Jalan-jalan Bali (tiga) : hewan endemik Bali

Senang tak terkira ketika masuk ke halaman Museum Antonio Blanco menemukan sangkar burung yang diisi dengan beberapa  burung berbulu  putih mulus.  Kutebak burung itu adalah jalak Bali seperti pernah kulihat di media cetak. Burung endemik  Bali (hanya ada di Bali) ini di alam  nyaris punah. Kulihat keterangan di bawahnya, ternyata benar, burung inilah burung Jalak Bali yang terkenal itu. Ini pertama kali kulihat, tak apalah walaupun hanya di sangkar bukan di alamnya.

Ada cerita lucu yang membuatku tak melupakan si Jalak Bali ini. Pada suatu ketika aku ditelfon untuk seleksi sebuah  acara. Untuk menjadi pesertanya aku harus menjawab  beberapa pertanyaan. Si penelfon menanyakan nama burung endemik Bali yang nyaris punah. Ketika kujawab Jalak Bali, dia bilang salah, jawaban yang benar adalah Curik Bali. Kusangka betul ada burung lain, tetapi ternyata keduanya adalah burung yang sama.

 

Jalak Bali atau Curik Bali, Rothschild’s Myna (Leucopsar rothschildi) , burung berkicau yang hanya ditemukan di hutan Bali Barat. Bulunya putih,  warna hitam hanya di ujung ekor dan sayap dan pipi berwarna biru.  Besarnya kira-kira 25 cm.  Penampilan cantiknya ternyata membawa kemalangan, Jalak Bali menjadi incaran kolektor sehingga ditangkap dari alamnya, selain karena rusaknya hutan yang menyebabkan populasinya cepat menyusut dan terancam punah.

Jalak Bali (Wikipedia)

Menurut mas Alamendah di Buleleng telah berdiri pusat penangkaran sejak 1995, demikian juga di seluruh dunia. Satwa ini oleh pemerintah dilindungi undang-undang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Jalak Bali merupakan satwa yang dilarang diperdagangkan kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga (indukan bukan dari alam).

Ada lagi hewan  endemik Bali yang punya nama terkenal, anjing Kintamani.  Kurasa hewan yang kulihat di Desa Adat Penglipuran, Bangli adalah jenis ini, betulkah?. Jenis anjing ini telah diakui sebagai anjing trah asli Indonesia. Yang telah diakui oleh  Perkin, Persatuan Kinologi Indonesia (The All Indonesian Kennel Club) adalah yang berwarna putih spesifik yang memilik ciri khas bulu gumba, yaitu bulu pada punggung yang lebat dan panjang, dan bulu badong, bulu pada leher yang lebat sampai ke punggung dan menyatu dengan bulu gumba.

Sejak ditetapkan sebagai anjing trah asli Indonesia, maka Anjing Kintamani-Bali telah dapat mengikuti berbagai pameran kinologi yang diselenggarakan oleh Perkin. Saat ini sedang diupayakan agar anjing Kintamani mendapat pengakuan internasional. Dari seluruh anjing ras yang diakui secara internasional, belum ada satupun yang merupakan anjing ras asli Indonesia.Pengakuan sebagai anjing trah asli dari Indonesia hanya dapat diberikan oleh FCI, Federation Cynologyque Internationale, sebuah organisasi internasional yang berwenang membuat daftar anjing-anjing ras dunia, yang berpusat di Belgia.

(sumber :  dari sini )

Iklan

42 thoughts on “Jalan-jalan Bali (tiga) : hewan endemik Bali

  1. Ikkyu_san berkata:

    wah foto jalak bali yang di wikipedia itu keren ya.
    Nah ini dia akhirnya aku tahu anjing trah asli Indonesia. Anjing kintamani ya?
    Ada yang lainnya ngga ya? Nanti deh gugling lagi

    EM

  2. Elsa berkata:

    aku pernah juga ke museum antonio blanco itu
    tempatnya super keren ya Mbak…
    bikin betah pengunjungnya gitu
    mau tuh aku tinggal disana…
    hehehee

  3. krismariana berkata:

    dulu waktu berkunjung ke bali, saya pernah lihat anjing kintamani. lalu oleh guide kami diberitahu bahwa anjing itu dijaga agar tidak sampai keluar dari bali. tapi saya ragu, mungkinkah bisa spt itu? saya pikir, menarik juga kalau ada anjing ras asli indonesia. dan anjing kintamani itu bagus menurut saya. lucu hehe. *lha wong saya suka anjing… anjing apa aja jadi lucu*

  4. Lyliana Thia berkata:

    suami piara burung Jalak Mbak.. tapi aku nggak tau itu Jalak Bali atau bukan…
    warnanya hitam… berarti bukan yah?
    mengingat populasinya menurun akibat penangkapan burung Jalak, aku jd merasa bersalah… aku sebenernya nggak terlalu setuju sih dgn hobi burung ini… kan kasiaaan >.<

    OOT, Mbak Monda, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan utk Mbak Monda dan keluarga… mohon maaf lahir batin yah Mbak..

