Dua Pertanyaan

Di tengah kesibukan akhir bulan dan akhir tahun yang padat, waktu rasanya sangat berharga untuk menyelesaikan pekerjaan yang mendekati waktu tenggat. Laporan bulanan dan semua SPJ harus  disetor sebelum tutup tahun, karena tugas kami tak hanya melayani tapi juga administrasi.

Ada   seseorang dari lintas sektor yang datang, tampaknya tak mengerti kesibukan tuan rumah, padahal di hadapannya banyak  berkas berserakan. Si ibu terus saja berbicara. Obrolannya  bukan hal penting tetapi tak jauh dari membicarakan orang lain, hari seperti ini tak ada waktulah . Sudah diberi tanda-tanda dia tetap tak mengerti. Temanku tak kurang akal, diambilnya sebungkus botol vaksin bekas dan menghitungnya sambil   dipilah-pilah dan  membuangnya di tempat sampah medis di depan si ibu sambil ngobrol.

“Ini baru pulang dari lapangan, alat-alat  ini musti dibereskan dulu dan persiapan untuk turun lagi besok”

Rupanya si ibu baru dong dan pamit pulang. Jika teman  menghadapi tamu seperti itu, apa yang biasanya dilakukan?

Kejadian di tempat kerja memang sering tak diduga.  Masih di hari yang sama seorang teman menghampiriku.

“Bu, ada keluarga pasien baru melahirkan minta tolong satpam kita untuk mengazankan bayinya”

Di dekat  kami memang ada sebuah klinik bersalin swasta. Teus terang saya kaget karena tak pernah mengira akan ada kejadian seperti ini.  Bapak si bayi tidak ada dan di klinik itupun sedang tak ada petugas pria. Mau tanya teman lain yang lebih senior semuanya sedang ke luar.

Kupikir daripada  bayi tak diazankan, tak apalah orang lain yang melakukan. Sayangnya, sampai di tempat, ada pasien lain  yang menyatakan tak boleh dan hanya bapak si bayi yang berhak.

Satpam kami akhirnya pergi, karena keluarga si bayipun bingung  tak tahu apa yang harus dilakukan.

Sebaiknya bagaimana ya?

Melirik pak de Cholik  minta bantuan.

Iklan

44 thoughts on “Dua Pertanyaan

  1. vizon berkata:

    Waduh… Maaf banget kak Monda…
    Saya baru baca pertanyaan Kak Monda di surau inyiak. Semenjak postingan terakhir dipublis, saya gak sempat lagi nengok-nengok blog…

    Alhamdulillah, Pakde Cholik sudah menjawabnya di komentar di atas. Dan insya Allah jawaban saya pun seperti itu.

    Jadi, mengadzankan itu memang sunnah hukumnya, yakni sebaiknya dikerjakan, jika tidak juga tidak apa-apa. Dan yang terbaik memang ayahnya. Karena, secara psikologi itu akan memberi kedekatan anak dengan ayah. Suara terbaik yang pertama kali didengar oleh anak seharusnya adalah suara ayahnya. Dan kalimat yang dibisikkanpun haruslah kalimat terbaik, dan azan adalah kalimat terbaik…

    Jika sang ayah tidak ada, maka boleh dilakukan oleh lelaki lain, atau muslim lain yang ada di dekat situ. Saya pun pernah mengadzankan seorang bayi yang bapaknya sedang di luar kota dan ketika itu saya tengah menemani adik saya yang dirawat..

    Sekali lagi, mohon maaf ya Kak atas keterlambatan jawabannya 🙂

    • monda berkata:

      Uda, terima kasih banyak ya
      masalah yang seperti ini tak pernah saya perkirakan sebelumnya,
      alhamdulillah dapat ilmu baru dari Uda dan pak de, jadi lain kali tak ragu2 lagi

  2. Ely Meyer berkata:

    kalau soal org yg masih ngajak ngobrol sedang saya lagi sibuk melayani murid saat itu banyak mbak, sudah dibilang lagi sibuk dan nyata nyata melihat langsung saya lagi sibuk juga nggak mempan, mereka masih tetap saja pengen ngobrol, biasanya ya saya biarkan saja mereka duduk di ruang tamu sekaligus perpustakaan berbaur sama murid yang pada akhirnya pamit pulang krn nggak ada lagi yg bisa diajak ngobrol.

    untuk tamu yang bandel nggak mau pulang dan pengennya ngobrol terus sampai semua kelas usai, biasanya saya langsung bilang saya ada acara dgn sahabat saya, walaupun sebenarnya nggak ada acara sebelumnya, bukan bohong sih karena saat itu juga saya langsung bikin acara mendadak keluar rumah dengan sahabat saya, krn kalau tidak mereka akan bertamu sampai malam, hal yang sangat tidak saya sukai karena saya saat itu tinggal sendirian di rumah.

