Abit Sumbayang

Perkenalan dengan sarung Samarinda terjadi berbelas tahun lalu ketika kami tinggal di Kalimantan Timur. Ketika berwisata ke Samarinda tentu saja tak dilewatkan oleh orang tuaku untuk membeli sarung Samarinda yang terkenal itu. Kabarnya sarung ini ditenun oleh warga perantau keturunan Bugis yang melanjutkan tradisi menenun sarung dari daerah asalnya.

Sarung selalu berperan penting dalam keseharian kami. Seingatku setiap kali akan pulang kampung mamaku selalu mengajak berbelanja kain sarung berlusin-lusin dan sarung itu dibungkus satu persatu. Bila kemudian  ada kerabat yang datang berkunjung, oleh-oleh dari kami adalah kain sarung itu. Sarung selalu jadi salah satu unsur penting di acara adat maupun pregaulan. Sarung yang sederhana bahkan lebih berharga daripada uang segepok yang akan cepat habis, karena sarung akan dipakai sebagai alat untuk beribadah sholat. Dalam bahasa kami disebut abit sumbayang (kain sembahyang).

acara adat

Tumpukan kado kain sarung di latar depan, dalam sebuah acara adat

Sarung memang paling sering dipakai untuk bersembahyang atau sholat. Saya sendiri lebih suka memakai sarung sebagai bawahan mukena, karena sarung bisa terikat kuat dan tak takut kedodoran bila terinjak seperti bawahan mukena yang biasanya berkaret di pinggang itu.

Cara pakai sarung untuk sholat antara pria dan wanita berbeda. Sarung sholat wanita cukup disimpul mati di pinggang, sedangkan pria memakainya dengan cara menggulung (sampai sekarang saya tak cakap mengenakan sarung cara pria). Selain itu ada lagi cara khas memakai sarung seperti  Abang Betawi mengalungkan kain sarungnya di leher, kaum pria Melayu memakai sarungnya dilipat dua dan digulung dan dipakai melapisi celana panjangnya, Si Kabayan menyelempangkan sarungnya di bahu dan anak-anak memakai sarung untuk bermain hantu-hantuan, wanita di desa  mengenakannya sebagai kain basahan ketika mandi di pancuran. Dan satu lagi cara khas memakai sarung untuk mengusir hawa dingin di kampungku yang terletak di kaki gunung. Anak muda di sana sore hari suka berkumpul di pinggir jalan, mereka berjongkok dengan kain sarung itu dibuka lebar dan dipakai menutupi seluruh badan sampai kepala, hanya wajah yang terlihat. Itulah yang disebut margobak dalam bahasa daerahku.

“Tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin”.

Iklan

36 thoughts on “Abit Sumbayang

  1. bintangtimur berkata:

    Eh, saya malah sebaliknya, lebih senang mengenakan bawahan mukena yang berkaret pinggang…

    Tapi ngomong-ngomong, istilah ini baru saya dengar lo mbak, uniknya adat istiadat di negara kita tercermin dari posting ini…keren!

  2. edratna berkata:

    Baru tahu istilah abit sumbahyang…

    Sarung Samarinda, yang terasa dingin, nyaman untuk sholat, serta kita sholatnya juga lebih khusuk karena tak kawatir terinjak. Juga bagus untuk dipakai bawahan, dipadu padankan dengan blouse atau kebaya warna polos.

  3. muamdisini berkata:

    halo mba..lama tak bersua..
    oh begitu yah cara pakai sarung antara pria dan wanita..
    dulu saya diajarkan ibu pakai sarung diikat simpul…hehehehe
    ternyata begitu untuk wanita yah…

    salam

  4. Mechta berkata:

    Sama mbak, aku juga lebih suka pake sarung sebagai bawahan mukena 🙂 Oya, untuk anak2 ada cara lain pakai sarung yaitu di kenakan di wajah / kepala ala ninja, hehe…

  5. dmilano berkata:

    Saleum,
    Wah sarung samarinda memang nyaman dipake, saya dan keluarga sering pake…. abisnya tenunannya kuat dan rapih.
    kalau kain dalam bahasa acehnya disebut dengan ija, dan kain sarung disebut dengan ija krung, hehehe…..
    saleum dmilano

  6. nh18 berkata:

    Satu lagi cara memakai sarung …
    saya menyebutnya cara abang-abang tukang ikan

    Sarung diikat sedemikian rupa … dibuat tali pinggang

    Salam saya Kak
    Semoga sukses di perhelatan Kakaakin

  7. Pendar Bintang berkata:

    Konpn katanya kalau anak perempuan sering diselimutin sarung bapaknya anak itu akan nempel terus sama si bapak ya? he he he

    Soalnya saya dulu hobby selibutan pake sarung, karena bisa masukke dalamnya gitu 🙂

  8. niee berkata:

    Bener deh bun.. aku juga lebih suka sholat pake sarung drpada karet gt.. lebih aman.. kalau di pontianak itu terkenalnya corak ingsa… ada sarungnya juga..

    Mudah2an giveawaynya menang yak bun 🙂

  9. Kakaakin berkata:

    Jadi ingat waktu kecilan dulu sering mandi di sungai pake sarung. Sarung diikat di salah satu bahu. Kemudian saya loncat dari jembatan sambil sarung agak dimekarkan. Jadilah sarung menggembung dan saya mengapung beberapa saat 😀

    Terima kasih telah ‘Berbagi Cerita Tentang sarung’.
    Sudah saya catat sebagai peserta 🙂

  10. vizon berkata:

    Sarung memang serba guna ya Kak..
    Banyak hal yang kita lakukan menggunakan sarung. Bahkan, maling pun menutupi wajahnya dengan sarung atau membungkus hasil jarahannya pakai sarung, haha…

    Semoga menang ya Kak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s