Jalan-jalan Ke Bali (satu)

Rangkaian bunga di lobby sebuah hotel di Kuta

Liburan tahun ini kami merencanakan jalan-jalan ke Bali. Rencana interary sudah disusun sesuai keinginan seluruh anggota keluarga. Untuk masalah akomodasi kami meminta bantuan informasi dari teman-teman yang ada di Bali.

Untuk transportasi selama di pulau Bali sebelumnya kami telah menelfon penyewaan mobil rekomendasi kawan.  Di pulau Dewata ini  sulit kendaraan umum.

Pemilik rental  mobil telah menunggu kami di bandara Ngurah Rai. Disepakati  harga sewa mobil Rp 150.000, per hari untuk Avanza, lepas kunci. Kami memang memutuskan menyetir sendiri. Alasannya karena lagi-lagi  dari informasi  teman-teman asal Bali. Di sana itu  petunjuk jalan sangat jelas, masyarakatpun paham dan mau menunjukkan arah. Apalagi, kamipun akan bergabung  dan ditemani  oleh seorang teman lama yang  telah menetap di Denpasar selama beberapa tahun.

Sebelum berangkat dari rumah tentu saja kami sudah menyiapkan destinasi yang ingin didatangi. Kami memilih tempat-tempat yang hanya spesifik ada di Bali. Toko dan pasar tak masuk tujuan utama karena aku tak suka berbelanja. Kami fokus  wisata hanya untuk menikmati sebanyak mungkin daya tarik suatu tempat,  apalagi di Bali kan banyak sekali tempat indah.

Hari pertama di Bali. Setelah meletakkan koper di hotel, tanpa buang waktu kami langsung ke Kuta untuk melihat matahari terbenam. Jalan  sepanjang pantai Kuta yang kecil itu terasa sangat sempit. Jalan  macet dipadati oleh  kendaraan dan manusia yang menuju pantai sambil cuci mata di toko-toko cendera mata sepanjang Kuta.

Kegiatan favorit di Kuta kala senja

Semburat merah pantulan sinar matahari yang tenggelam  seolah masuk ke dalam lautan luas berkebalikan dengan munculnya bulan di daratan.

Memandang ke arah daratan bulan mulai muncul di pantai Kuta

Makan malam hari pertama kami pilih di pantai Jimbaran yang terkenal dengan sea foodnya sambil memandang ke arah bandara melihat pesawat yang mendarat.  Berderet-deret rumah makan seafood  yang ada di sana, kami memilih tempat yang pernah didatangi suami ketika training di Bali, Melasti, sebuah restoran yang cukup ramai dibandingkan restoran di kiri kanannya. Pelayanan cepat meskipun banyak bule yang makan di sana. Sudah umum diketahui banyak yang lebih mengutamakan tamu orang asing  dibanding turis lokal.

Makanan yang  kami pesan ikan bakar, udang bakar dan cumi goreg tepung. Ada kejadian ketulangan di sini ketika makan ikan bakar. Karena suasana yang remang-remang  aku tak melihat ada tulang ikan yang masuk ke mulut, terjadilah kecelakaan itu, tak sengaja ada tulang  yang tersangkut di tenggorokan.

Bagaimana cara teman mengatasi bila ada kejadian seperti itu? Orang tuaku dulu mengepal nasi panas dan ditelan bulat-bulat sambil memutar piring.  Kuikuti cara ini tetapi lama juga masih terasa ada yang tersangkut. Petugas rumah makan bilang  caranya makan nasi kepal yang dibuat oleh orang yang lahir sungsang, sayang nya orang itu tak ada he.he…. (Dulu, pernah ada orang yang datang ke puskesmas dengan masalah seperti ini, tinggal dijepit saja tulang yang bandel  itu dengan pinset,  ketika giliranku yang terkena kok  malah kerepotan sendiri  he..he…).

Keesokan harinya dengan diantar teman kami mengarah ke Ubud dan Kintamani. Dalam perjalanan sempat mampir di Bird Park, tetapi kami tak masuk ke dalam hanya di bagian depan saja. Taman ini cukup luas, sehingga kami takut tak sempat mampir ke tempat-tempat wisata khas Bali, maka segera kami tinggalkan lokasi dan melanjutkan perjalanan.

Bali Bird Park

Tujuan kami adalah ke museum Antonio Blanco yang terkenal itu. Museum ini bergaya kombinasi bangunan Eropa dan Bali. Lahan y museum  cukup luas  dengan taman gaya Bali yang terawat apik.  Tiket masuk untuk turis lokal  sebesar Rp 30.000,- dan para tamu diberikan suguhan welcome drink  dengan sedotan yang cantik dihias janur.

Kami disambut oleh menantu pak Blanco  yang ramah dan cantik. Ibu ayu ini   sedang menyiapkan bahan-bahan untuk sembahyang di pura keluarga dan untuk hari raya Kuningan keesokan hari. Kami  diarahkan ke museum dulu.  Museum berlantai dua dan ada tangga ke atap untuk melihat pemandangan seluruh  Ubud yang berbukit-bukit. Pengunjung hanya boleh berfoto di pintu masuk museum yang ada lukisan wajah sang pelukis. Lukisan lainnya tak boleh difoto.

Almarhum Antonio Blanco adalah pelukis asal Spanyol yang datang ke Bali  berpuluh tahun lalu dan jatuh cinta dengan Bali. Beliau lalu   memutuskan menetap di pulau cantik ini dan membentuk keluarga dengan seorang wanita Bali di Ubud.  Pak Blanco terkenal dengan satu gaya melukis yang menonjolkan keindahan wanita.

Keluar dari museum ada studio lukis tempat putranya, Mario Blanco, yang kini meneruskan merawat museum. Lukisan yang dijual hanya karya Mario Blanco, sedangkan karya ayahnya hanya untuk koleksi keluarga.

bergaya belajar melukis di Museum Antonio Blanco, Ubud

Dengan Ny Mario Blanco yang cantik dan ramah

Selain melukis ternyata Mario Blanco  penangkar burung yang serius. Di kompleks museum ini beberapa    kandang burung  jalak Bali yang langka. Sangkar-sangkar ini diletakkan  di dekat pintu masuk museum dan berbagai jenis burung lainnya di bagian samping.

Keseriusan Mario Blanco menangkar burung yang terancam punah ini terlihat dari majalah  di ruang itu yang mengisahkan kegiatannya  itu. Sudah banyak burung Jalak Bali yang berhasil dikembang-biakkan.

bersambung

Iklan

51 thoughts on “Jalan-jalan Ke Bali (satu)

  1. liburan ke bali berkata:

    Pastikan juga membaca informasi-informasi penting seputar Bali, Peta Bali, informasi tempat makan/restoran murah, tempat hiburan, daftar cafe di Bali, informasi tiket pesawat ke Bali dan informasi penting lainnya agar liburan ke Bali menjadi sangat menyenangkan.

  2. mintarsih28 berkata:

    kecelakaan ketelan duri, ibu menjewr kuping dg ditarik ke atas dan samping. punggung ditepuk tepuk mbak monda. tentu makan dan minum juga untuk mendorong duri yang tersakut.

    bali memang oke ya mbak tetapi budaya kita adil itu selalu dinomor sekiankan atas nama orang yang kita anggap lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s