  3. kakaakin berkata:

    Hmm… selama kerja di puskesmas, rasanya saya belum pernah nemu ibu muslim inpartu yang gak ada suaminya sih, Mbak. Mungkin ada baiknya jika hal ini diperjelas lagi ke Pak Ustadz ya…

  4. Sya berkata:

    Yang pertama; kalau ada yang begitu, biasanya saya bilang terus terang tapi dengan sopan, biar ga tersinggung.
    Yang kedua; ketika sepupu saya lahir yg adzanin ayah saya karena sepupu saya itu bapaknya bule dan baru muallaf. Kalau menurut saya sih ketika keadaannya seperti itu, ga harus bapaknya, bisa-bisa ga diadzanin dong.Tapi kalau masalah hukumnya saya kurang paham juga.

  5. dhila13 berkata:

    hmm… kasian keluarga si bayi..
    bayi manis, semoga ketika besar dirimu menjadi seseorang yang saleh tak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain ya 🙂

  6. tunsa berkata:

    wahh,,,ini nih yang sensitip. kalo soal ibadah perlu adanya dalil yang shahih. bukan serta merta pendapat pribadi 😀
    kaidah asal hukum suatu ibadah adalah haram, sampai adanya dalil yang membolehkan atau memerintahkan. sebaliknya, dalam bermuamalah asal hukumnya boleh, sampai adanya dalil yang melarang.
    salam

  7. chocoVanilla berkata:

    Pertama, saya orangnya tergolong gak enakan. Maka kalo ada yang bertengger di depan meja saya selagi sibuk, biasanya saya tetap konsen ke komputer sambil sesekali komen “hmm, ooo, mmm, ha? ooo” hehehehe, padahal gak dengerin :mrgreen: Lama-lama juga dia tau kao saya gak dengerin 😛

    Kedua, mungkin ibunya juga boleh ya, BuMon, daripada gak sama sekali 😀 Tapi lebih baik bertanya pada yang berwenang saja 🙂

  8. Lyliana Thia berkata:

    kalau kejadian pertama, selama ini aku blm ngalamin si Bun, atau lupa pernah atau nggak.. hehehe… tapi aku suka nggak enakan… yah bingung juga.. tergantung yg berbicara mgkn ya.. klo junior langsung dijelaskan saja… tp klo senior… ng…

    makanya enakan praktek swasta BUn.. hihihi..

    kalau masalah kedua, aku kurang mengerti Bun…

  9. edratna berkata:

    Waduhh pertanyaan pertama memang sulit, dan paling menyebalkan kalau orang datang ke tempat orang yang lagi kerja hanya untuk mengobrol. Kalau di beri tanda tak tahu, biasanya saya langsung mengatakan, “maaf ya saya sambil kerja….karena sudah ditunggu laporannya.” Kalau tetap nggak ngerti, ya saya tetap aja kerja dan mendengarkan obrolannya.

    Tentang azan, pak De lebih tepat untuk menjawab nya

  10. zee berkata:

    Kalau yang pertama, misalnya saya sdg sibuk, saya cut saja, kan bisa lanjut sehabis beres semua.
    Kalau yang kedua, saya tak begitu paham sih. Tapi seperti kata Pakde, seharusnya ibunya juga bisa sebagai pengganti..

  11. nique berkata:

    pertanyaan no.1 itu, klo orangnya ga enakan, emang susah kak.
    beda klo kyk aku ini, klo lagi sibuk aja,terus ada yg nelpon, belum sempat dia ngomong HALO pun sudah kutembak langsung “Tolong ya nanti aja nelponnya, lagi sibuk berat, klo penting sekali, sms aja!” klik langsung ku matikan tanpa ba bi bu .
    klo orangnya muncul di depan mata, sama aja, langsung ku bilang kek gitu, “sorry ya, ntar aja ngerumpinye, kaga liat apa nih meja udah kayak kapal pecah.” terserah deh dia mo kesal atau marah, tapi biasanya sih yang udah kenal ngerti, dan bisa nerima hehehe yang penting terus terang.

  12. Clara Croft berkata:

    Xixi, kalo di kantor kuping saya sumpel dengan earphone kalo lagi sibuk Bu, jadi yang mau ajak obrol ga penting juga tau kalo saya sedang sibuk. Kalo saya udah siap2 pasang lagi itu earphone, biasanya sih mereka ngerti, mudah-mudahan sih, itu pikiran saya..

  13. Mood berkata:

    Baru tau kalo adzan untuk bayi yang baru lahir adalah sunah, thank’s buat info dari Pak De.

    Agak sulit memang ya Bu kalo ada tamu / orang yang datang pada waktu yang tepat, sudah gitu rumpi juga orangnya. Jadi serba salah melayaninya.

    Salam.. .

  14. Evi berkata:

    Untuk pertanyaan ke-2, semoga sekarang bayinya sudah di adzan kan yah? Jangan sampai hanya gara-gara soal siapa yg berhak, telinga si bayi tak kunjung didengarkan adzan..

