Museum Bank

Setiap akhir pekan catatan pencarian ke blog ini  salah satunya adalah kata kunci museum, museum wayang, museum bahari dan museum lainnya yang ada di Jakarta. Museum di Jakarta banyak sekali, paling tidak ada 47 buah seperti  dinyatakan di dalam buku 47 Museum Jakarta.

Hal ini membangkitkan semangatku, masih banyak orang yang senang berkunjung ke museum.  Tema museum akan terus kutulis. Apalagi  tahun 2010 lalu adalah Tahun Kunjungan Museum, yang merupakan momentum awal Gerakan Nasional Cinta Museum 2010 -2014. Gerakan Nasional Cinta Museum adalah upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan museum-museum di Indonesia agar siap bersaing.

Menurut buku yang kuebutkan di atas tadi museum di Jakarta yang dikategorikan museum ekonomi ada 3.  Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia dan Museum Dana Artha.

Masih di wilayah Kota Tua Jakarta,  kedua  museum bank itu  terletak berdampingan. Keduanya terletak di sebelah kiri terminal akhir busway di Kota Tua. Turun dari terminal masuk saja ke terowongan penyeberangan bawah tanah yang langsung membawa kita ke depan pintu masuk Museum Bank Mandiri. Tiket masuk museum ini murah  sekali kok, sama dengan harga tiket semua museum di Jakarta yang masih  dua ribu rupiah.

Gedung  Bank Mandiri ini dahulu adalah  gedung sebuah perusahaan dagang Belanda, dibangun pada1929 dan  bergaya Art Deco Klasik.  Koleksi museum adalah berbagai  benda yang berkaitan dengan aktivitas perbankan jaman dulu.  Salah satu koleksinya adalah buku tebal catatan bank.

Ornamen bangunan, interior dan furniture musuem ini masih asli seperti ketika didirikan. Hiasan kaca patri banyak terdapat di sini. Jadi selain menikmati koleksi, pengunjung juga dapat menikmati indahnya hiasan kaca patri dan arsitektur gedung yang sudah tua.

Beranjak ke sebelah kiri, ada Museum Bank Indonesia. Tiket masuk museum ini gratis.

 

Gedung tua ini dicat putih dan terlihat megah. Gedung ini memang tua, tetapi suasana di dalamnya sarat teknologi.  Pengunjung masuk melalui pintu kaca otomatis dan akan diperiksa oleh pengawal dengan  detektor logam.  Lobi megah dan sejuk, karena gedung ini full AC. Di atas pintu masuk ini ada kaca patri dengan berbagai motif, sangat indah. Total di gedung ini ada 1509 kaca, sayangnya aku tak berhasil  mengabadikan kaca patri di lobby yang sangat indah. Kaca patri di bawah ini  terletak di luar ruang pameran.

Setelah menitipkan tas di resepsionis, kita  bisa lihat ada LD yang menjelaskan sejarah museum ini. Di ruang peralihan ada proyektor yang menampilkan koin yang jika ditangkap akan memberikan informasi tentang koin tersebut. Ada pula ruang teater yang akan menjelaskan tentang tugas Bank Indonesia.

Setelah teater ada ruang yang modern, tak ada kesan kumuh atau kuno. Ada  cerita tentang Batavia tempo dulu, seperti dermaga  di Batavia. Kemudian ada ruang brankas  dengan pintu baja berisai informasi tentang uang yang pernah beredar di Nusantara. Ada kaca pembesar  sehingga kita bisa meneliti dengan saksama. Ada juga panel yang bisa ditarik dari lemari yang berisi mata uang mancanegara. Ada pula ruang brankas yang berisi lempengan emas batangan bertumpuk-tumpuk. Menyilaukan.

Di luar ruang brankas ada tempat duduk seperti uang benggol dan ada uang kertas  yang bisa dipakai untuk berfoto dengan wajah kita.

Di Museum ini banyak petugas yang bisa membantu jika kita ingin bertanya. Pengamanan di sini cukup ketat, dipantau dengan CCTV dan ada larangan memotret di dalam ruangan modern tadi.

Iklan

34 thoughts on “Museum Bank

  1. jumialely berkata:

    Terima Kasih tante untuk kehadirannya di 1rst anniversary rumah maya saya, silahkan cinderamata diambil disana untuk dibawa pulang, salam hangat, I love You Friends sudah menceriakan hari saya

    ————–
    Museum nya super ketat ya tante, tapi aku ga terlalu sering ke museum, hanya beberapa kali aja, ke museum daerah dan ke beberapa gallery binatang

  2. zee berkata:

    Bagus itu kak, jadi orang kalau mau mencari tentang museum jadi tahu di sini cukup lengkap menulis ttg museum. Meskipun aku belum menjelajahi semua museum di Jakarta, tapi pengen dong… nantilah kalau Vay udah besar, biar sudah bisa mengerti… 🙂

  3. edratna berkata:

    Hehehe…mbak Monda, saya jadi malu. Saya belum pernah ke museum Bank ini, walaupun saya mantan pekerja di Bank selama 28 tahun lebih…..hehehe.
    Mungkin karena tantangan nya beda ya..bahkan saya belum pernah melihat museum asal muasal Bank tempat saya bekerja yang telah berumur ratusan tahun, di kota kecil Purwokerto…..hehehe

  4. Ridha Alsadi berkata:

    gini nih klo orang cerdas, refreshingnya juga ke tempat2 dimana pulangnya bisa bawa info dan ilmu yang menarik bagi orang lain. 🙂
    klo museum, di makassar cuman ada satu, itupun tak terurus. memprihatinkan
    salam hangat, bangauputih ^_^

  5. Nova berkata:

    wah, saya paling jarang banget jalan2 ke museum, terakhir pas jaman sd dulu dan sekarang saya udah selesai kuliah. pingin kapan2 bisa jalan2 lagi,hehhe

    salam kenal=)

  6. bundadontworry berkata:

    membaca tulisan ini, rasanya seperti ikut diajak jalan2 juga oleh Mbak Monda 🙂
    suka banget dgn tulisan ttg museum ini krn Mbak Monda menuliskan nya begitu detail tapi tak membosankan .
    terimakasih Mbak Monda krn telah berbagi pengalaman 🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s