Liburan akhir tahun ke 4 kota

Liburan akhir tahun sekaligus silaturahmi kami habiskan di 4 kota, Semarang, Ambarawa, Demak dan Cirebon. Memang hanya sedikit tempat yang bisa dikunjungi,  singkat pula,  karena dihitung dengan perjalanan darat. Di Ambarawa kami naik kereta uap tua dan di Demak mengunjungi Masjid Agung Demak.

Di Semarang  kami hanya sempat berkeliling kota saja, dan hanya melihat ikon kota Semarang dari jalan   yaitu Tugu Muda dan Lawang Sewu, karena kedua tempat ini sedang direnovasi. Salut dengan Semarang yang masih mempertahankan banyak gedung dan rumah lama dari jaman kolonial. Indah.  Misalnya, hotel tempat kami menginap adalah bekas dua rumah tua, sekarang rumah-rumah itu dipakai sebagai aula pertemuan, dan hotel dibangun di belakangnya.

Jalan-jalan di Minggu  pagi di sekitar hotel kami sampai ke kawasan Pecinan, yang bila malam hari ramai dengan warung makan. Menurut brosur namanya Warung Semawis. Karena mau nobar leg pertama piala AFF kami merelakan tidak kembali ke sana malam harinya he…he…Perjalanan dilanjutkan ke Simpang Lima, rupanya di sini bila Minggu pagi lapangan di  sini disiapkan untuk tempat keramaian, ada permainan anak, penjaja makanan, dan lain-lain.

Keesokan harinya sepulang dari Demak  kami mampir di Pekalongan di outlet batik (banyak banget lho outlet di sini, sampai bingung dan kalap  milihnya) kami memutuskan bermalam di Cirebon .

Pagi harinya setelah check out dari hotel kami berkeliling kota Cirebon dulu. Di Cirebon ini ada 3 keraton, salah  satunya sudah pernah kami datangi di kunjungan pertama dulu. Kalau mau tau tentang keraton coba cek di blognya Atta aja deh, ditulis lengkap oleh penulis tamu Mida.

Kami menyusuri jalan di sekitar pelabuhan dan melewati banyak bangunan lama, salah satunya bangunan milik BAT. Di seberang gedung ini aku melihat sebuah kelenteng dan ada papan tanda bangunan itu adalah cagar budaya.  Aku memutuskan turun untuk melihatnya. Ternyata itu adalah kelenteng Talang yang dibangun tahun 1400an. Tua sekali ya…

Aku dipersilahkan masuk, ternyata memang diijinkan untuk melihat-lihat. Tapi aku masuk sampai teras saja.  Kelenteng  sudah sering dikunjungi orang yang ingin wisata sejarah, terlihat dari buku tamunya.  Kelenteng ini adalah kelenteng Kong Hu Cu.  Ada 2 orang bapak sangat ramah yang sedang ngobrol di teras, kuhampiri dan  kudapat beberapa info dari mereka. Kelenteng ini katanya adalah petilasan Sam Po Kong. Kelenteng utamanya ada di Semarang.

Klenteng Talang Cirebon

Dulu kelenteng ini ada di pinggir pantai, dan gedung BAT di depannya itu masih laut.  Ini foto gerbang kelenteng  dari arah dalam, di depannya adalah gedung BAT.

Di sini ada sebuah altar yang digunakan untuk memuja Tan Sam Cay, atau Haji Mohamad Sjafi’I, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon tahun 1569-1585, yang bergelar Aria Dipa Wira Cula. Konon Kelenteng Talang ini sebelumnya adalah sebuah masjid.   Namun Tan Sam Cay, yang meskipun besar jasanya dalam membantu Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam ke Priangan Timur dan Garut, pada akhirnya murtad dan kembali memeluk Konghucu, serta mengubah mesjid Talang menjadi sebuah kelenteng.

Ingin info dan lihat foto lainnya tentang kelenteng ini silahkan ke sini

Kedua bapak tadi  juga  memberi tahu ada sebuah masjid yang dibangun hampir di saat bersamaan. Namanya Masjid Merah berada di wilayah Panjunan. Info ini belum pernah kuketahui.

Dengan mengikuti petunjuk   mereka , kami coba mencari letak Masjid itu. Karena tidak ada petunjuk arah, kami sempat bingung dan berputar-putar dan memutuskan  cari pasar dulu untuk   cicip-cicip makanan khas Cirebon, dan  alhamdulillah ternyata kami melewati jalan Panjunan. Setelah bertanya ke banyak orang akhirnya ketemu juga masjid itu. Masyarakat di sini menyebutnya Masjid Abang.

Majid ini terletak di wilayah pemukiman. Dari jauh sudah terlihat mencolok karena dibangun dengan bata berwarna merah. Masjid dibangun pada tahun 1480 seperti tertera di papan cagar budaya.

