Mengapa Takut Mencoba Lauk Unik ?

Dahulu, aku tak suka gulai kepala ikan, dahulu aku juga tak suka kembang pepaya, dahulu aku juga tak mau mencoba tempoyak, dahulu aku tak mau makan pempek. Tapi kini?

Gulai ikan sejak lama sering disajikan jika ada kumpul-kumpul keluarga di rumah orang tuaku. Kepala ikan selalu jadi rebutan para tanteku. Sempat heran, apa ya enaknya makan kepala ikan? Tapi suatu saat papanya anak-anak membawa Gulai Kepala Ikan dari sebuah restoran Medan yang terkenal di Jakarta  ini. Masa berani menolak oleh-oleh suami?  Alamak, coba sedikit langsung tergiur tak mau berhenti,  karena daging di bagian kepala itu terasa lebih empuk dan lebih menyerap bumbu. Pantaslah harganya mahal.

Bertahun-tahun tinggal di beberapa propinsi di Sumatera bagian Selatan sudah pasti menemukan masakan khas dari daerah itu. Salah satunya tempoyak, yaitu daging buah durian yang diasamkan. Tak pernah mau kumencobanya, meskipun sangat suka dengan buah durian segar. Bahkan ketika mudik ke rumah mertua, keluarga suami sangat  suka nyeruit, memakan ikan dicocol sambal  yang dicampur dengan tempoyak, tetap saja tak ada minat mencicipi. Tetapi, lebaran kemarin kakak ipar membuat pepes ikan patin dicampur tempoyak. Iseng, kucolek sedikit, ternyata lezat banget ….., rasa asam bercampur dengan pedas , luar biasa, tak terlupakan. Sayang tak sempat difoto he..he… .

Pempek juga dulu sempat lama tak mau kumakan. Gara-garanya ketika kecil (usia SD) saat aku sedang sakit, aku tak kuat mencium aroma cuko pempek yang dimasak di rumah, sejak itu aku antipati terhadap pempek. Ketika tinggal di Sumsel yang gudangnya pempekpun aku tak mau memakannya. Baru ketika sudah hampir tamat kuliah berani kucoba lagi, dan sangat suka sampai sekarang.

Sewaktu mudik Lebaran lalu  walaupun hanya 2 hari, kami sempat bersilaturahmi ke rumah kerabat. Dari sana kami dioleh-olehi kembang pepaya. Kembang pepaya ini dari pepaya jantan, dan jarang juga dijumpai. Di Medan banyak yang menjualnya dan sering juga dijadikan oleh-oleh  kerabat yang pulang dari Medan (di Jakarta sangat jarang yang menjual) dan dimasak dengan tauco, lagi-lagi aku tak mau mencoba karena  membayangkan rasa pahitnya.

Pertama kali kucoba tauco kembang pepaya  itupun karena setengah dipaksa oleh mama untuk dibawa pulang ke rumahku sendiri karena takut mubazir saking banyaknya. Ketika dicoba di rumah ternyata enak dan lezat lho, tak terasa pahitnya. Pengalaman kedua makan lauk kembang pepaya karena oleh-oleh dari mudik itu dibawa ke rumah mama, dan langsung disuruh masak karena kalau sudah layu jadi tidak enak lagi.

bunga pepaya jantan

Siapa yang memasak kembang pepaya itu ? Yah, mau tak mau yang bawa harus bertanggung jawablah. Dengan dipandu oleh ibunda tercinta disiapkan bahan-bahan yang tersedia di kulkas. Sempat bingung juga karena tak ada bahan pelengkapnya, biasanya untuk memasak sayuran pahit seperti daun pepaya dan daun singkong kami memakai rimbang atau disebut juga cempokak (jenis terong-terongan) yang bisa menghilangkan rasa pahit, tauco juga tak ada. Tak hilang akal mama menyuruh memasukkan terong telunjuk dan pucuk daun jambu klutuk sebagai pengganti rimbang. Kembang pepaya setelah dipotong diremas dengan garam yang cukup banyak untuk menghilangkan getahnya baru kemudian dicuci lalu direbus setengah matang kemudian ditumis. Bumbu tumisan sama saja seperti tumis sayur lainnya. Dan inilah hasilnya, nikmat juga disantap bersama rendang.

tumis bunga pepaya

Iklan

69 thoughts on “Mengapa Takut Mencoba Lauk Unik ?

  1. krismariana berkata:

    wah aku baru tahu soal cempokak itu. terong telunjuk itu apa? hehe. ketahuan jarang masak nih 🙂

    kalau untuk masak daun pepaya atau bunga pepaya, aku biasanya pakai ampo (tanah liat yg sudah kering, biasa dijual di pasar).

    sepertinya enak ya. 🙂 kapan2 dimasakin boleh nih mbak monda 🙂

    • monda berkata:

      terong telunjuk itu jenis terong2an juga, warnanya hiaju muda agak putih, ukurannya ya segede telunjuk,
      dulu memang cuma ketemu di daerah Medan sana, tapi skrg di supermarket udah mulai banyak juga

      soal ampo itu malah aku baru tau… ada ya dijual di pasar..?
      dicemplungin aja gitu ke dalam masakan kita?

  2. Allisa Yustica Krones berkata:

    Kalo di manado, bunga pepaya ditumis bersama sayuran lain, misalnya kangkung bun, hasilnya sedap! Apalagi kalo dimakan sama ikan tude goreng dengan dabu-dabu sebagai pelengkapnya…hoaaaahhh…itu nikmatnya tak terkira, hehe… Duh, jadi lapeeerrr deh 😀

  3. Lyliana Thia berkata:

    Wah enak tuh mbak oseng2 bunga pepaya… yummm…

    kalo aku… belum berani cicipi durian… nggak ku kuuu… >.<
    hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s