Majalah Anak

“Ma, titip dong belikan majalah ”

Demikian pesan anak-anak bila  sudah tiba tanggal terbit majalah yang disukainya. Anak-anak lebih suka membeli eceran karena katanya tukang koran langganan selalu telat mengantar.

Dahulu, kami bersaudara, aku dan dua adikku ditambah seorang sepupu,  di masa kecil  berlaku sama kepada orang tua. Kami  minta berlangganan majalah anak-anak.  Waktu itu perumahan kami adalah perumahan yang baru sedikit penghuninya dan letaknya di bukit, tukang koran tak mau mengantar ke rumah. Solusinya koran dan majalah diantar ke kantor Papa.

Ketika Papa pulang kerja, anak-anak yang sudah hafal jadwal terbit majalah baru rebutan ingin membaca yang pertama. Ribut sekali tak ada yang mau mengalah. Akhirnya dibuat jadwal bergiliran siapa yang bisa membaca pertama kalinya yang lain harus sabar menunggu sesuai urutannya.  Tetapi dasar anak yang haus bacaan,  saking tidak sabarnya kami duduk menempel dan mengikuti ke mana saja saudara kami bergerak karena tak mau diganggu saat membaca, majalah sengaja ditutup-tutupi.

Di awal tahun 70an itu tak  banyak majalah anak-anak. Kuingat  ada sisipan cerita anak berjudul Cerita Sebelum Bobo  di majalah Ideal yang dipinjam mama dari perpustakaan. Maka, ketika pertama kali majalah Bobo terbit kupikir itu adalah lanjutan  dari majalah tersebut , sempat terheran-heran mengapa ceritanya berbeda, karena di majalah ceritanya adalah cerita rakyat.  Aku tak paham bobo di Ideal artinya tidur.  Ternyata memang bukan dari penerbit yang sama.

Majalah yang kami baca dulu ada Bobo,  Tomtom,  Album Cerita Ternama (komik ringkasan cerita klasik dunia), dan  Si Kuncung. Khusus majalah Si Kuncung ini karena tidak beredar di Sorong, oomku mengirimkannya dari Jakarta.  Langganan Si Kuncung atas usul mamaku yang dulu juga suka majalah ini. Di majalah Si Kuncung  aku menyukai tokoh Nenek Limbat yang bisa menjawab semua pertanyaan anak-anak sekitar ilmu pengetahuan. Si Kuncung kini tak ada lagi, yang bertahan tinggal Bobo yang menginjak usia 38 tahun. Akupun pernah menerbitkan artikel yang infonya kudapat dari Bobo, Bau Hujan Yang Segar.

Menginjak SMP, aku mulai membeli majalah Gadis, ketika itu Gadis tidak diantar ke rumah, harus diambil langsung ke tokonya setiap 10 hari sekali. Sempat gelisah tak karuan ketika berulang-ulang datang ke toko tak ada juga majalah Gadis, katanya tak ada kiriman dari Jakarta. Belakangan baru diketahui percetakan penerbit Gadis dan Femina terbakar.

Iklan

49 thoughts on “Majalah Anak

  1. zuardin berkata:

    Hi,,salam kenal,,saya sangat suka majalah bobo tapi sayang majalah bobo sekarang jauh berbeda dengan yg dulu,,bagi yg ingin bernostalgia dengan bacaan lama kunjungi blog saya di zona djadoel,,trims.

  2. rien sweetty berkata:

    Apa persyaratan utk krm cerpen/cerbung anak/dws ? Kirim emailnya kemana? Tlg beri tahu yah email mjlh anak2/remaja yah,,,tq…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s