Batikkan harimu – Batik Sepanjang Masa

Batik sudah akrab  dengan diriku sejak kanak-kanak, karena main gendong anak-anakan dengan selendang batik punya mama.  Koleksi  mama yang berupa kain panjang dilengkapi dengan selendang itu menjadi korban kenakalan anak-anaknya yang belum mengerti nilai sebuah kain. Untuk bermain boneka kami mengambil selendang batik  dari lemari, bukan hanya satu tetapi lebih.  Tentu saja  kami kena marah, tetapi akhirnya mama membolehkan kami memakai selendang itu  untuk menggendong boneka, tentu dipilihnya selendang yang biasa-biasa  saja.

Kenangan yang sangat membekas di masa kecil tentang batik adalah saat mama mengeluarkan koleksi kain batik panjangnya untuk diangin-anginkan atau dicuci.  Di waktu itu memakai kain batik tadisional berwiron  ( lipatan-lipatan kecil di bagian depan kain ) dan kebaya  dengan kutu baru (model kebaya tradisional yang sering dipakai almarhumah ibu Tien Soeharto) sedang menjadi mode. Aku suka sekali melihat proses pencucian batik dengan biji lerak, sejenis tumbuhan dengan nama ilmiah Sapindus rarak De Candole atau  S. mukorossi .  Menurut Wikipedia pohon lerak itu bisa mencapai tinggi 10 – 42 m, kekuatannya setara dengan jati, sehingga banyak ditebang karena bernilai ekonomis.

Seingatku setelah dicuci  batik kemudian diangin-anginkan, dijemur di tempat teduh, kemudian  diasapi  dengan ratus memakai anglo, dan setelah kering disimpan dengan menyelipkan akar wangi di lipatan kain  yang menjadikan kain beraroma khas sekali. Kain  batik tulis biasanya yang dapat perlakuan istimewa ini, karena pengerjaannya memang lama dan pewarnaannya memakai bahan alami sehingga cara membersihkannyapun harus hati-hati agar warnanya tetap awet. Kain-kain batik yang dirawat dengan telaten itu sekarang masih ada  dan ada beberapa yang  sudah diberikan kepadaku, dengan kondisi dan warna yang masih sangat baik.

Sewaktu aku SMP mama mencoba berbisnis kain batik, bekerja sama dengan salah seorang temannya yang  mengirimkan batik dari Jogja dan Solo, dan kemudian dijual kembali ke ibu-ibu di kompleks. Karena  mamaku berdagang batik, sudah pasti anaknyapun didandani dengan batik. Jadi sejak kecil  aku sudah berbatik untuk baju main atau kondangan.  Kebiasaan berbusana batik itu terus berlanjut sampai kuliah, kali ini mama membeli batik dari temannya asal Cirebon dan Madura.  Waktu itu tak ada rasa malu memakai batik ke mana-mana walaupun remaja seusiaku belum banyak yang memakai batik karena ada omongan batik itu untuk orang tua, tetapi mama memilihkan warna cerah seperti merah dan motif yang cocok dipakai remaja. Selain  dari daerah-daerah itu akupun pernah memiliki batik Jambi dan  Kalimantan Timur oleh-oleh perjalanan dinas orang tua.

Daerah-daerah penghasil batik itu sudah tentu mempunyai motif-motifnya sendiri yang menjadi ciri khas setiap daerah.  Motif itupun tak hanya tradisional atau motif kuno berusia ratusan tahun yang banyak filsafahnya, tetapi juga berkembang sesuai daerah tempat tinggal karena terjadi akulturasi budaya seperti motif yang dipengaruhi kebudayaan China seperti megamendung dari  Cirebon,  motif burung hong atau phoenix , atau motif kilin. Begitu pula pengaruh budaya Arab terlihat pada batik besurek Bengkulu yang berhiaskan huruf Arab, pengaruh budaya Belanda terlihat pada batik dengan motif buketan (rangkaian bunga). Kini, di daerah yang dulu tak mengenal tradisi membatik  seperti di Papua dikembangkan batik dengan motif yang digali dari tradisi setempat.

Kedua foto di atas adalah kain batik bermotif China yang kuambil di Pameran Akulturasi Cina Indonesia. Sedangkan foto bawah motif batik besurek dari Bengkulu koleksi pribadi. Untuk motif pengaruh Belanda bisa dilihat di  artikel batik Indonesia di sini,  kain batik warisan dari almarhumah Opungku.

batik besurek

“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Batikkan Harimu yang diselenggarakan Nia, Puteri dan Orin

Iklan

50 thoughts on “Batikkan harimu – Batik Sepanjang Masa

    • monda berkata:

      mau pajang foto lama nggak punya scanner sendiri Nchie,

      scanning di tempat lain masnya nggak mau langsung delete arsipnya, ntar2 aja katanya
      malesin kan takut diapa2in he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s