    • monda berkata:

      Gandi, sori link kamu saya hapus ,
      tak usah menyertakan link karena di namamu sudah langsung ada linknya

      ada teman yang blognya disuspend wp karena meninggalkan link di mana2, jadi jangan pakai cara itu

      saya punya blog lain yang khusus menyimpan link teman, nanti akan saya masukkan ke sana

  15. nh18 berkata:

    Jika demikian …
    Ya … tak lain dan tak bukan … tunggu Bapaknya ?

    Apakah tidak ada keluarga yang lain ?
    Pamannya … Kakaknya ?

    Kita tanya uda Vizon aja yuk Kak …
    Mungkin beliau punya pandangan …

    Salam saya

      • nh18 berkata:

        Untuk pertanyaan Pertama …
        mmmm … kalau saya …
        Saya akan berujar … “Sori Bro … saya sambi sambil beres-beres ya … ada target dead line sih … nggak papa ya …”

        Atau sindiran halus … You are welcome to stay … but it would be nicer if you can leave me alone for a while … I got a job to do”

        hahaha

        salam saya Kak

  16. prih berkata:

    mohon ijin ikut menikmati ajuan alternatif solusi teman2 ya eda tuk sampaikan prioritas kegiatan di saat sibuk secara apik dan tepat, jadi diperkaya wawasan nih. Salam

  17. Imelda berkata:

    yang paling tidak bisa diusir itu kalau bertandang ke rumah. Sering aku mengundang teman ke rumah untuk makan siang, dan mereka tinggal sampai makan malam. 😦
    Atau pernah ada yang tiba-tiba datang ke rumah, pas aku sedang siap-siap mau berangkat. Dia tau loh bahwa aku sibuk, jadi ya aku siap-siap bebenah tinggalin dia dgn anak-anak aja. apa boleh buat 😦

  18. anna berkata:

    kalo soal yang bayi itu saya nggak bisa jawab mbak Monda.. di luar pengetahuan saya..
    tapi kalo soal yang kita lagi sibuk dan ada orang ngajakin ngobrol itu… emang kitanya yang harus bisa jujur tapi halus bilang kalo kita lagi sibuk…

    biasanya saya bilang, “etapinya aku sambi kerja ya… ”

    ato kalo udah keterlaluan saya nggak nanggapin aja ceritanya.. trus bilang, “sori gak konsen dengerin, lagi konsen ngerjain kerjaan…” gitu mbak…

  19. Pakde Cholik berkata:

    Dua jawaban untuk dua pertanyaan

    1. Itulah orang kita, datang ketempat orang kerja untuk ngobrol. Sayapun sering mengalami hal tsb. Kalau teman dekat memang agak sungkan mengusirnya.
    Ketika (dulu) masih menjabat ada tiga cara yang saya lakukan jika saya akan mengerjakan sesuatu yang sifatnya”penting dan segera”

    – Lampu merah yang saya pasang diatas pintu masuk saya nyalakan. Itu artinya saya sedang menyelesaikan surat2,dll.
    – Saya pesan kepada spri bhw saya tidak menerima tamu kecuali :ini, itu (biasanya atasan langsung saya)
    – Setelah 5 menit tamu tak diundang itu duduk, Spri saya minta untuk tilpun saya bahwa saya harus rapat ( ini bohongan-memang tidak bagus sih). Lalu saya pura-pura menyiapkan buku catatan dan map) lalu bilang kepada si tamu ” maaf saya mau rapat di Gedung S.Parman “. Si Tamu hengkang, saya masuk kamar, duduk sebentar lalu ke meja kerja lagi melanjutkan kegiatan.

    2. Adzan ditelinga bayi yang baru lahir adalah sunnah.
    Adzan ini dikandung maksud agar pertama kali yang didengar oleh bayi adalah kalimat tauhid. Yang adzan memang sebaiknya orangtuanya.
    Salah satu hadits tentang adzan untuk anak yang baru dilahirkan sbb.

    Diriwayatkan leh Abi Rafi‘ bahwa Nabi SAW mengazani telinga al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah ra. (HR Abu Daud, At-Tirmizy dengan sanad shahih).

    Namun jika tidak ada siapa-siapa, ibunya atau muslim yang ada disitu bisa adzan untuk si bayi. Ini menurut pendapat saya pribadi yang belum tentu benar. Wallahu ‘alam

    Salam hangat dari Surabaya

  20. gadisjeruk berkata:

    waduh.. untuk masalah yang pertama, kadang emang bikin kesel yaa..
    udah di #kode #kode malah ada aja yang gak sadar. hahaha :))

    untuk yang kedua, waduh saya gak tau.. mungkin nanti kalau sudah punya anak bisa tau rasanya #lho

  21. LJ berkata:

    kasian ya kak, berarti saat melahirkan itu gak ada satupun keluarga lelaki yang menunggui..

    **klo gitu sebaiknya Pakde yang mengazankan 🙂

  22. niee berkata:

    Waaahhh masak gak boleh sama org lain seh mbak? kan ntar terlalu lama bayinya gak diadzanin kasian.. menurut aku seh lebih cepat lebih baik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s