Masjid ini kecil saja, mungkin hanya memuat kurang dari 10 saf jamaah  , dahulu masjid ini adalah mushola.

Masjid ini dibangun    oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan, seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin keramik atau jun.

Meskipun terletak di pemukiman warga keturunan Arab masjid ini menampakkan ciri bangunan Hindu jaman Majapahit. Di dinding masjid  juga banyak terdapat porselen dari Cina dan Belanda.

Jamaah sholat di bagian luar/ serambi masjid

Ruangan di balik pintu putih yang terlihat di foto atas

Yang kurang menyenangkan di masjid ini adalah beberapa orang ibu yang mengaku pengurus tapi ujung-ujungnya motif ekonomi juga, alasannya menjaga sandal dengan agak memaksa, meminta dana buat beli sapu, dan yang menjengkelkan untuk mengambil fofo ruangan tertutup di atas  katanya begini “kalau sudah saya kasih ijin fotonya pasti jadi”. Buntutnya minta sedekah yang harus diletakkan di lubang angin. Oh ya, ruangan tertutup ini hanya dibuka saat Lebaran saja, 2 kali setahun. Foto ini diambil dari lubang angin kecil,   makanya maklum ya hasilnya kurang fokus, tanganku nggak muat he..he… jadi goyang deh.

Keramik di tembok pagar bagian dalam sudah dicungkil orang.

Piring-piring keramik di dinding masjid berjajar rapi

Ingin lihat gambar-gambar lain yang lebih detail dan lebih bagus boleh ke sini.

Begitulah cerita jalan-jalan keluarga kami, tidak hanya ini sebetulnya, tentu saja menyesuaikan dengan keinginan anak-anak ke Gramedia Cirebon dan nonton Harry Potter di Semarang, jauh amat ya nontonnya he…he….  karena sewaktu diputar di Jakarta anak-anak sedang ulangan semester.

60 respons untuk ‘Liburan akhir tahun ke 4 kota

  1. Evi berkata:

    Sayang, waktu ke Cirebon daku tak berkesempatan mengunjungi Masjid Merah dan Klenteng itu Mbak Mon. Keramik yg ditempel di dinding, ciri khas bangunan abad 14-15 tampaknya ya?

  2. yustha tt berkata:

    itu klentengnya pintu gerbangnya singa ya Bu?
    kemarin habis dipameri foto2nya sama teman…
    wiii…ngiri deh…
    Bu Mon juga udah ke sana…waaaa..senangnya…

    itu keramik di dinding pagar kok ya ada yg nyungkil to ya, nakal banget!

  3. septarius berkata:

    ..
    makasih linknya Buk..
    ..
    saya ke semarang cuman lewat doang, beli lumpia, dan bandeng.. ^^
    kalau demak belum pernah, pengen juga liat masjid demak..
    ..

    • monda berkata:

      oh ya kalau mau ke Jatim musti ngelewatin Semarang dulu ya… berapa jam lagi sih ke Jatim dari Semarang, masa anak2 ngajak terus ke Jatim dan Bali, waduh…

  4. alice in wonderland berkata:

    wah kok cuman sebentar di Semarang??? banyak banget yang keren di sini lho, kalo bangunan bersejaraha kan ada Kota lama, greja Blenduk, trus ada juga Kuil Sam Poo Kong. Juga ada bangunan baru yang layak dikunjungi seperti Mesjid Agung. apalagi ya? pokoknya banyak deh^^

  5. BP-BIO berkata:

    Selamat malam bunda maaf baru berkunjung ….
    wah liburan yang sangat menyenangkan yah bunda ,,,
    liburan yang bermanfaat banyak mendapatkan pengalaman dan pendidikan … apa lagi jia bersama si kecil .. jadi kepingin juga hee.

    • monda berkata:

      inipun kunjungan ke 3 baru ketemu teempat2 itu, nggak ada keliatan petunjuknya sih ya, yang ada juga petunjuk keraton, tapi keraton apa nggak tau, soalnya keraton kan ada 3
      pemkot harusnya buat petunjuk lebih banyak lagi, kan di Cirebon ternyata banyak situs cagar budaya

  6. Ann berkata:

    Kapan ya bisa keliling Jawa? Ngumpulin informasi aja dulu ya.
    Cuma gak suka dengan orang2 yang mengambil keuntungan pribadi, seperti mengambil keramik.
    Terima kasih infonya Kak

    • monda berkata:

      Cerita tentang Sausan itu udah kudapat juga, dan lihat fotonya,
      kasihan anak sekecil itu sudah menderita,
      semoga diringankan dan disembuhkan sakitnya.

      iya, aku asal Tapsel
      kalau ngeliat namanya Mey ini dari Bengkulu?

