Teganya …. Teganya…

Teganya…. teganya…. . Foto diambil di sebuah kantin kantor.

54 thoughts on “Teganya …. Teganya…

  1. Ahmed Noer berkata:

    Hehehee.. saya mantan pengamen ..
    Menurut saya sih nggak tersinggung lah ..
    Dan seandainya saya harus mengamen lagi ditempat yg ada tulisan tsb, saya hiraukan.
    Yang penting tetap ngamen dan memberikan suara yang terbaik.

    Diterima atau ditolak itu ada ditangan orang yang kita “ameni”, bukan dari kantin tsb.
    Dan hendaknya bagi orang yang “diameni” segera memberikan respon :

    Jika Menolak, silahkan lekas-lekas mengatakan misalnya:
    “maaf aja ya bang, maaf bang lewat dulu, dsb ..”
    Otomatis, itu sudah sangat menghargai pengamen, dan umumnya pengamen tsb akan pindah dari orang tsb.

    Jangan dicuekkin !!!
    Itu sama aja menghina pengamen !

    Thx yaaa .. salam🙂

  2. Abah Epoy berkata:

    Di depan Sarinah, Jakarta Pusat, beberapa kelompok pengamen modalnya hanya satu gitar. Jadi, kalau kita makan sate, misalnya, di sana,bisa ngasih ke pengamen beberapa kali dalam sekali makan, coba liatin gitarnya: sama!!! kreatif, satu gitar banyak pengamen. Cuma karena mereka ngamen di tempat dan konsumen yg sama jadi ya sungguh teganya teganya teganya (bbrp orang minta duit ke orang yg sama….hiks)

  3. Ann berkata:

    Memang terkadang pengamen agak menggangu kalau terlalu banyak dan nyanyinya asal-asalan tapi kalau suara dan main musiknya bagus aku pasti kasih uang kadang malah request lagu.
    Mending ngamen dari pada mereka jadi maling

  4. lozz akbar berkata:

    mana ada tulisan..?? saya enggak liat tuh hehehe

    no comment aja deh.. soale disatu sisi saya kasihan ma pengamen beneran, tapi kadang juga mangkel ma orang males berpura-pura jadi pengamen

  5. bisot berkata:

    waduh saya mantan pengamen, 3 tahun mengamen di rantau, hmm…. ada juga pengamen yang kadang hanya mengejar uang tanpa memikirkan perasaan, padahal mengamen itu judulnya entertaining, kalau kita bisa menghibur orang lain selain senang kita akan dapat tambahan dari yang biasa kita terima, intinya walaupun ngamen kalau kita cinta profesi kita akan ada usaha untuk mengasah ketrampilan dan mempelajari tipikal konsumen🙂

  6. Devi Yudhistira berkata:

    itu pasti pengamennya yg suka kebangetan….

    aku pernah liat, kantin yg memberdayakan pengamen…jd emang dijadwal gitu ngamennya, tp cuman di luar dan seharian tuh nyanyinya…pengunjung yg mau ngasih tinggal masukin ke kaleng…jd ga mengganggu…

  7. Imelda berkata:

    hmmm
    kalau suruh bandingkan
    kasih uang pada pengamen (yang benar menyanyi) atau pengemis, tentu kasih pada pengamen. Tapi kalau maksa itu yang nyebelin.
    Sebetulnya bisa diatur juga oleh pak satpam spy pengamen jgn masuk situ ya

    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s