Kurban Kenangan

Pengalaman berkesan tentang hari raya kurban yaitu kualami sewaktu masih kanak-kanak . Ketika itu kami pulang kampung ke Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumateta Utara, kampung halaman tempat kelahiran papaku. Orang tuaku sengaja hendak berkurban di sana.

Sesudah shalat Ied, acara penyembelihan sapi dan kambing dilaksanakan di halaman medjid. Satu persatu nama yang berkurban dipanggil untuk menyaksikan kurbannya disembelih. Halaman masjid dipenuhi saudara-saudara sekampung, terutama anak-anak yang sangat antusias, termasuk diriku. Aku yang semula takut akhirnya memberanikan diri menyaksikan sejak hewan kurban diikat keempat kakinya dan dijatuhkan lalu disembelih.

Acara pemotongan daging segera dilakukan. Seingatku daging yang telah dipotong-potong dimasak bersama, masih di halaman masjid, kali ini berpindah dekat pancuran. Para ibu meracik bumbu dan kaum bapak membantu menyiapkan tungku besar dan kayu bakar karena wajannyapun besar sekali. Bapak-bapakpun ikut membantu mengaduk gulai sampai matang dengan sutil raksasa.

Setelah matang semua warga kampung dipanggil untuk duduk di dalam masjid. Di sana sudah disediakan piring, gelas berisi air dan kobokan untuk cuci tangan. Masing-masing duduk bersila menghadapi piring, orang tua maupun anak-anak. Kemudian datang seorang bapak membawa bakul nasi dan membagikan nasi banyak sekali, nasi diciduk dengan piring besar, sampai piring penuh nasi menggunung. Bapak berikutnya datang membawa ember berisi gulai daging dan membagikan 2 sampai 3 potong daging yang sangat besar, seukuran kepalan orang dewasa. Mengambil lauk dengan gelas belimbing. Tentu saja aku terkaget melihat nasi dan daging yang melimpah ruah dan tak berani memakannya, karena pasti tak akan habis.

Kakek di sebelahku menegur
“Tak habis ya cu? Kasih kakek saja ya”
Maka berpindahlah 2 potong daging kambing dan sebagian besar nasiku ke piring beliau. Kulihat beliau makan dengan lahapnya, sementara aku dan adik-adik makan dengan perlahan , masih merasa shock dengan porsi makan tiap orang. Ternyata anak-anak lainpun diberi porsi sama dengan orang dewasa. Dan semuanya habis, kecuali kami kakak beradik he..he..

Pengalamam berkurban di kampun ini sangat berkesan bagiku dan adik-adik, dan masih terus dibicarakan, bahkan sampai siang tadi.

Iklan

34 thoughts on “Kurban Kenangan

  1. bintangtimur berkata:

    Hehehehe, kebayang gimana makanan disana dihidangkan, selain pernah bertahun-tahun tinggal di Sumatera Utara, saya juga pernah nyobain daging yang diambil langsung dari ember itu… 😀

  2. Asti berkata:

    Kalau di kampungku tak ada acara masak bareng di masjid. Hewan kurban yang sudah selesai disembelih, dibagi-bagikan. Jadi pada masak sendiri-sendiri di rumah masing-masing.

  3. Lyliana Thia berkata:

    Waktu anak2 Bunda dan adek2 susah makan yaa? kok yg lain habis Bunda nggak? hehehe…
    terbawa suasana kali ya… vania jg kalo suasana lg rame bs makan banyak banget, tp sehari2 makan sepiring nasi sekali sehari udah alhamdulillah… hehehe..

  4. Orin berkata:

    Hadeuuuh…kebayang betapa horornya sepiring nasi porsi orang dewasa dan 3 potong daging besar2 itu Bun, bacanya aja jd kenyang hihihihi

  5. Nchie berkata:

    Hmm biasanya di tempatku,
    bapak2 yang motongin
    emak2nya yang masak,ntar siang makan bareng,botram..
    setiap tahun pasti begitu..

    Hmm stok daging numpuk..

  6. Ely Meyer berkata:

    besar juga ya mbak kalau sekepal tangan org dewasa dagingnya 2 – 3 potong lagi

    aku dulu paling nggak bisa makan daging, sejak melihat kerbau milik ortu yg akan dipotong menangis malamnya 😦

  7. ded berkata:

    Pengalaman yang sangat mengesankan, saya khawatir jangan-jangan kebiasaan seperti itu sudah hilang dari kehidupan masyarakat saat ini………… 🙂

  8. zoothera berkata:

    hiksss… tahun ini gak bisa ikutan kurba.. 😥
    Tapi malu deh, masa ga ikutan kurban, tadi pagi ketua komplek dateng ke rumah nganterin jatah daging sapi hasil kurban orang-orang di komplek rumah.. *malu malu tapi mau eheheh*

  9. monda berkata:

    Di perumahan kami juga begitu, semua dibagi sekantong, padahal nggak kurban di situ. Bahkan ketika kami pergi, udah ada sekantong daging digantung di pagar.