  5. Ifan Jayadi berkata:

    Senang banget mbak bisa wisata ke bali. Tentu menjadi sesuatu yang amat menyenangkan karena bisa menyaksikan secara langsung keeksotisan pulau dewata ini. Apalagi bisa melihat satwa endemik sana yaitu burung jalak bali yang sepertinya semakin langka ya dan harus terus dilestarikan 🙂

  6. NEW BURUNG HANTU berkata:

    Burungnya kecil, lucu, imut, dan bikin gemes aja. Sayang dah nyaris punah. Ah, itulah manusia, lihat yang cantik dikit langsung sikat tanpa memikirkan akibat…

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  7. lozz akbar berkata:

    ada satu lagi yang endemik dari Bali nih Tante tapi sudah punah, yaitu harimau Bali.. sayang ya kita enggak bisa lagi melihat si raja rimba hutan pulau dewata..

    semoga jalak Bali atau satwa-satwa nusantara lainnya tidak ikutan punah seperti halnya harimau Bali

  8. Kakaakin berkata:

    Kumplit bener reportasenya, Mbak. Sampai hewan endemik juga ada postingan tersendiri. 🙂
    Dulu om saya miara burung ini, Mbak. Gak tau kalo ternyata dilindugi. Tapi sekarang sih udah raib, dicolong orang.

    • monda berkata:

      yang dilindungi memang dari alam,
      tapi kalau sudah sampai ke tangan kolektor bagaimana ya taunya itu dari alam atau hasil penangkaran

  9. bundadontworry berkata:

    inilah khas nya tulisan Mbak Monda yg aku sangat suka,
    selalu berisikan cerita yang sangat jelas komplit dgn foto2nya 🙂
    kapan ya aku bisa nulis kayak gini, bisa menyimpulkan apa yg dilihat , hingga jadi tulisan yg menarik dan enak dibaca , serta sekaligus menambah wawasan bagi yg baca 🙂
    salut Mbak 🙂
    salam

  10. DV berkata:

    Saya malah belum pernah lihat jalak bali.. kalau Anjing Kintamani saya suka karena jenisnya mereka memang beda dari anjing-anjing kampung (hasil kawin campur).

  11. Cahya berkata:

    Hmm…, seperti saya tidak begitu yakin, tapi gambar yang terakhir itu rasanya anjing kampung biasa yang kebetulan berwarna putih dan bukan anjing Kintamani.

  12. arman berkata:

    berarti si yang bikin acara itu geblek juga dong ya. masa punya pertanyaan tapi jawabannya gak tau kalo ada nama lainnya…. 😛

  13. Susindra berkata:

    Senang ya mbak bisa jalan-jalan.
    Pernah baca tentang burung Jalak Bali tapi baru lihat penampakannya sekarang. Imuuuttt……
    pantes saja jadi incaran para kolektor burung.

  14. mama-nya Kinan berkata:

    Pertamax yah bun..
    waduh bun..sejak peristiwa musibah dari motor kemarin *baca; menghindari anjing yang lari menabrak motor kami…* saya jadi semakin ngeri melihat binatang ini….di Bali bersliweran yah bun sama kayak di Bintan sini….saya ingat waktu di ubud..duduk dibalai untuk bertanya tanya dengan responden pas penelitian….eh tiba tiba waktu mengok kebelakang, dibelakang saya sudah ada duduk anjing berwana gelap besar…pas persis dibelakang saya..gimana saya nggak langsung *girap girap* kaget sangat bahasa jawanya…hiks….

    • monda berkata:

      pasti kaget banget ya sampai girap-girap he..he..dapat lagi kata baru
      hati2 lagi deh di jalan ya mbak
      ditandain aja daerah yang sering keliaran hewan, pelan2 aja jalannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s