang selalu kita rindukan Bunda…
    hani juga suka rindu akan kebersamaan bersama orang-orang terkasih 🙂

  7. R. Indra Kusuma Sejati berkata:

    Daun sirih dan daun teh sangat banyak manfaatnya untuk tubuh kita.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Segenap Keluarga Besar “Ejawantah’s Blog” Management
    Mengucapkan
    SELAMAT TAHUN BARU 2011

  8. Ann berkata:

    Senyum sendiri membayangkan nenek2 yg lagi ngunyah sirih terus disampingnya ada kaleng susu bekas buat buang air liurnya, sudah lama gak liat pemandangan seperti itu.

  9. Bundanya Dita berkata:

    Wah…jadi rindu waktu masih kecil dulu. Setiap pagi, ibu selalu menyediakan teh manis buat kami, ke-3 anaknya, bapak dan ibu sendiri. Kalau dulu kita kadang minumnya bukan dr gelas tapi cangkir dr keleng yang kami sebut “coglok” (jawa). Kalau suami saya sukanya teh tawar hehehe, tapi saya tetep saja suka teh manis 🙂

  10. yustha tt berkata:

    wah… Bu Mon ikut nyirih? Wih…keren-keren…
    Sy liat orang nyirih ngeri, hehe… Gk tau knp.. Mungkin krn mulut penuh dan keluar merah2…kadang diludahkan juga merah2nya itu,, Aduuh… 😀

  11. marsudiyanto berkata:

    Hmmm…
    Cangkir keramik bergambar bunga merah.
    Peralatan mewah saat itu…
    Bahkan ibuk saya hanya mengeluarkannya saat yang dijamu adalah orang penting…
    Cangkirnya bulet, ditempat saya disebut cangkir cempluk…
    Selamat minum teh Bu…

  12. bintangtimur berkata:

    Saya juga suka minum yang panas-panas kalo bangun tidur mbak, entahlah, mungkin kebiasaan. Jadi saat keluar kamar pertama kali, tujuan saya pasti dapur buat menjerang air… 😉
    Tradisi keluarga yang menyenangkan mbak Monda, saya bisa membayangkan kehangatan yang tercipta dari kebiasaan minum teh ini. Menyenangkan pastinya!

    • monda berkata:

      Bukan hanya karena acara minum teh bersama itu yg membekas, tetapi juga keterbukaan opung yang mau menerima siapa saja menginap bahkan sampai berbulan2. Bukan bermaksud riya’, aku yang beruntung mendapat balasan itu, ketika pertama datang ke Bengkulu. Aku diterima dgn sangat hangat oleh keturunan dari famili itu, padahal kami semua belum pernah bertemu. Aku bahkan tinggal beberapa bulan dengan mereka sebelum pindah ke rumah dinas. Indahnya silaturahmi.

  13. Ikkyu_san berkata:

    aku peminum kopi
    tapi sekarang mulai beralih ke teh…
    soalnya, teh bisa tanpa gula dan minum bercangkir-cangkir. bisa menghangatkan badan di musim dingin juga
    kopi hanya pagi hari saja jadinya.

    kapan kita bisa minum teh bersama ya?

    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s