Jalan-jalan ke Bali (dua)

Setelah cuci mata di  Museum Antonio Blanco,  kami lanjutkan perjalanan ke arah utara menuju ke   dataran tinggi. Sebetulnya di Ubud banyak wisata budaya lain seperti  Neka Art Museum. Untuk  penggemar olahraga ada wisata trekking dan bersepeda  di perbukitan sekitar Ubud, rafting di sungai. Seandainya saja  bisa  ikut  semua kegiatan tersebut.

Jalan raya di Bali sungguh mulus. Bisa  dilihat jalan di Cempuhan, lokasinya selepas Ubud, hampir-hampir tak ada jalan berlubang. Selain itu  petunjuk jalan pun lengkap, dan banyak jalan alternatif. Penduduk setempat pun bisa dengan  menjelaskan ditel  lokasi ketika  kita menanyakan jalan. Mereka pun bisa memberi informasi alternatif jalan terbaik.

Contohnya seperti ibu penjaga warung di Bedugul ketika kami bertanya jalan ke Tanah Lot, Hanya kendalanya adalah  kadang-kadang agak susah menangkap ucapan yang kental dengan dialek Balinya. Berkali-kali kami bertanya untuk meyakinkan meskipun ada peta, tak pernah ada yang tak tahu arah.

Obyek wisatapun demikian, hanya sepenggal sawah berundak di lereng bukit di desa Tegalalang sudah terdata di buku dan brosur wisata (slideshow). Betul-betul wilayah yang sangat siap menyambut wisatawan.

Cempuhan

Ke utara kami menuju ke Kintamani yang di sepanjang jalan banyak ditemui kebun jeruk tak berpagar. Lumayang banget  bisa mampir sejenak  numpang narsis. Di Kintamani ini dapat terlihat gunung dan danau  Batur, udaranya tentu saja sejuk.

Dari Kintamani  perjalanan kami lanjutkan  ke selatan melihat rumah-rumah tradisional. Rumah cantik itu bisa dilihat di tulisan  dengan judul  Numbers at Desa Wisata Penglipuran .

Desa wisata adat Penglipuran ini letaknya di wilayah kabupaten Bangli.  Jika mau  blusukan kita bisa bertanya ke petugas loket rumah mana yang mendapat giliran untuk dimasuki. Tapi,  kok kami sungkan  merasa takut menganggu  privasi mereka.  Jadi  kami tak  lakukan. Karena teringat dulu kami merasa tak nyaman ketika halaman rumah orang tua  kami di daerah sering dipakai untuk berfoto turis lokal, meskipun sudah kami beri ijin he..he..

Kedatangan kami berlibur di pulau Bali  bertepatan dengan perayaan hari raya Kuningan. Suasana di setiap tempat terlihat  sangat meriah, rumah-rumah penduduk setempat  dihiasi penjor. Selama dalam perjalanan kami  banyak bertemu dengan   penduduk lokal yang berpakaian adat. Para pria memakai baju jas putih dan kain, para wanita memakai kain kebaya dengan selendang kecil melilit pinggang. Mereka  membawa sesaji dan  berangkat sembahyang ke pura. Pemandangan  seperti ini kami lihat  antara lain di pura  Tanah Lot.

Keesokan harinya kami pergi ke Bedugul yang  berhawa sejuk. Di sini ada  dua danau, danau Bratan dan danau Buyan. Lalu perjalanan  dilanjutkan dengan ke Tanah Lot.

Sebagai penggemar durian, tentu saja mampir sejenak menghampiri duren yang melambai-lambai minta disantap. Jalan menuju pura  Tanah Lot ini melewati desa-desa yang asri. Pemandangan cantik ini membuatku  tak bosan menyetir  ketika giliranku tiba. Mobil  bisa berjalan perlahan menikmati pemandangan desa yang asri berhias penjor  dari janur yang melengkung di sepanjang jalan.

Perjalanan di Bali hari itu  ditutup dengan kunjungan ke Garuda Wisnu Kencana  dan Dreamland, sepotong pantai yang berpasir halus lembut dan ombak besar yang bergulung indah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

44 thoughts on “Jalan-jalan ke Bali (dua)

  1. erny berkata:

    bila ada yang mw ke bali butuh hotel serta akomodasi lainnya bisa hub saya di 081547226606 saya akan berikan harga terjangkau unt anda semua

  2. Lyliana Thia berkata:

    Rumahnya orang Bali emang bagus2 ya Mbak Monda…
    Banyak bunga2 aneka warna…
    Apalagi di tempat asalnya yah… ditambah sedang perayaan Kuningan…
    di Jakarta aja ada rumahnya orang Bali yang bunganya warna warni itu..
    pingin foto tapi takut..
    wong rumahnya dipagarin trus dikunci.. hihihi ^_^

  3. tutinonka berkata:

    Masyarakat Bali memang paling siap menyambut wisatawan. Mereka sadar betul bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada wisata. Keramahan, pelayanan yang tulus, sudah mendarah daging …

    Mbak Monda nyetir di Bali? Waah … asyik banget 🙂 .

    Ngiler lihat jeruk-jeruk ranum yang dipetik Mbak Mon …

  4. DV berkata:

    Saya suka Bali daerah tengah seperti yang Ibu tuliskan: Ubud, Kintamani, dlsb…
    Menurutku, daerah itu masih cukup asli dan asri dibanding daerah selatan seperti Kuta yang sudah tak ada bedanya dengan kota-kota pantai di Australia sini…

    Saya sendiri tak terlalu suka daerah Bali utara…

    • monda berkata:

      oh ya sama mas, makanya tak semua pantai terkenal kami datangi, terlalu bule
      daerah tengah memang lebih indah dan sejuk lagi ya…

  5. nh18 berkata:

    ahaaa … sudah dibuka komennya sekarang …

    I just wanna say …
    Object wisata yang dipilih kak monda … pilihan paten …

    salam saya Kak

  6. niQue berkata:

    kakak niy, kirain komen nya baru mo dibuka klo ceritanya dah kelar hehehe

    terus kak ceritanya, aku mo catetin, biar klo pas ke bali udah g bingung nyari2 tempat yg mo didatengin *tiket sudah di tangan hehehe*

    • monda berkata:

      rupanya kotak komen nggak kecentang, jadinya komen tertutup ya, sorry
      sayangnya cuma sebentar ya di sana, tak banyak juga yang dilihat
      cari buku petunjuk Nik, nanti deh kutambahin lagi biarpun sedikit ceritanya ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s