Tumbilotohe dan buku coretan

Beberapa hari lalu ketika jalan-jalan ke blog sahabat, (jalan-jalan yang agak tersendat belakangan ini )  tertumbuk pada artikel tentang kebudayan di  Batavusqu yang berjudul Tumbilotohe.

Rasanya kata ini tak asing di telinga.  Setelah dibaca barulah teringat memang sudah pernah kukenal kata ini sebelumnya. Dari sini langsung berseliweran ide dan kenangan, kumatikan kompi dan beristirahat. Kebiasaanku kalau ada ide hinggap memang begitu, kebiasaan seorang amatiran, mengendapkan dulu dan menerawang ingatan yang  coba kukumpulkan satu demi satu, dan inilah hasilnya.

Seperti dikatakan di artikel itu, tumbilotohe adalah kebiasaan masyarakat Gorontalo memasang obor atau penerangan di malam hari saat 3 hari terakhir malam Ramadhan untuk menerangi acara pembagian zakat fitrah. Dari cerita itu ada 2 kejadian yang berkaitan denganku.

Pertama, tentang penerangan. Dahulu, di masa kanak-kanakku beberapa malam sebelum  1 Syawal kami sudah menginap di rumah Opung di Medan. Di sanalah ada acara pasang lilin, tanteku sudah membelikannya sebelum kedatangan kami. Kami memasang lilin-lilin kecil di teras, di sepanjang bagian depan rumah sampai di bibir kolam ikan. Malam menjadi semakin meriah, apalagi melihat ke kiri kanan rumah tetanggapun  terang karena cahaya  lilin-lilin kecil. Aku tak tahu apa maksud pemasangan lilin ini, apakah  bermakna seperti di Gorontalo ? Selain itu dulupun ada acara taptu, bawa obor keliling sambil takbiran.

Yang kedua, berkaitan dengan buku coretan. Setelah bertempat tinggal di Sorong yang kala itu masih sepi aku sering cari kegiatan sendiri. Pulang sekolah sekitar jam 1 tak ada kegiatan les atau bermain dengan teman, karena kami tinggal di kompleks baru yang rumahnyapun baru 6 buah, hiburan hanya ke perpustakaan 2 kali seminggu atau olahraga,  acara televisi baru ada jam 9 malam, sehingga banyak waktu luang, maka aku menyibukkan diri dengan membuat klipping apa saja, antara  lain klipping foto atau berita orang-orang terkenal dan mencatat keterangan apa saja yang kuanggap penting di sebuah buku coretan, buku bekas agenda. Tumbilotohe  dan acara minta hujan di Lombok, Tarung Perisean , termasuk salah satu info yang tercatat di sana .

Kegiatan ini masih kulakukan sampai tahn 2006, karena merasa ingatan semakin lama semakin memudar, walaupun tak rutin masih ada data tambahan sedikit demi sedikit, supaya tak cepat lupa.  Maka,  selesai membaca artikel di Batavusqu itu, segera kucari lagi bukunya, hanya tinggal satu buku terakhir, ternyata banyak hal yang sudah tak kuingat lagi.

Untuk sedikit menyegarkan ingatan  kutampilkan beberapa info dari sana yang bertepatan dengan hari Pramuka, tanggal 14 Agustus kemarin,  ada catatan  berkaitan dengan kepramukaan, yaitu penemuan Morse tahun 1843 oleh Samuel Morse, dan semaphore oleh Claude  Chappe, Perancis, 1794.  Selamat Hari Pramuka untuk yang pernah dan masih menjdai anggota Pramuka.

Ada asal kata bus, dari bahasa Latin omnibus, artinya untuk semua orang. Info lainnya ada tentang olahraga, ada tentang  julukan  The Iceman, The Doctor, julukan bagi  kesebelasan internasional  dan lain-lain.

Award dari bang Isro  yang lama tertunda pemasangannya, karena menunggu momen yang pas kutampilkan di sini. Terima kasih bang,  maaf terlambat, dan  bagi teman yang ingin memboyongnya dipersilahkan.

Iklan

41 thoughts on “Tumbilotohe dan buku coretan

  1. Ikkyu_san berkata:

    senang sekali membaca mbak Monda mencatat sampai tahun 2006. Coba itu dibukukan, google aja kalah pasti (yakin saya pasti ada yang tercecer di google). Atau mbak Monda ikut bikin wikipedia Indonesia deh 🙂

    EM

  2. Ely Meyer berkata:

    saya malah baru ttg Tumbilotohe 🙂 ….. kalo terbiasa sampe thn 2006 nyatet apa saja pasti buanyaaak sekali info2 menarik yg bisa jadi bahan tulisan nih 😉

  3. Allisa Yustica Krones berkata:

    Karena saya lahir dan besar di Manado, jadi lumayan tau juga dengan tradisi Gorontalo ini, bun, soalnya Manado dan Gorontalo kan tetanggaan, hehehe…

    Saya takjub dengan buku saktinya, jaman dulu belum ada internet sih ya bun, jadi ngandelin catatan pribadi 😀

  4. aan berkata:

    wah dapat ilmu baru nih tentang tumbilotohe…Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi. tapi sayang kebiasaan-kebiasaan yang unik seperti ini sudah mulai ditinggalkan :)…

  5. Kakaakin berkata:

    Saya jadi ingat… Waktu saya kecil dulu, ada juga tetangga saya yang menyalakan lampu dari minyak goreng dan diletakkan di depan rumah dalam bulan Ramadhan. Entah apa maksudnya. Tapi hanya satu rumah saja yang saya lihat seperti itu 🙂
    Wah.. Mbak Monda punya buku ‘sakti’ ya… Biasanya sih dosen nyaranin mahasiswa supaya punya buku coretan seperti itu, untuk mencatat hal2 penting/tak dipahami, terutama saat sedang praktik. Sayang banget saya tak bertahan lama dengan buku coretan, malas nulisnya 😳

  6. bundadontworry berkata:

    paliiiing suka, kalau BuMon udah nulis yg khas kayak gini
    lengkap sak lengkap2 nya 🙂
    hampir sama dgn laporan jalan2nya , yg juga selalu lengkap 🙂
    terimakasih ya BuMon telah berbagi hal2 yg bermanfaat disini 🙂
    salam

  7. Batavusqu berkata:

    Salam Takzim
    Bahagia rasanya hati saya bunda monda atas tampilnya award batavusqu ini, semoga terus bisa terjalin ya bund. Tumbilotohe begitu indah walau kapanpun semoga tradisi ini terus dipertahankan
    SALAM takzim Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s