Museum Bahari

Beberapa waktu lalu  kami menghabiskan libur akhir pekan dengan mengunjungi  Museum Bahari. Letaknya masih di kawasan Kota Tua, di ujung Utara Ibukota, di kawasan kuno pelabuhan Sunda Kelapa, tepat di sebelah barat muara sungai Cliwung.

Museum ini berlokasi di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa. Jam kunjung museum adalah 09.00 – 15.00 WIB, dari Selasa hingga Minggu.

Dari terminal busway Kota berjalan kaki sekitar  10-15 menit, perjalanan takkan terasa lama bila kita bisa menikmati pemandangan gedung-gedung tua. Apalagi  bisa mampir melepas lelah di Jembatan Kota Intan. Bila ada perahu yang lewat di bawahnya  jembatan  ini dahulu bisa dinaik turunkan.  Namun bila tidak ingin berlelah-lelah  banyak ojek sepeda ontel yang bisa disewa, umumnya para pengojek  mau diminta bercerita tentang kawasan ini.

Pada jaman  Belanda bangunan Museum Bahari ini dulunya adalah gudang penyimpanan  hasil bumi, seperti rempah-rempah, komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan  memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur.  Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC di Nusantara, yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.

Kemudian ketika Jepang nenduduki Indonesia  gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

Di Museum Bahari disimpan peninggalan VOC Belanda pada zaman dahulu dalam bentuk model atau replica  kecil, photo, lukisan serta berbagai model perahu tradisional, perahu asli, alat navigasi, kepelabuhan serta benda lainnya yang berhubungan dengan kebaharian Indonesia. Museum ini mencoba menggambarkan kepada para pengunjungnya mengenai tradisi melaut nenek moyang Bangsa Indonesia dan juga pentingnya laut bagi perekonomian Bangsa Indonesia dari dulu hingga kini.

Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.

Museum Bahari sangat menarik dijadikan obyek foto. Video klip musisi terkenal Indonesia juga ada yang mengambil lokasi di sini.

Kira-kira 50 meter sebelum Museum Bahari ada bangunan menjulang yang sekarang disebut sebagai Menara Syahbandar. Dalam bahasa Belanda disebut Uitkijk (pos pengawas bagian bawah)  dibangun tahun 1839. Bangunan ini pernah menjadi bangunan tertinggi di Batavia. Menara berukuran 4×8 meter dan tingi 12 meter. Dari sinilah kapal yang akan berlabuh dipandu untuk memasuki pelabuhan.

Menara ini dijuluki Menara Miring karena semakin miring posisinya. Menara Syahbandar juga bergoyang saat truk dan kendaraan berat lainnya lewat di Jalan Raya Pakin, sehingga bisa mengancam kelestarian Menara Syahbandar ini. Pada 2001 kemiringan sudah mencapai 2,5 derajat. Renovasi dilakukan dengan membuat topangan, agar bila menara rubuh ridak langsung  jatuh.

Dulu wilayah ini pernah menjadi penanda Kilometer o Jakarta seperti  terlihat dari sebuah prasasti di depan Menara Syahbandar,  yang ditandatangani Gubernur Jakarta Ali Sadikin tahun 1977.  Namun titik Kilometer 0 DKI Jakarta itu kemudian dipindahkan ke Monumen Nasional.

Di sebelah selatan Menara Syahbandar ada  gedung berlogo VOC. Pada masa penjajahan tempat itu merupakan galangan kapal Verenidge Oost Indische Compagnie (Serikat Dagang Hindia Timur). Sebelumnya lagi tempat itu merupakan tempat kediaman Pangeran Jayawikarta dan loji Inggris, yang dihancurkan tahun 1619 oleh Belanda saat merebut Jayakarta.

Sumber ; wikipedia47 Museum Jakartaaroengbinang

Sumber Foto : pribadi

Iklan

56 thoughts on “Museum Bahari

  1. Ping-balik: Me Time « Kisahku
  2. Ann berkata:

    Saya termasuk orang yang ‘malas’ ke museum 😦 padalah banyak yang bisa dipelajari ya.
    Moga2 dengan informasi seperti ini jadi bisa tergerak untuk berkunjung ke museum

  3. AtA berkata:

    ..
    hebat deh jaman dulu sudah bisa bikin logo VOC keren gitu..
    padahal belum ada desain grafis.. hihi..
    ..
    kalo berkunjung malem serem-serem asik kali ya.. ^^
    ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s