Mebat

Artikel ini sudah  kujanjikan di tulisan terdahulu  tentang Gulai Ayam.

Mebat adalah rangkaian acara adat perkawinan di suku kami.  Acara adat sebelum pesta bisa dilihat di blognya Clara ya. Meskipun aku dan Clara berasal dari dua kabupaten berbeda tapi kurang lebih persiapannya hampir sama.

Secara garis besar di tempat kami acaranya begini didahului dengan marpokat, yaitu rapat keluarga,  minta marga (jika calon pasangan berasal dari daerah lain), pemberian marga, mangalehen mangan yang mirip dengan malam midodareni, akad nikah, dan mangupa yaitu acara pemberian nasihat untuk pengantin baru.

Mebat dilakukan kurang lebih beberapa hari setelah pernikahan. Kedua pengantin dan keluarga pengantin pria datang ke rumah orang tua pengantin wanita. Di rumah pengantin wanita sudah berkumpul keluarga besarnya. Di sini pasangan baru tersebut akan diupa lagi, tetapi khusus dari keluarga orang tua perempuan.

Sesudah mangupa, dikeluarkanlah segala macam pemberian atau kado dari pihak keluarga wanita. Yang memberikan selain orang tua adalah para Tulangnya, yaitu keluarga paman, adik atau kakak si ibu. Dari orang tuanya si pengantin diberikan peralatan rumah tangga  yaitu tikar adat, bantal, peralatan makan dan memasak, garigit (tempat air dari bambu yang diberi tali), beras, telur, dan ayam hidup.

Maksud pemberian ini adalah modal untuk membangun rumah tangga dan bahwa pengantin wanita itu disayangi keluarganya dan dibekali secukupnya agar hidupnya senang di keluarga baru. Tikar dan bantal bisa dipergunakan sendiri atau untuk keluarga yang datang menginap. Peralatan makan dan masak, beras dan telur  tentu saja supaya  sang putri siap bertugas sebagai istri dan ibu. Ayam hidup diminta untuk dipelihara dan dibiakkan sehingga bila ada tamu datang ada sesuatu untuk dihidangkan.

Jadi ketika berangkat dari rumah orang tuanya pengantin putri membawa garigit  di bahu kanan dan menggendong ayam di tangan kiri dan membawa kantong beras di atas  kepalanya (bagi yang bisa saja)

Iklan

36 thoughts on “Mebat

  1. edratna berkata:

    Menarik sekali mbak Monda, adat istiadat di Indonesia memang jadi budaya yang menarik…
    Karena alasan kepraktisan, di kota besar, acara pernikahan disederhanakan…..

  2. 'Ne berkata:

    Bunda, ngelihat prosesi di Jawa aja udah ribet ini kalo adat Batak lebih-lebih lagi ya.. (kemaren sempet baca di blognya Clara) tapi seneng aja sih ngelihatnya.. kalo ngejalaninnya itu yang belom pernah hehe :mrgreen:

  3. niQue berkata:

    untung aku sama suami kompak, sama2 ga mau resepsi, ga mau ada acara adat, apalagi sebenarnya untuk penyematan marga untuk pasangan yang bukan satu suku bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. bahkan, ketika pertama kali aku mengenalkan calon suami kepada bapak, pertanyaan pertamanya : orang apa? Begitu tau bukan satu suku, spontan bapak bilang : alhamdulillah! hahahaha … mungkin bapak pun males les les urusan adat2 itu, atau mungkin karena mama sudah tidak ada, jadi Bapak ogah ngurusin sendirian? Hehehe

    Tentang gulai ayam, saya sempat lho kak, ga mau makan gulai ayam klo bukan alm. mama yang masakin, abis rasanya gimana gitu deh, apalagi klo beli tuh, ga pas aja rasanya. Ga tau juga kenapa ya, kalau gulai ayam yang dibeli itu beda aja rasanya sama yang kita masak di rumah 😀

  4. mamah Aline berkata:

    tradisi menjelang pernikahan di setiap tempat biar beda nama tapi banyak kesamaan ya mbak… adat sunda sepertinya ada, seperti acara ngeyek seureuh gitu deh 🙂
    semoga tetap lestari adat istiadat dan keragaman budaya kita

  5. Iksa berkata:

    Ha ha ha istriku nggak mau kawin adat, belum sanggup bertanggungjawabnya … haknya sih enaak … kewajiban adatnya itu yang berat

  6. Prima berkata:

    Bunda, aku cuma tau dari temen-temenku yang emang “batak”, katanya kalo nikah itu ribet, bahkan dia rasanya pengen cepet2 prosesi itu berakhir, wkakakakak… saking panjang dan riwehnya… 🙂 kalo aku as you know… aku ndak tau apa-apa bund… T_T

      • zee berkata:

        Orang batak mo pesta memang repot ya Kak, apalagi yang bagian minta izin tulang-tulangnya. Di Tapsel begitu juga gak kak?
        Waktu aku merit, tidak ada pakai adat, karena tidak mau ribet. Tapi pestanya tetap pakai ala Simalungun juga.

  7. Gaphe berkata:

    baru tahu mebat tuh seperti apa, memang keragaman budaya termasuk dalam adat pernikahan itu berbeda2 setiap wilayah ya.

    duh dari tadi saya mampir blog banyak yang bahas tentang perkawinan. ada tanda apakah ini? #grin

  8. bundadontworry berkata:

    adat istiadat tradisional seperti ini bagus banget dan keren pastinya ya Mbak kalau didokumentasikan.
    karena setiap daerah punya keunikan dan keindahan sendiri.
    walau aku besar dijakarta, namun kalau adat istiadatnya masih dipakai bila ada acara pernikahan .
    bangga ya Mbak, negeri kita punya beragam adat istiadat ini 🙂
    salam

  9. Mechta berkata:

    Oo jadi di adat mbak Monda, upacara nikahnya di kelg pria baru beberapa hari kemudian di kelg wanita ya ? ( eh,maaf klo saya salah menyimpulkan). Klo di adat jawa kan biasanya akad di kel wanita & beberapa hari kemudian ‘ngunduh mantu’ di keluarga pria ( ada jg yg menyebutnya acara ‘balik kloso’ )

    • monda berkata:

      Akad nikah di tempat wanita dan langsung diboyong ke rumah suami. Biasanya resepsi di sana. Baru mebat ke rumah wanita beberapa waktu kemudian.

  10. TuSuda berkata:

    Istilah namanya mirip ya..,dalam tradisi Bali, “mebat” diartikan berkaitan dengan persiapan umat mengolah menu bahan makanan yang akan disajikan dlm suatu upakara adat istiadat.
    Terimakasih sudah berkenan berbagi.
    Salam Kenal dari Kendari. 8)

  11. Lyliana Tia berkata:

    Wah ribet jg yah… Tapi tradisi spt ini yg memperkaya Indonesia nih Mba.. Mudah2an nggak akan punah… Anak2nya Mba Monda nanti jg akan jalanin tradisi ini..?

  12. mylitleusagi berkata:

    bunda..
    aku pernah denger kata “Martumpol” itu ada nya di bagian mana..
    di Minang juga..
    kalau ada acara adat gitu pasti yang di kasih adalah .. “Telor , dan Beras”
    jadi habis acara,,stock beras sama telornay banyak dah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s