    Mungkin karena banysknya yang berkurban, sedangkan duafanya sedikit. Jadi kami juga memutuskan kurban di tempat lain saja daripada mubazir

  10. Mama Kinan berkata:

    sama bun…hari raya dikampung selalu jadi kenangan dengan suka dan dukanya..:)
    Happy Ied mubarok yah bun..selamat idul Adha semoga semangat dan hikmah hari raya qurban selalu ada dihati kita ..dan semoga allah memberikan kita kesehatan dan umur panjang sehingga bisa bertemu dengan hari raya idul qurban tahun depan *amien..insyallah..

  11. jarwadi berkata:

    hehehe, pengalaman hari korban yang mungkin tak terlupakan adalah ketika aku masih SD. pada saat itu jumlah korban masih sedikit. hanya dua ekor kambing. belum banyak seperti sekarang.

    saat itu aku khawatir ngga kebagian daging kurban. aku kepingin sekali. karena daging masih sesuatu yang mewah dan tidak bisa memakannya tiap hari 🙂

    ini ceritaku. 🙂

  12. bundadontworry berkata:

    wuih, asik ya BuMon kenangan makan bersama di mesjid seperti itu ….keren banget …
    krn kayaknya sekarang dah mulai berkurang merayakan hari qurban dgn makan besar bersama2 seperti itu
    kebanyakan daging qurban dibagikan, dibawa pulang, dan dimasak dirumah masing2….
    salam

  13. Mabruri Sirampog berkata:

    eeh,, ada acara makan bersamanya juga ya bun,,
    kalau di tempat saya ga ada,, dibagi semua ke warga.. 😀

    Untuk si kakek2 itu memintanya ya bun, jadi ga mubadzir makananya ga habis.

  14. Ann berkata:

    Beberapa tahun yang lalu kita pernah dikasih daging kambing sama tetangga dan kita gak tahu mau dimasak apa kebetulan kita gak begitu suka kambing.
    Tapi yang bikin bingung kenapa dibagiin ke kita ya yang masih mampu

  15. LJ berkata:

    aih nostalgia karoban di masojid Sipirok.. 😛

    disini juga begitu kak, ada bagian daging kambing yang dimasak gulai untuk makan siang bersama warga kampung dan para petugas kurban. Lauknya cuman itu aja sama sayur acar timun.

    oya aku sejak kecil klo makan porsinya sama dgn porsi dewasa.. tandas!

  16. Imelda berkata:

    mbak, tanya dong ngga takut ya lihat penyembelihan begitu? Apa ngga ada pengaruh pada perkembangan kejiwaan anak? Apa anak-anak diperbolehkan lihat?
    Aku sampai sekarang belum pernah melihat penyembelhan hewan besar. Kalau ayam dan ikan sih OK dan bisa juga sendiri, tapi hewan besar…ngeri. (emang penakut sih hihihi)

    Pernah baca tulisan seseorang vegetarian: ‎”Dari membunuh hewan ke membunuh manusia, tinggal satu langkah saja”. Leo Tolstoi. “Sejak mengunjungi rumah potong, aku berhenti makan daging”. Vincent van Gogh. “Kita hidup dari kematian pihak lain. Kita ini kuburan hidup”. Leonardo da Vinci. “Akau tak memakan apa yang berwajah”. Paul MCCartney. Aku bukan vegetarian dan untung belum pernah mengunjungi rumah potong.

    • monda berkata:

      anak-anakku memang tak mau melihatnya
      tapi untukku sendiri sih tidak pengaruh ya, kaena kita tau kan menyembelih hewan itu kan ada hukumnya, dan tata cara penyembelihan yang halal menurut agama
      hewan tidak boleh tersiksa, dan harus menyembelih tanpa menyakiti

  17. alamendah berkata:

    jamansaya kecil pun hampir sama, Bun. Sehabis penyembelihan pasti ada daging yang dimasak kemudian dimakan ramai-ramai. Klau sekarang sudah gak lagi, gak pada sempet ngumpul2 terlalu lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s