  7. zizy berkata:

    Jadi ingat kelenteng mewah dan indah yang ada di tengah kota Medan. Klenteng itu berdampingan dgn sungai Deli. Kira2 kemarin kena banjir gak ya. Dari dulu ingin masuk kesana tapi gak berani, maklumlah karena bukan umat Budha kan kita tidak tahu apakah orang luar boleh masuk dan melihat-lihat.

    Wah itu ibu2 yang “memaksa” itu benar2 ngerusak mood. Kayak-kayak gitu tuh yang sedikit banyak mengurangi nilai positif tempat wisata.

    • monda berkata:

      mau masuk kelenteng itu aku juga sungkan, apalagi suasananya lagi sepi, takut salah2 bisa bikin runyam

      aku udah banyak lupa lokasi Medan,
      kalau yang di kampung keling ada rumah ibadah apa ya,lupa2 ingat

  8. Mechta berkata:

    Wah…liburan akhir tahunnya kumplit ya mbak….sempat mampir di Pekalongan pula, di Setono kah? Sya suka melihat pagar masjid merah itu…unik ya?

    • monda berkata:

      mampir di Pekalongan cuma yang di sepanjang jalur pantura itu aja,
      padahal kemarinnya kan di Kompas minggu ada liputan perancang yang kerja sama dengan pembatik Pekalongan,jadi ngiler,

      kepengen sih keliling, tapi kalau diturutin bisa2 nggak pulang2 karena semua tempat ingin dikunjungi he..he…

  9. bundadontworry berkata:

    liburan sambil berwisata ketempat2 bersejarah kayak gini, pastinya menyenangkan banget ya Mbak Monda.
    pingin juga jalan2 ke Demak utk ngelihat mesjid demak yg bersejarah dan terkenal itu.
    salam

    • monda berkata:

      sewaktu perjalanan di pantura ketemu dengan bis rombongan yang penuh ibu2 jamaah masjid, mungkin tujuannya ke sana juga bunda untuk jiarah ke masjid para wali

      baiknya ke sana jangan hari libur atau akhir pekan biar kita bisa lebih menikmati suasana masjid

  10. bintangtimur berkata:

    Senengnya liburan keluarga dan bermanfaat kayak gini, mbak…biarpun pernah ke Cirebon, tapi saya baru tahu tentang obyek-obyek wisata dari posting yang mbak Monda tulis ini…hehe, dulu cuma ke rumah saudara aja, kebetulan mereka baru pindah rumah… 😀
    Klentengnya keren, saya selalu suka lihat keunikan klenteng. Entah kenapa, mungkin mengingatkan saya pada film-film silat klasik 🙂

    • monda berkata:

      ciaaaat rupanya mbak Irma penggemar silat, Sin tiaw Hiap Lu atau Demi Gods?

      Aku juga surprised mbak, udah dua kali ke Cirebon baru ini tau kedua tempat ini,
      padahal tadinya nggak niat jalan2 lagi, karena anak2 pengen cepat2 pulang, mutar2 iseng aja ternyata dapat obyek sejarah …. ya pantanglah dilewatkan he..he…, untung anak2 bersedia…, kalau nggak mamanya bisa kepikiran terus deh… he…he…

    • monda berkata:

      Wa alaikum salam Dija, akhirnya kenalan juga ya,senang deh
      udah pernah tau ceritanya Dija di acacicu, tapi belum sempat mampir, maaf ya

  11. edratna berkata:

    Senang baca ini mbak Monda..semuanya belum pernah saya kunjungi…
    Malu ya, soalnya kalau pulang kampung, penginnya segera sampai sana..maklum perjalanan yang dulu 15 jam sekarang menjadi 20 jam…pegal di badan

    • monda berkata:

      samaan dong bu,
      aku juga belum pernah ke Samosir, ke danau Toba juga cuma di pinggir2 doang nyelupin kaki aja, itupun cuma pas makan siang di Prapat
      soalnya jalan ke kampungku masih jauh, masih setengah hari lagi, makanya nggak bisa mampir lama supaya sampainya nggak kemalaman

  12. Ikkyu_san berkata:

    wah aku ingin sekali tuh ke musium kereta ambarawa, dan klenteng sam po kong. Kapan ya bisa?
    Memang kalau pergi dengan anak-anak kita harus menyesuaikan jadwal dengan keinginan mereka juga ya.
    Senang sekali membaca cerita perjalanan keluarga ini.

    EM

  13. arman berkata:

    wah asiknya jalan2 keliling dari kota ke kota nih ya bu… 🙂

    harusnya pas di semarang juga mampir ke klenteng sam po kong bu… bagus juga tuh disitu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s